Sustainable Development Goals. Ilustrasi: MySharing
Sustainable Development Goals. Ilustrasi: MySharing

Capai SDGs, Perlu Sinergi Pemerintah dan Lembaga

Pemerintah mendorong lembaga non pemerintah untuk bersama-sama mencapai Sustainable Development Goals (SGDs).

Sekretaris Nasional SDGs Bappenas Arum Atmawikarta mengatakan, pemerintah tidak bisa sendirian dalam mencapai SGDs. Perlu ada kerja sama dari empat elemen untuk mencapai target tersebut, yaitu pemerintah, swasta/bisnis, akademisi, dan lembaga masyarakat seperti Rumah Zakat (RZ)..

”Pemerintah sudah mengundang tiga elemen tersebut.untuk duduk bersama dan mendapatkan masukan untuk bersama mencapai target SDGs. Namun, pembicaraan tersebut belum dalam tahap kerja sama formal,” kata Arum dalam diskusi bertajuk ”SGDs Sharing Session”, yang digelar Rumah Zakat di Meradelima Restuarant, Jakarta, Rabu (1/3).

Sinergi ini diperlukan menurut Arum, karena pelaksanaan SDGs berbeda dengan tujuan-tujuan pembangunan Millenium Development Goals (MDGs) yang berpusat pada pemerintah.

Arum mengatakan, target MDGs secara internasional sebenarnya sudah dilampaui oleh Indonesia pada tahun 2008,  yaitu pendapatan 1 dolar Amerika Serikat (AS) per kapita per tahun. ”Namun, kita sekarang mengejar target nasional yang menaikkan batasnya menjadi sekitar 1,5 dolar AS. Saat ini, masih ada 11 persen penduduk yang berada di garis kemiskinan tersebut, dan ditargetkan bisa ditekan menjadi 7,5 persen,” ujarnya.

Untuk pembangunan SDGs diperlukan sinergi, menurutnya, karena Indonesia masih mempunyai banyak persoalan selain kemiskinan, yaitu gizi anak masih tinggi, kematian ibu, dan penyakit mematikan (HIV/Aids), kerusakan lingkungan hidup, dan lainnya. Jadi  prinsip SDGs adalah tidak boleh ada yang tertinggal sebagai sasaran. Sehingga untuk mewujudkannya diperlukan sinergi dengan lembaga filantropi.

”Peran lembaga filantropi antara lain advokasi, fasilitas program, dan pembiayaan sosial SDGs lebih terbuka dan memungkinkan peran publik via dan-dana sosial seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf,”  ujar Arum dalam diskusi ”SDGs Sharing Session,”  yang digelar Rumah Zakat (RZ) di Meradelima Restuarant, Jakarta, Rabu (1/3).

Arum menjelaskan, dari penelitian bersama IPB dan IDB pada 2010, potensi zakat Indonesia mencapai Rp 217 triliun per tahun. Pada 2016, Dompet Dhuafa berhasil menghimpun dana sosial keagamaan sebesar Rp 300 miliar dan Rumah Zakat Rp 250 miliar. ”Kalau dikelola dengan baik, dampaknya akan luar biasa,” kata Arum.

.Namun demikian, lanjut dia, pemerintah sendiri tidak memberikan arahan kemana lembaga filantropi harus bergerak ambil peran pada  area pembangunan yang belum banyak tersentuh

”Ini masalah bersama. Ada goals, target, dan indikator. Yang sudah bagus ini, yang belum ini. Silahkan mau bantu di mana, tidak ada arahan begini begitu. Mari kita bersinergi untuk wujudkan pembangunan berkelanjutan (SDGs),” tegas Arum.

Menurut dia, lembaga filantropi yang sudah mempunyai nota kesepahaman dengan Bappenas, ada BAZNAS . Bappenas mendorong lembaga non pemerintah untuk sama-sama mencapai SDGs.

Ada banyak indikator SDGs yang bisa disasar lembaga filantropi, yakni mulai dari pertanian dan pangan, pendidikan, ekonomi, lingkungan, dan lainnya. Lembaga filantropi bisa mempertahankan program di area yang sudah sesuai SGDs atau memperluas ke tujuan SDGs lain.

Dompet Dhuafa himpun dana sosial hingga Rp 300 M, Rumah Zakat Rp 250 M. #JadiLebihBaik Click To Tweet

”Berbeda dengan MDGs, SGDs lebih mendalam dan tujuan sosial, ekonomi, lingkungan, dan tata kelola justru jadi sasaran. Termasuk keberpihakan pada kelompok disabilitas,” tegas Arum.

More Stories
Waspadai Fintech, Gadai, dan Kegiatan Investasi Tanpa Izin!