Coronavirus dan Perang Ekonomi: Pintu Masuk ke Perang Dunia Ketiga?- Ichsanuddin Noorsy

Sistem ekonomi terbuka adalah perang ekonomi. Suatu negara akan berjuang sekuat tenaga untuk mendominasi negara lain melalui produk-produknya. Apa kaitannya dengan coronavirus?

Serial “Coronavirus dan Perang Ekonomi” ini diinspirasi dari tulisan Dr. Ichsanuddin Noorsy, BSc, SH, MSi di beberapa media online pada 27 Januari 2020 dengan judul “Virus Corona dan Perang Ekonomi” (kami muat ulang di https://bit.ly/2QZFGQK). Saat itu, coronavirus baru memulai karirnya di Wuhan, China, belum memukul Indonesia.

Jika kita melihat, dibanding China yang hebat dengan pengobatan herbal, Amerika Serikat (AS) masih mendominasi produksi vaksin dunia.
Ini terlihat dari 10 besar produsen vaksin dunia adanya di AS, yakni Glaxo SmithKline (1873, Wellington-New Zealand), Merck dan Co (1891,New Jersey-USA), Sanofi (1973, Paris-Perancis), Pfizer (1849, New York-USA), Novavak (1987, Maryland-USA), Emergent Bio Solutions (1998, Maryland-USA), CSL (1916, Melbourne- Australia), Inovio Pharmaceuticals (1979, Plymouth-USA), Bavarian Nordic (1994, Kvistgaard-Denmark), dan Mitsubishi Tanabe (1981, Tokyo-Jepang).

Nah, apakah coronavirus yang tetiba meledak di Wuhan, adalah bagian dari perang ekonomi, bahkan perang biologi antara dua negara tersebut? Tapi AS juga kena, korbannya terbanyak kemarin. Ada baiknya kita melihat tidak hanya akibat, tetapi sebabnya, meminjam istilah para ulama, asbabun nuzulnya.
Di serial “Coronavirus dan Perang Ekonomi”, Ichsanuddin Noorsy – Bagian 1 ini kita akan menggali perang dagang antara China dan AS sejak awal abad ini.
Mengapa harus soal perang dagang ini? Video ini aslinya sepanjang 40 menitan, bahkan lebih. Akan membosankan kalau dipanjangkan, maka saya membaginya menjadi tiga bagian.

Perang ekonomi antara Amerika Serikat (AS) dan China terjadi sejak 2003, sejak George W. Bush bersaing dengan Al Gore di pemilihan presiden AS.
Nyatanya memang sedari wal abad ini, China terus menunjukkan tren menguat ekonominya. Bahkan mulai menyaingi negara adidaya, Amerika Serikat (AS).
Menariknya, masuknya china ke WTO pada 1997 adalah atas rekomendasi AS. Tapi lanjut di awal abad ini kita melihat USD diganti dengan Yuan Renmimbi dan emas oleh China. Hingga akhirnya, China dipukul dengan Black Monday pada 24 Agustus 2015. Meskipun, China tetap menunjukkan daya tahannya.
Sementara, media barat terus mengampanyekan China berada di ambang krisis. Financial Times pada 27 Mei 2019 pernah menurunkan suatu tulisan, bahwa tujuan China pada 2049 akan menjadi global superpower dalam peringatan 100 tahun RRC, tidak akan tercapai.

Faktanya, China menang di perang ICT lewat menguasai 5G lebih dulu melalui Huawei. China juga terus meminimalkan peran Bank Dunia dan ASEAN Development Bank dengan menggantinya dengan New Development Bank dan ASEAN Infrastructure Investment Bank. Perang uang digitial (digital currency) termasuk perang penggunaan Electric Vehicle.

Bagi Barat, pendaratan angkasa luar China di bulan dalam posisi terjauh dan juga India, disergapnya drone AS oleh China di Laut Cina Selatan, yang sedang melakukan kegiatan intelegen tanpa awak, dan kuatnya kepercayaan diri China karena ketergantungan Barat pada mineral rare earth (bahan penting untuk industri teknologi, militer, dan lainnya), sebenarnya menunjukkan China mempunyai kekuatan perlawanan atas tekanan Presiden AS ke 45 Donald Trump. Hampir 80 persen kebutuhan mineral rare earth AS didatangkan dari China.

Ini yang membuat Xi Jinping tampil percaya diri. Xi bahkan berani mengatakan, bahwa China mempunyai tongkat penggebuk yang besar, dan tak suatu negara pun yang mampu menghalangi tujuan China menjadi negara adidaya di panggung global (global superpower).
Kenyataan lain, deficit perdagangan AS terhadap China juga mncapai USD 323 Miliar pada 2008 diteruskan dengan USD 376 Miliar pada 2017. Namun, AS tetap menguasai empat F, yaitu food, fuel, financial, dan frequency.

Oiya, narasumber juga titip pesan, ada baiknya penonton mengetahui isu-isu strategis terkait krisis ekonomi Indonesia saat ini yang telah Beliau susun. Hal ini agar Anda lebih mudah menemukan benang merahnya dengan seluruh penjelasan di video-video ini. Berikut saya sebutkan:
1. Kekurangan penerimaan perpajakan (tax short fall) 2019 Rp246 Triliun
2. Intervensi BI Rp 100 Triliun tidak membuat Rupiah menguat
3. Cadangan devisa menurun USD 1,3 Miliar
4. Vonis Bank Dunia, lack of credibility, lack of certainty, lack of compliance
5. Vonis Moodys: Kekurangan pendapatan APBN, ketergantungan siklus dan komoditas, buruknya penegakkan hukum
6. Vonis USA: naik kelas dari emerging market menjadi developed country
7. Vonis Uni Eropa: Sawit sebagai pelanggaran lingkungan hidup
8. Peringatan ADB: 115 juta rentan miskin akan kembali menjadi miskin
9. Crowding out effect: Surplus ekonomi Nasional dihisap keluar
10. Jatuhnya IHSG karena contagion effect kasus Jiwasraya (pemblokiran 325 rekening, yang klarifikasi hanya 72 rekening)
11. Jatuhnya harga minyak (perbedaan asumsi harga minyak pada APBN dan harga pasar)
12. Persaingan tidak sehat antara imbal hasil obligasi dengan BI Rate, Deposito.
13. Virus Corona

Mari kita saksikan videonya di bawah ini:

More Stories
“Bank Muamalat, Bank Syariah dengan Fundamental Kuat”