Ada yang Salah dengan Ekonomi Islam

Di kian bertumbuhnya keuangan Islam dunia, evaluasi terhadapnya justeru diperlukan.

Skala ekonomi keuangan dunia menurut Islamic Finance Development Report and IndicatorL 2017 dari Thomson Reuters tercatat Usd 2,2 Triliun.  Industri keuangan syariah telah menggapai seluruh dunia. “Keuangan Islam sudah tumbuh dan asasnya juga, sudah ada, tapi itu tidak berarti, tidak boleh mengevaluasi”, kata Prof. Dr. Muhammad Syukri Salleh, Center for Islamic Development Management Studies – Universiti Sains Malaysia kepada MySharing, dis ela-sela Diskusi Terbatas Center for Islamic Studies in Finance, Economics, and Development (CISFED) dengan topik “Islamic Paradigm of Economics & Development”, Selasa (6/2/2018).

Evaluasi diperlukan, karena menurut Profesor Syukri, supaya ekonomi Islam berkembang lebih mantap. “Untuk itu saya menilai ada tujuh hal yang dapat kita bermulai untuk melihat kembali ekonomi Islam. Saya merasa saat ini masalah yang sangat besar dalam ekonomi Islam kontemporer, adalah masalah pendekatan yang bersifat akomodatif dan modifikasi atas ekonomi konvensional”, kata Profesor Syukri menjelaskan.

Dalam presentasinya berjudul, What is Wrong with Contemporary Islamic Economics? Profesor Syukri mengidentifikasi tujuh sektor yang menyumbang pada sesutau yang salah itu, yaitu:

Pertama adalah Paradigma, menurutnya ekonomi Islam masih paradigmanya etno sentris ke Barat, khususnya di filosofinya. Ia mengatakan sebagai Western ethno-centric philosophical underpinning.

Kedua, adalah Asumsi, menurutnya asumsi kita masih kepada tak terbatasnya keinginan, sementara sumber daya terbatas. Ia menyebutnya Assumptions: Unlimited wants, Scarcity of resources?

Ketiga, Konsep, berkaitan dengan Paradigma, konsep yang dipakai oleh ekonomi Islam pun akhirnya bersifat etno sentris ke Barat. Profesor Syukri menyebutnya Concepts: Undefined western ethno-centric concepts.

Keempat, Cakupan, menurutnya ekonomi Islam masih terjebak pada cakupan yang satu dimensi, Scope: One-Dimensiona.

Kelima, Metodologi. Ini yang paling sering dikritik di dunia akademisi. Ekonomi Islam masih memakai metodologi riset konvensional. Ia menyebutnya, Methodology: Conventional Research Methodology.

Ekonomi Islam masih memakai metodologi riset konvensional Click To Tweet

Keenam, Tujuan Akhir. Ini sebenarnya yang berbeda dari ekonomi Islam, memiliki tujuan akhir yang lebih mulia, yaitu Falah. Ia menyebutnya sebagai Ultimate Aim: Al-Falah vs Mardhatillah

Ketujuh, Ekonomnya. Menurutnya para ahli ekonomi Islam atau Islamic Economists, masih terjebak pada dikotomi antara pengetahuan dan praktik. Ia menyebutnya, Islamic Economist: Knowledge-Practice Dichotomy.

 

Bersama Profesor Syukri, menjadi pembicara juga dalah Dr. Shereeza Binte Mohamed Saniff dari Islamic Development Management – Sultan Sharif Ali Islamic University, Brunei Darussalam.  Dr. Shereeza Binte Mohamed Saniff membawa presentasi berjudul Understanding Islamic-based Development.  

Menurutnya, pembangunan ekonomi dalam Islam memiliki lima karakteristik yang berbeda dengan pembangunan ekonomi konvensional. Lima kerakteristik yang juga membangun manusia dan jiwanya karena didasarkan pada ajaran Islam. Lima karakteristik itu itu adalah:

Pertama, Quantitative and Qualitative changes. Kedua, Comprehensive Characteristic: Integrates moral, spiritual and material aspects. Ketiga, Improvement of Welfare of Man. Keempat, Advancement of reorganisation and reorientation of entire economic and social systems, through spiritual upliftment, in accordance with Islamic teachings to accomplish man’s welfare. Kelima, Index is based on economic growth, equity in the distribution of income and wealth, as well as a healthy and congenial social environment of Islamic norms and values.

Baik presentasi Profesor Syukri maupun Dr. Shereeza bisa dilihat di video di atas. Subscribe di channel MySharing untuk konten keuangan syariah dan gaya hidup halal.

More Stories
Mandiri Syariah Jalin Kerjasama PT Angkasa Pura Support