Cara Islami Hadapi Virus Corona

Dr. Abdurrahman Misno, BP, MEI (Direktur Pasca Sarjana Institut Agama Islam Sahid/ INAIS, Bogor)

Hindari dan panjatkan berdoa. Begini cara menghadapi penyakit berbahaya sesuai cara Islam. Berikut ini kutipan khutbah Jumat Dr. Abdurrahman Misno, BEP, MEI pada 31 Januari 2020 dengan judul “Virus-Virus Menuju Firdaus”.

Akhir-akhir ini kita dihebohkan dengan berita menyebarnya virus Corona yang berasal dari daratan China. Korban telah berjatuhan dan diprediksi akan menyebar ke sleuruh penjuru dunia apabila tidak ditangani dengan baik. Saat ini pemerintah China telah melakukan isolasi pada wilayah Wuhan yang menjadi wilayah penyebarannya.

Ada banyak pendapat tentang hal ini, mulai dari perang bisnis dan kekuasaan antara China dan Amerika, hingga adzab serta balasan bagi bangsa China karena telah melakukan kedzaliman kepada masyarakat muslim di Uighur. Muncul juga berita kebiasaan hidup tidak sehat serta konsumsi makanan yang kotor sebagai penyebab merebaknya virus ini.

Sikap Muslim Terhadap Virus Corona
Terlepas dari berbagai kontroversi yang ada, maka sebagai seorang muslim kita harus bisa menyikapinya berdasarkan Islamic Worldview, cara pandang Islam dalam melihat segala hal yang terjadi di dunia ini. Marilah kita telaah kalam Allah Ta’ala:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. al-Baqarah:155-157).

Merujuk pada ayat ini maka Allah Ta’ala memberikan cobaan kepada kita dalam berbagai bentuknya, baik berupa rasa takut, kemiskinan, berkurangnya harta, jiwa dan makanan. Maka dalam konteks sekarang, penyebaran virus corona adalah salah satu bentuk cobaan tersebut. Penyebarannya benar-benar membuat manusia merasa takut dan khawatir, tentu saja rasa khawatir ini diperkenankan.

Penyebaran virus corona adalah salah satu bentuk cobaan dari Allah Taala Click To Tweet

Namun sebagai seorang Muslim kita juga harus selalu ingat firmanNya:

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allâh; dan Barangsiapa beriman kepada Allâh niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya” (QS. at-Taghâbun:11).

Semua yang terjadi di dunia ini, termasuk penyebaran virus corona adalah atas kehendak dan takdirNya. Karena semua yang terjadi di dunia ini sudah menjadi kehendakNya sejak dahulu kala,

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

“Allâh telah menulis takdir semua makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi lima puluh ribu tahun” (HR. Muslim).

Pada riwayat yang lainnya disebutkan:

“Sesungguhnya yang pertama Allâh ciptakan al-Qalam (pena) seraya berkata kepadanya: Tulislah! Dia bertanya: Wahai Rabbku, apa yang aku tulis? Maka Allâh berfirman: Tulislah takdir segala sesuatu hingga terjadinya kiamat”, (HR. Abu Dawud dan Thirmidzi).

Maka, hal penting bagi setiap muslim dalam menyikapi penyebaran virus ini adalah sesuai dengan apa yang telah diwahyukan dalam kalamNya serta sunnah nabiNya yaitu diawali dengan keyakinan bahwa Wabah Virus Corona adalah atas KehendakNya.

Usamah bin Zaid berkata, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Wabah adalah kotoran (siksa) yang Allah kirimkan kepada golongan dari Bani Israil atau kepada umat sebelum kalian. Maka, jika kalian mendengar ada wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah tersebut. Dan apabila kalian berada di wilayah yang terkena wabah, janganlah kalian keluar dan lari darinya” (HR Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan hadits tersebut, Nabi Muhammad sudah menganjurkan kepada umatnya, apabila mengetahui ada wabah penyakit di suatu wilayah, janganlah memasuki kawasan tersebut. Dan apabila berada di area yang terkena wabah, janganlah keluar dari area tersebut.

Imam Ahmad, Bukhari, dan Muslim meriwayatkan melalui jalur Az-Zuhri bahwa sekali waktu Umar bin Khattab dalam perjalanan ke Syam (Suriah). Setibanya di wilayah Saragh, yakni perbatasan antara Hijaz dan Syam, ia ditemui komandan perang bernama Abu Ubaidah bin Al-Jarrah beserta rombongan. Mereka menginformasikan kepada Umar bahwa kota yang ditujunya telah menjadi pusat wabah penyakit menular. Soal bagaimana cara apik menyikapinya, para sahabat Nabi itu akhirnya berdiskusi guna menyelaraskan beragam pendapat yang ada. Namun, tak lama, ketika musyawarah masih berlangsung, datanglah Abdurrahman bin Auf menyampaikan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda;

“Jika suatu daerah terserang wabah penyakit sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah keluar melarikan diri (mengungsi) darinya. Jika kalian mendengar di suatu daerah sedang terserang wabah penyakit maka janganlah kalian datang mendekatinya”.

Mendengar penjelasan itu, Umar pun mengambil keputusan untuk urung mengunjungi Syam.

Hikmah dari larangan untuk tidak memasukinya dan yang berada di dalam tidak keluar darinya adalah bahwa mudharat yang akan terjadi apabila kita memasuki wilayah tersebut khususnya untuk diri sendiri yaitu akan terkena virus tersebut. Sedangkan jika ia keluar dari wilayah tersebut maka bisa jadi ia juga telah terjangkiti virus tersebut hingga dikhawatirkan akan menyebarkannya.

Sebagai Muslim kita juga harus meyakini bahwa ada pahala yang besar, yaitu bersabar dengan wabah Click To Tweet

Selanjutnya, sebagai seorang Muslim kita juga harus meyakini bahwa ada pahala yang besar bagi mereka yang bersabar dengan wabah tersebut.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

“Adzab yang Allah kirim kepada orang yang Dia kehendaki. Allah jadikan thaun sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Tidaklah seseorang yang di negerinya mewabah thaun lalu ia tetap berada di situ dengan sabar dan berharap pahala, ia tahu tidak ada musibah yang menimpanya kecuali apa yg telah Allah tetapkan bagi dirinya melainkan baginya pahala seperti pahala seorang syahid” (HR. Al-Bukhari).

Maka bersabar dengan tetap berada di wilayah tersebut dengan meyakini akan ada pahala yang besar (syahid) merupakan tuntunan Islam untuk mencegah mudharat yang lebih besar yaitu menyebarnya virus ke tempat lainnya.

Solusi Islam selanjutnya adalah dengan berdoa, kekhawatiran akan menyebarnya virus corona bukan menjadikan kita paranoid, sebagai orang yang beriman tentu saja kita harus yakin bahwa semua itu adalah atas kuasaNya. Maka, berdoa adalah amalan yang diajarkan rasul yang mulia:

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit sopak, gila, kusta, dan dari segala penyakit yang buruk/mengerikan lainnya”. HR. Abu Dawud, Al-Nasai, Ibnu Hibban dan lain-lain.

More Stories
Jual Sukuk Via Online, Bank Muamalat Raih Penghargaan Kemenkeu