Corona dan Kematian di Depan Mata

Oleh: Abdurrahman Misno BP (Penulis, Pegiat Ekonomi Islam)

Kematian adalah sebuah keniscayaan bagi semua makhluk di alam dunia, termasuk juga manusia sebagai hambaNya.

Kehidupan yang fana di dunia ini akan berakhir dengan kematian, sehingga tak ada yang abadi di semesta ini. kematian sebagai satu takdirNya tiba kapan saja, di mana saja dan dengan cara bagaimanapun juga. Hanya Allah Ta’ala yang yang mengetahui kapan kematian itu tiba, sebagai hambaNya kita hanya tunduk dan patuh dengan takdirNya. Hakikat dari kematian adalah berakhirnya “jatah” hidup manusia di alam dunia, penyebabnya dengan berbagai cara. Ada yang meninggal karena sudah tua atau sakit-sakitan, ada juga yang masih muda namun tertimpa kecelakaan dna musibah yang tidak diduga-duga. Semua orng menginginkan meninggal dalam keadaan yang normal, sudah tua atau sakit yang lama. Sedikit dari mereka yang menginginkan meninggal karena kecelakaan atau wabah yang melanda.

Demikianlah, ketika pandemi virus Corona melanda semesta, semua orang merasa ketakutan dengannya. Ya… ketakutan yang diperbolehkan dalam Islam karena kita juga diperintahkan melalui lisan rasulNya yang mulia menjaga agar tidak terkena berbagai wabah yang melanda. Ketakuatn yang salah adalah hingga tahap paranoid, yaitu takut secara berlebihan hingga ketakutan akan datangnya kematian karena Corona.

Sikap menjaga diri dan menghindari dari terinfeksi virus ini dianjurkan dalam Islam, apalagi jika melihat jumlah korban hingga Kamis, 16 April 2020 jumlah manusia yang terinveksi di seluruh dunia telah mencapai 2.097.101  orang sedangkan yang meninggal sebanyak 135.662  orang. Jumlah yang terinfeksi di Indonesia sendiri telah mencapai 5.516 orang dengan jumlah meninggal hingga 500 orang. Bukan jumlah yang sedikit untuk sebuah kematian, hingga wajar saja ketika manusia merasa sangat takut dengan pandemi ini. Mereka takut terinfeksi virus ini, hakikat di balik itu adalah mereka takut akan kematian dengan penyebabnya.

Virus Corona memang menghadirkan kematian begitu dekat dengan kita, hanya perlu waktu tidak lebih 10 hari seseorang yang terinveksi bisa meninggal dunia. Penyebarannya begitu cepat, walaupun tidak melalui udara namun kedekatan fisik dan sentuhan atas berbagai benda di sekitar kita cukup menjadi penyebab tertular dengannya. Kita tidak tahu siapa dan ebnda apa saja yang telah menempel padanya virus corona, hingga pemerintah Indonesia kemudian menerapkan social distancing dan pysical distancing dan memerintahkan seluruh warga negara untuk stay at home (tetap tingga di rumah. Sementara negara lain seperti Singapura, Malaysia, China dan banyak negara Eropa yang melakukan lockdown, yaitu melarang orang lain masuk ke wilayah mereka dan melarang masyarakatnya keluar rumah.

Corona telah menghadirkan kematian di depan mata, tidak perlu waktu lama dan tidak melihat siapa orangnya. Apabila ia sudah terinfeksi maka kematian dengan mudah menghampirinya. Ya… kita takut terinfeksi virus Corona, yang pada hakikatnya kita takut dengan kematian itu. Alasan kita adalah tidak mau meninggal dalam keadaan terinfeksi virus ini, atau belum siap dengan perbekalan ketika kematian datang. Padahal sebagaimana disebutkan di awal bahwa kematian hakikatnya adalah takdir dan kuasaNya, virus Corona adalah sebab dari kematian tersebut. Sehingga ketakutan yang berlebihan akan virus ini sejatinya tidak layak ada pada diri seorang muslim. Kita harus meyakini bahwa kematian itu pasti, bagaimanapun caranya nanti.

Corona memang menghadirkan kematian itu berada di depan mata, tapi bukan berarti kita takut dengannya. Yakin akan takdir kematian yang sudah dipastikan adalah penawar utama ketika diri ini takut dengannya. Takut terinfeksi virus corona itu diperbolehkan namun tidak boleh ketakutan berlebihan dengan takut akan kematian. Tentu saja ikhtiar dengan usaha terus menjaga kesehatan, mencuci tangan, menjaga jarak aman dan menjauhi kerumunan serta berada di rumah adalah usaha yang dibenarkan oleh Islam.

Semoga pandemi ini segera berakhir dan kesengsaraan manusia atas kehadirannya segera berakhir. Ya Allah, jauhkanlah kami dari fitnah Covid-19 ini dan selalulah berkahi kami dalam kehidupan ini. Aamiin Ya Rabbal ‘Alaamin.

More Stories
BNI Syariah Sambut Hari Bumi, Realisasikan 1.220 Lubang Biopori