Ibadah haji di akhir 1800-an Masehi. Foto: istimewa

Bahayanya Ibadah Haji bagi Penjajah

Dianggap berbahaya bagi kedudukan penjajah Belanda, karena melalui ibadah haji, benih-benih kebangkitan Nasional disemai.

Ibadah haji umat Islam Nusantara, bagi penjajah bisa berbahaya bagi posisi mereka. Bahkan Christiaan Snouck Hurgronje sendiri yang mengingatkan kepada Pemerintah Belanda tentang bahaya ini. Karena, saat ibadah haji, terjadilah pertemuan antarumat Islam dari selurh dunia. Pertemuan ini bisa menginspirasi kebangkitan umat Islam Nusantara.

Di masa kolonial Belanda, belum ada kementerian agama seperti sekarang. Yang mengurus haji adalah Belanda. Ketika sampai di Mekah, pengurusan jamaah diserahkan kepada orang Indonesia yang ada di Mekah. “Ketika kita berhaji ke Mekah itu ada interaksi, makanya oleh Christiaan Snouck Hurgronje, disebut, proses berhaji itu adalah proses yang berbahaya bagi Pemerintahan Belanda. Karena di situlah umat Islam bertemu. Snouck Hurgronje juga membahas bagaimana kelompok cendekiawan yang ada di Mekah yang sebetulnya menginspirasi perjuangan Indonesia”, kata M. Sya’roni Rofii, Ph.D., Ketua Rumah Perdamaian Sekolah Kajian Stratejik & Global Universitas Indonesia (SKSG UI) dalam Diskusi dan Bedah Buku: Jejak Islam di Nusantara, Selasa (10/9) di Ruang Seminar Lantai 3, Gedung IASTH, UI Salemba, Jakarta.

Menurut ahli soal Turki Utsmani ini, bahkan pendiri dua ormas Islam terbesar saat ini, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadyah berguru ke banyak ulama di Mekah, sebelum kemudian mendirikan dua ormas tersebut dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.

“Bagaimana pendiri NU, pendiri Muhammadyah belajar di Mekah lalu membawanya ke Indonesia. Haji itu sejatinya, kalau kita bicara pan Islamisme, di situlah pan Islamisme, karena pertemuan antaretnis dan bangsa ada di situ”, kata Sya’roni Rofii menegaskan.

Sya’roni Rofii juga menyoroti peran Islam yang kuat pada segala aspek kehidupan bangsa ini dari dulu hingga sekarang. Salah satunya adalah serapan bahasa Arab dalam bahasa Indonesia, termasuk dalam konstitusi RI.

“Jejak Islam sebenarnya banyak sekali, bicara konstitusi, itu sangat Islami konstitusi kita, misalnya dalam ada kata-kata, berkat rahmat Allah, ini sangat spesifik, menunjukkan posisi Islam spesifik,ini menunjukkan posisi Islam sangat dominan pada masa kemerdekaan”, kata Sya’roni Rofii menjelaskan.

M. Sya’roni Rofii, Ph.D. (Ketua Rumah Perdamaian Sekolah Kajian Stratejik & Global Universitas Indonesia). Foto: MySharing
M. Sya’roni Rofii, Ph.D. (Ketua Rumah Perdamaian Sekolah Kajian Stratejik & Global Universitas Indonesia). Foto: MySharing

Saksikan Videonya di Sini

Geopolitik dan Geostrategi Turki Utsmani
Buku Jejak Islam di Nusantara, ditulis oleh Dr. dr. Adi Teruna Effendi, SpPD, Ph.D. dan diterbitkan oleh Pusat Pengkajian dan Strategi Nusantara (PPSN), 2019. Menurut Dokter Adi yang ahli penyakit dalam ini, buku ini bukan hanya membahas sejarah. Sejarah adalah bunga rampainya saja, untuk sampai ke tujuan utama, Karena, menurutnya, penyebaran Islam di Nusantara ini terkait geopolitik dan geostrategi di masa itu.

Cendekiawan di Tanah Suci menginspirasi kebangkitan nasional Indonesia Click To Tweet

Ia menyontohkan, bagaimana Turki Utsmani perlu menjaga kekuasaannya di dunia dengan menguasai jalur perdagangan rempah. Bagaimana Turki Utsmani yang sudah merebut Konstatinopel untuk terus mengamankan posisinya sebagai salah satu adidaya dunia. “Dia harus kuat. Oleh karena itu, dengan cerdiknya Turki Utsmani mengirimkan Walisongo ke Nusantara”, kata Dokter Adi.

More Stories
BRI Syariah Luncurkan BRISPay di iB Vaganza Palembang