Akhir 2014, BI Targetkan Defisit Transaksi Berjalan 2,5 Persen

Sejak pertengahan 2013 perekonomian Indonesia dihadapkan pada kondisi yang kurang menguntungkan karena penurunan stimulus Amerika Serikat, penurunan harga komoditi utama, pengurangan subsidi BBM, dan membesarnya utang luar negeri sektor swasta. Hal tersebut pun turut memberi tekanan pada kondisi domestik. Dengan kondisi pemulihan ekonomi negara maju yang belum seragam serta masih menurunnya harga komoditas, maka membuat perlambatan aktivitas ekonomi di emerging market perlu dicermati.

gedungBIGubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo, mengatakan dampaknya ke perekonomian Indonesia sudah mulai terlihat. Pada triwulan I 2014 ekonomi melambat dengan hanya mampu tumbuh 5,22 persen. Di triwulan II pertumbuhan ekonomi sebesar 5,12 persen yoy, setelah sebelumnya dalam lima tahun terakhir tumbuh 5,9 persen per tahun. Rasio defisit neraca transaksi berjalan tercatat sebesar 4,27 persen, dibanding tahun lalu yang mencapai 4,4 persen.

“Di 2014 diperkirakan defisit masih ada di kisaran 3,2 persen. BI tidak apa asal masih sustainable paling tidak 2,5 perssen dari produk domestik bruto, tetapi kalau masih tinggi kita harus berupaya menyehatkan itu karena menjadi tanggung jawab bersama. Walau secara keseluruhan kondisi sistem keuangan masih dinilai normal dan defisit transaksi berjalan mulai menurun, kami memandang upaya yang selama ini dilaksanakan masih belum optimal,” katanya, dalam pembukaan Indonesia Banking Expo, Kamis (28/8).

Menurutnya, masih ada ruang cukup besar bagi pemerintah untuk melanjutkan dan mengakselerasi reformasi struktural. Agus memaparkan ada tiga hal yang menjadi prioritas yaitu reformasi fiskal terutama subsidi energi, mendorong investasi penanaman modal asing dan dalam negeri yang berorientasi ekspor dan kemudahan berusaha, serta penguatan ketahanan energi dan pangan. “Saat ini bukan masanya untuk mempertahankan industri padat karya, komoditi primer bersumber daya alam. Itu kekuatan di tahun 80an yang mengandalkan industri berteknologi rendah, buruh murah dan komoditas sumber daya alam. Sekarang Indonesia harus bertransformasi dan memberi nilai tambah bagi ekspor sumber daya alam,” cetusnya.

Agus melanjutkan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi 10 thn terakhir dengan saat ini pendapatan per kapita masyarakat Indonesia sebesar 3600 dolar menunjukkan bahwa jumlah masyarakat menengah di negara ini semakin meningkat. Di satu sisi hal tersebut menunjukkan kesejahteraan masyarakat semakin membaik, namun di sisi lain ini menimbulkan permasalahan baru ketika pertumbuhan kelas menengah tidak diimbangi kapasitas produksi dalam negeri.

Dampaknya akan terjadi kesenjangan ketersediaan produksi dalam negeri dengan kebutuhan masyarakat yang semakin beragam ditutup dengan impor. “Begitu banyak kita impor karena suplai dalam negeri tidak mampu merespon secara memadai. Ini juga masih ditambah dengan besarnya komponen impor dalam proses produksi dalam negeri. Maka dari itu, defisit neraca transaksi berjalan tidak mudah dilakukan dan belum menbawa hasil yang diharapkan,” tukas Agus.

Menurutnya, Indonesia akan terjebak dengan masyarakat berperpendapatan menengah jika tidak meningkatkan kualitas produksi, memprioritaskan industri substitusi impor, tidak optimal masuk dalam rantai distribusi, dan upaya peningkatan efisiensi perekonomian. “Kami berkeyakinan perbankan harus berperan aktif melalui fasilitas pembiayaan dan keuangan memadai bagi industri substitusi impor, industri berorientasi ekspor dan industri yang memberi nilai tambah tinggi bagi perekonomian. Perbankan juga diperlukan untuk pembangunan zona industri dan ekspor. Ini harus dilakukan secara efisien agar tidak memberi beban tambahan bagi perekonomian,” kata Agus.

More Stories
Sukses Di Era Gigital Belajar Coding bersama Markoding