AASI : Industri Syariah Perlu Adanya Diferensiasi Produk Yang Beragam Jenis Dan tepat Guna Bagi Masyarakat

Sinergis yang terjadi diantara berbagai lembaga keuangan syariah dengan lembaga kajian dinilai menjadi jalan bagi asuransi syariah untuk terus berkembang.

Pasalnya, riset yang masih minim perihal produk asuransi Syariah, menjadi kendala sulitnya asuransi Syariah untuk dapat bersaing dengan asuransi konvensional.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Ahmad Sya’roni menyadari, dalam industri asuransi syariah perlu adanya diferensiasi produk yang sesuai Syariah dan juga beragam jenis, hingga tepat guna bagi masyarakat.

“Produk yang ada selama ini hanya copy-paste dari asuransi konvensional. Semua ini harus didukung riset, dan juga membutuhkan biaya. Kami pun belum memiliki sumber daya manusia yang memadai untuk itu,” tuturnya dalam konferensi pers Pengurus (AASI) yang digelar di Menara 165, Jakarta Selatan, Kamis (22/03/2018).

Ahmad mengakui, di tahun- tahun sebelumnya, belum terjadi hubungan yang erat antara berbagai lembaga keuangan syariah dan lembaga kajian. “Dengan melakukan pergerakan bersama seperti ini, kami yakin asuransi syariah bisa memberikan kontribusi lebih ditahun-tahun mendatang,” imbuhnya.

Ahmad lanjut menjelaskan, “Bahwa begitu pentingnya riset termasuk riset pasar agar produk-produk Syariah bisa diterima dengan baik. Ia memberikan contoh kendala konkrit pada produk Si Bijak, Si Abang, dan AsuransiKu, yang merupakan hasil kerjasama antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementrian Koperasi dan UKM, Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), dan Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AASI).”

Menurutnya, ketiga produk ini yang dirancang khusus dengan premi kecil dirasa kurang berjalan dibanding dengan produk mikro yang dikeluarkan oleh masing-masing perusahaan. Ia merasa, strategi marketing juga menjadi masalah utama dari kurang berjalannya produk ini.

“Perlu dicari kumpulan calon perserta yang memiliki prospek, supaya tidak melakukan kegiatan pemasaran secara personal dan marketing cost tidak membengkak. Strategi marketing harus sesuai dengan karakteristik produk, sehingga premi yang dibayarkan sebanding dengan biaya pemasaran,” ujngkapnya kepada awak media.

OJK sebagai pionir program, sebenarnya tidak tinggal diam melihat kendala ini. Sya’roni bilang OJK memiliki tim yang membawahi asuransi mikro baik konvensional maupun syariah. Tim ini berperan dalam menyusun materi sosialisasi, mempermudah dalam pembuatan produk, serta memfasilitasi sosialisasi.Tapi ia menilai, akan lebih baik jika OJK juga dapat membantu untuk mengarahkan serta mendistribukan produk ke komunitas yang tepat.

“Dari segi literasi, semua sisi penggerak ekonomi syariah juga berupaya keras dalam melakukan penetrasi ke pasar yang sesuai dengan segmen-segmennya. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat yang dipercayakan ke perbankan syariah juga akan berimbas positif bagi dunia asuransi syariah” Tutupnya.

More Stories
Aksi massa IKB-UI
IKB UI Desak Hakim MK Tegakkan Keadilan