AASI : Pertumbuhan Aset Pada Tahun Ini Diperkirakan Mencapai 23-25%

AASI menetapkan target bagi perkembangan dunia perasuransian syariah di Indonesia, Dari segi aset, tahun ini pertumbuhannya diharapkan bisa mencapai kisaran 23-25%.

“Terlepas dari kondisi ekonomi yang sedang lesu. Asuransi syariah juga berpotensi untuk memberikan kontribusi yang lebih bagi total premi, diperkirakan akan terus tumbuh pada range 15%,” kata Ahmad Sya’roni.

“Merujuk kinerja di tahun 2017 kemarin, asuransi mampu memberikan kontribusi mencapai Rp 12 triliun. Angka ini peningkatan sebesar 13,85% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.Tidak hanya dari premi, tercatat ada peningkatan nilai aset sebesar 21,9%, dengan total nilai Rp 40,52 triliun dari Rp33,24 triliun pada tahun 2016,”Paparnya.

Sementara itu, nilai investasi ikut meningkat sebesar 21,83% dari Rp28,81 triliun menjadi Rp35,1 triliun. Kemudian pemberian manfaat (klaim) naik hanya sebesar 13,85% menjadi Rp4,95 triliun dari sebelumnya Rp4,33 triliun.

Dengan angka tersebut, lanjut Sya’roni, alhasil pangsa pasar asuransi syariah bila dibandingkan dengan industri perasuransian nasional berada di kisaran 5,04% untuk kontribusi (premi) dan 5,79% untuk asset.

Menurut Sya’roni, dengan porsi masih di kisaran 5%, angka tersebut memang relatif rendah dan belum signifikan untuk menopang perekonomian nasional secara makro.

“Angka tersebut juga menggambarkan peluang dan potensi besar yang masih dapat terus digali oleh para pelaku usaha,” ujar Sya’roni lagi.

Karena itu, jelas Sya’roni, AASI selaku wadah yang menjadi jembatan penghubung antara industri, regulator dan para pemangku kepentingan lainnya, akan turut mengambil peran penting dalam perkembangan industri ini.Pada tahun ini Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) berencana membentuk konsorsium baru pada kuartal III tahun ini, untuk memasarkan produk asuransi mikro syariah.

Diantara produk asuransi syariah yang mengalami kendala pemasaran adalah produk mikro yang dipasarkan oleh konsorsium. Kuartal III tahun ini, AASI berencana membentuk konsorsium baru untuk memasarkan produk asuransi mikro. Pembentukan konsorsium baru dilatarbelakangi oleh tidak maksimalnya pemasaran produk mikro oleh konsorsium yang lama.

Produk asuransi mikro syariah yang dipasarkan konsorsium bertajuk Si Bijak, dibentuk berdasarkan grand desain Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dirilis pada Oktober 2014. Pemasaran produk tersebut awalnya dipimpin oleh PT Jasindo Takaful sebagai ketua konsorsium. Namun, sejak Jasindo Takaful melakukan spin off pada 2 Mei 2016, anak perusahaan PT Asuransi Jasindo tersebut memilih menjadi anggota saja.

Keputusan tersebut diambil karena Jasindo Takaful memerlukan konsolidasi sebagai perusahaan full-pledge syariah baru.

Wakil Ketua Bidang Teknik dan Mikro AASI Bimo Kustoro mengatakan pihaknya memerlukan dukungan dari regulator untuk memasarkan produk asuransi mikro. Selama ini, Otoritas Jasa Keungan (OJK), menurut Bimo, hanya mewadahi proses formulasi produk mikro dan sosialisasi.

“Di sini yang miss adalah peran OJK untuk turut memasarkan,” ujarnya.

Bimo mencontohkan, upaya intervensi pemasaran produk mikro oleh regulator dapat dimulai dengan menggerakkan komunitas-komunitas di tingkat akar rumput. “Contohnya masuk ke komunitas petani, diwajbkan koperasi untuk membeli asuransi itu, misalnya. Jadi regulasi-regulasi seperti itu yang harus dilakukan sebetulnya,” ujarnya.

More Stories
Jakarta Islamic Index Terbaru
Inilah 7 Saham Syariah Terbaru di DES!