Serangan teroris di Thamrin Jakarta, beberapa bulan lalu.

Ada 104 Definisi Terorisme

Di setiap negara, definisi teroris berbeda-beda, cenderung dengan kontek politik dan budaya.

Pakar Terorisme Herry Susetyo mengatakan, Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia sangat sering memberikan bantuan kemanusiaan.Seperti Dompet Dhuafa (DD), banyak memberikan bantuan tidak hanya ke Suriah, Somalia, Myanmar, Rohingya, Afghanistan, dan Bosnia. Bahkan, bantuan bencana alam, kelaparan, dan lainnya ke semua pelosok negeri dan luar negeri.

“Jadi bukan cuma sekali dan bukan kali ini, serta bukan cuma Dompet Dhuafa masih banyak lembaga kemanusiaan lainnya, seperti PKKPU, Rumah Zakat (RZ), Daruul Tauhid, dan Dompet Peduli Umat,” ujar Herry pada diskusi bertajuk ” Kriminilisasi Pengelolaan Dana Kemanusiaan di Indonesia”, di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI), Depok, Kamis (16/3).

Jadi tegas Herry, banyak sekali lembaga kemanusiaan Indonesia yang  berkontribusi untuk kemanusiaan tidak hanya di Indonesia, tapi ke seluruh dunia. Tapi belakangan mengalami tuduhan menyalurkan dana untuk bantuan terorisme.

“Nah ini masalahnya, karena pengertian teroris itu sampai sekarang tidak jelas. Ada sekitar 104 difinisi tentang terorisme, dan setiap negara berbeda satu dengan lainnya. Tidak ada kesepakatan definisi di PBB, difinisi di Perpu No.1 tahun 2002, difinisi persi Afrika. Semua berbeda-beda dan cenderung dengan konteks politik dan budaya di negaranya masing-masing,” ujar Herry.

Menurutnya, banyak definisi tapi semuanya itu dianggap kelompok tanpa menghilangkan unsur perorangan. Padahal banyak teroris yang hanya perorangan dan mungkin motifnya tidak semata-mata politik, juga ada teroris yang menggunakan negara sebagai terorisme.

Tapi sekarang ini, kata Herry,  cenderung dinisbatkan kelompok agamalah, terutama agama Islam.Padahal terorisme itu ada di semua agama, ada di setiap negara.Seperti kelompok Provisional Irish Republican Army (PIRA) di Irlandia, Revolutionary Armed Forces of Colombia, dan Tamil Eelam di Srilangka, susah untuk tidak dibilang sebagai terorisme.

“Jadi teroris itu ada di setiap suku, bangsa, negara, agama, dan kelompok. Dan tidak semua bermotif agama. Disebut Islamic Jihadis. Ini problem menyakitkan. Islamic Jihadis, seolah jihadis itu identik dengan teroris,” ujar Herry.

More Stories
Dua Saham Syariah Baru Masuk DES, Efek Perusahaan Mana Saja?