Belajar dari Ulama Dulu dalam Merencanakan Keuangan Tunjangan Hari Raya (THR)

Oleh: Nurizal Ismail (Direktur Pusat Studi Kitab Klasik Islami STEI Tazkia dan Peneliti ISEFID)

Saat ini umat Muslim di Indonesia telah melaksanakan puasa yang ke-20, tidak terasa Hari Raya Idul Fitri 1439 H semakin dekat. Tunjangan Hari Raya (THR) pun telah diterima oleh mayoritas mereka yang bekerja. Dengan adanya THR maka jumlah pendapatan yang diterima meningkat dari bulan-bulan lainnya, tetapi pengeluarannya pun jadi meningkat. Maka perlu ada perencanaan keuangan yang baik. Pakar-pakar perencana keuangan di banyak artikel telah banyak memberikan saran keuangan tentang pengelolaan bijak THR agar tidak tekor pasca hari raya.

Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Baqarah, 267: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (al-infaq) (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu (al-kasb) yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu…”Penghasilan yang telah diterima, Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk mengeluarkannya untuk memenuhi kebutuhan. Konsep al-kasb (pencarian nafkah) dan al-infaq (pengeluaran nafkah) telah diuraikan oleh sebagian ulama-ulama Islam dahulu seperti al-Syaibani dalam al-iktisabnya dan Ibn Sina dalam tadbir al-manzilnya. Bagaimana pendapat keduanya terkait dengan fenomena THR saat ini?

Pertama, Imam Syaibani membagi al-kasb menjadi 3 bagian yaitu al-kasb al-wajibah, al-mandubah dan al-mubahat. Al-kasb yang pertama ditujukan untuk pengeluaran yang wajib seperti untuk pemenuhan dirinya, keluarganya, melunasi hutang, kebutuhan dasar kedua orang tua, dan tabungan untuk masa mendatang. Alokasi tabungan atau investasi untuk diri dan keluarganya dilakukan ketika terjadi kelebihan dalam penghasilan sebagaimana Imam Syaibani merujuk pada hadist Rasulullah SAW:” “Bahwa Rasulullah.saw.tidak menyimpan makanan untuk esok hari.Beliau pernah sekali menyimpan makanan untuk keluarganya untuk masa satu tahun yang juga beliau persiapkan untuk orang-orang yang datang kepadanya.” (Hr. Bukhari-Muslim dari Umar r.a). Adapun  yang kedua yaitu al-kasb al-mandubat, yang ditujukan untuk menyediakan kebutuhan dasar kerabat dekat  (silaturrahmi), membatu teman dan menjamu tamunya. Tingkat satu dan kedua cenderung kepada al-kasb untuk memenuhi kebutuhan pada tingkat kecukupan saja. Adapun tingkatan ketiga yaitu al-kasb al-mubahat. Jenis al-kasb ini lebih dari tingkatan kedua yaitu antara memilih untuk menghimpun kekayaan atau membatasi pada tingkatan kedua saja. Tetapi jika seseorang memilih untuk menghimpun kekayaan maka dia wajib menunaikan zakat, melaksanakan ibadah haji dan bentuk-bentuk sedekah lainnya. sehingga orang-orang pada tingkatan ini pendapatannya sudah melebihi tingkatan kecukupan dan wajib dikenai zakat dan bentuk sedekah lainnya. Sehingga dapat disimpulkan dari pemikirannya bahwa al-kasb memiliki hubungan yang positif terhadap bentuk alokasi pengeluaran manusia.

Kedua, Ibn Sīnā dalam kitab siyasahnya menjelaskan bahwa manusia jika mendapatkan kekayaan dengan cara yang adil, dia wajib mengeluarkan setengahnya untuk shodaqoh, zakat, kebajikan, dan setengah yang lainnya untuk disimpan yang digunakan masa mendatang karena ketidakpastian yang akan terjadi di masa mendatang. Penulis dalam tesisnya tentang pemikiran ekonomi Ibn Sina menyimpulkan bahwa al-kasb yang didapatkan oleh manusia harus dikeluarkan dalam tiga pos yaitu pengeluaran yang umum untuk dirinya dan keluarganya, pengeluaran untuk kepentingan agama dalam bentuk pintu-pintu kebaikan (abwāb al-ma’rūf), shodaqoh dan zakat, dan al-iddikhār (tabungan) untuk masa mendatang.

kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah lebaran nanti Click To Tweet

Dari penjelasan kedua Ulama ini apa yang harus kita lakukan sebaiknya untuk THR yang telah kita terima. THR yang kita terima adalah bentuk penghasilan berlebih dibandingkan hasil-hasil usaha  bulan-bulan sebelumnya. Adapun langkah-langkah bijak perencanaan keuangan THR sebagai berikut. Langkah pertama, pastikan bahwa hitungan kebutuhan yang wajib telah terpenuhi seperti kebutuhan bulanan, pelunasan hutang, bayar zakat fitrah dan kekayaan, THR buat pembantu (jika mempunyai), dan nafkah untuk orang tua (jika masih mampunyai dan mereka sudah tidak bekerja). Kedua ulama diatas sepakat tentang tabungan maka sisakan uang THR kita sesuai dengan kecukupan karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah lebaran nanti.

Langkah kedua boleh dilakukan jika sudah terpenuhi kebutuhan yang wajib dan uang THR masih berlebih, maka dapat dialokasikan untuk perjalanan mudik (bagi yang rutin) dalam rangka bersilaturrahim dengan kerabat terdekat di kampung. Hitung dengan benar pengeluaran mudik seperti transport pulang pergi, uang saku buat sanak saudara dan konsumsi selama di kampung halaman. Langkah ketiga,  jika hitungan pengeluaran mudik masih sisa, maka alokasikan untuk hal-hal kebajikan seperti memberikan wakaf, sedekah atau infaq kepada yang memerlukan. Dalam pengelolaan kekayaan Islami (Islamic Wealth Management) tujuannya tidak hanya untuk kepentingan/kebutuhan dunia saja, tetapi akhirat juga. Karena itu jika ada investasi di dunia, jangan lupakan investasi akhirat karena hasilnya dalam bentuk pahala akan terus mengalir. Wallahu’alam bil Sawab!

More Stories
Alquran di pesawat garuda
Garuda Indonesia Hadirkan Bacaan Al Quran di Pesawat