PBNU Soroti Terbelahnya Anggota OKI & Belum Kompaknya OKI

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siroj, menyebut negara-negara Islam atau negara yang mayoritas penduduknya Islam yang ada di dunia belum kompak .

Lanjut Said Aqil Siroj memaparkan perihal kasus Yerusalem, PBNU menyayangkan keterbelahan sikap negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI (organisasi konferensi Islam) saat merespons manuver AS terkait dengan penetapan Yerusalem sebagai ibu kota Israel menandakan lemahnya solidaritas akibat kurangnya dialog dan kerja sama.

Dalam menyikapi hal itu, menurutnya, setiap negara Islam maupun yang mayoritas penduduknya umat Islam yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI) tidak dapat mengambil langkah yang sama. Walaupun mereka kini telah menyatakan menentang pernyataan Donald Trump yang menganggap Yerusalem sebagai ibukota Israel.

“Keterbelahan sikap negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI, dalam merespon manuver AS terkait penetapan Yerusalem sebagai ibukota Israel, menandakan lemahnya solidaritas akibat kurangnya dialog,”Ungkap Said Aqil Siroj

“Karena itu, PBNU mengimbau negara-negara yang tergabung dalam OKI lebih intensif menjalin dialog dan kerja sama agar solid dalam merespons isu-isu kemanusiaan yang membutuhkan kebulatan sikap dan solidaritas,” ujar Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam acara Muhasabah 2017 dan Resolusi Kebangsaan 2018, Rabu (03/01/2018) di Kantor PBNU Jakarta.

Said Aqil Siroj berharap mereka bisa lebih terbuka satu sama lain dan bisa intensif menjalin dialog serta kerjasama.

Dengan demikian permasalahan di negara-negara anggota OKI, lebih mungkin untuk diselesaikan.Ujar Said Aqil Siroj

Dalam kesempatan yang sama PBNU juga menyoroti tragedi Rohignya mengingatkan perlunya penguatan nation-state berbasis kewargaan (civic nationalism), bukan sentimen etnis yang membuat suku mayoritas merasa berhak mendominasi atau bahkan menyingkirkan etnis minoritas.

Kenyataan bahwa semua nation-state di dunia terdiri dari banyak suku bangsa, termasuk Indonesia, mengajarkan perlunya penguatan prinsip persamaan, kesetaraan, dan keadilan bagi semua warga negara tanpa diskriminasi SARA.

“Prinsip ini ada di dalam Pancasila, tetapi mulai diabaikan bahkan diingkari oleh kelompok yang dengan enteng men-thagut-kan Pancasila,” tegas Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini.

Negara modern seperti Spanyol, imbuhnya, masih didera isu etnonasionalisme Catalonia, tetapi Indonesia telah berhasil melewati masa-masa genting itu di awal-awal reformasi. Ini tidak lepas dari peran Pancasila sebagai kalimatun sawa atau common denominator yang menjembatani berbagai agama, suku, golongan, dan kepercayaan.

“Kejadian-kejadian di dunia menjadi cermin agar bangsa Indonesia bersyukur mempunyai Pancasila yang harus terus dijaga, dilestarikan, dan diamalkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” Papar Said Aqil Siroj.

“PBNU Jakarta. PBNU juga mengapresiasi pemerintah Indonesia yang bisa tanggap merespon permasalahan-permasalahan yang ada sepanjang tahun 2017.Mulai dari Indonesia yang bisa cepat menentukan sikap terhadap pernyataan Donald Trump, hingga Indonesia yang bisa cepat menginisiasi penyelesaian konflik Rohingya.”tandas Said Aqil Siroj.

More Stories
Asuransi Jasindo Syariah Launching Website dengan Tampilan Baru