Dakwah Ekonomi Islam di Jepang

Serombongan pejuang dakwah ekonomi Islam dari Indonesia menyosialisasikan ekonomi Islam di negeri Sakura.

Rombongan pejuang dakwah tersebut berasal dari Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia, di antaranya Ketua STEI Tazkia, Dr. Murniati Mukhlisin, Direktur Pascasarjana, Dr. Mukhamad Yasid, Pembina Perpustakaan STEI Tazkia, Ade Susilowati, Direktur Program Internasional, Anita Priantina, Kepala Program Studi Bisnis dan Manajemen Syariah, Thuba Jazil dan Kepala Program Studi Akuntansi Syariah, Grandis Imama Hendra. Rombongan tiba di Tokyo sejak 26 Juni 2018.

Menurut Ade Juraynaldi dan Ratna Komalasari selaku panitia rombongan kepada MySharing, Rabu (27/6), kunjungan selama lima hari di negeri matahari terbit ini bertujuan untuk  beberapa agenda penting, yaitu kerjasama pelaksanaan internasional seminar dengan Reitaku University di kota Kishiwada, kunjungan ke YUAI International Islamic School di Tokyo, silaturrahim dengan KBRI Jepang, dan halal bil halal dengan komunitas Muslim Jepang di Mesjid Indonesia Tokyo.

Seminar yang dihadiri oleh para guru besar, dosen dan mahasiswa dari Tazkia dan Reitaku ini membahas sebuah tema yang menarik dan terkini yaitu “Business Ethnic & Digital Economy; from Concept to Practice”, mengingat Jepang merupakan negara yang sangat maju dalam teknologinya termasuk dalam bidang Financial Technology (FinTech).

Pembukaan seminar dilakukan oleh Daisuke Suzuki, dosen senior di Universitas Reitaku. Dilanjutkan dengan presentasi oleh guru besar bidang ekonomi Universitas Reitaku, Yasunori Baba dengan topik pertama tentang bagaimana manusia berlaku ketika berada dalam era mesin pandai seperti saat ini. Baba mengatakan bahwa manusia perlu dibentengi dengan konsep moral seperti dari kepercayaan Shinto dan Budha. Ditambahkannya, moral adalah hal penting di Reitaku yang ditekankan oleh pendiri kampus Reitaku yaitu Dr. Chikuro Hiroike (1866-1938). Hiroike sendiri dikenal sebagai “Father of Moralogy” ini yang mengatakan bahwa pendidikan harus diberikan kepada pelajar dengan aplikasi integritas, moral dan etika yang tinggi.

Sedangkan dari STEi Tazkia, Dr. Murniati Mukhlisin memaparkan tentang pentingnya rambu-rambu syariah untuk memastikan etika dan moral dalam bisnis di era ekonomi digital seperti saat ini. Kemudian Ketua STEI Tazkia itu menjelaskan tentang perkembangan bisnis FinTech syariah dengan studi kasus Indonesia, Malaysia dan Singapura. Potensi FinTech di Jepang cukup menjanjikan yang menurut Accenture telah meleburkan investasi sebesar USD 154 juta pada 2016. Investor utama dalam bidang FinTech dunia didominasi oleh Cina sebesar USD 10 triliun disusul oleh India sebesar USD 500 juta pada tahun yang sama.

Murniati yang juga Pembina Asosiasi FinTech Syariah Indonesia menganalisa bahwa modal crowdfunding dari Jepang dapat dikirim ke negara Muslim dengan sistem syariah seperti yang dilakukan Singapura saat ini. EthisCrowd perusahaan FinTech Syariah asal Singapura misalnya mengelola investasi dari para investor Singapura untuk membiayai proyek perumahan di Indonesia.

Terdapat minimal tujuh prinsip dasar dalam etika bisnis Islam Click To Tweet

Presenter lain, Thuba Jazil membawakan tema etika bisnis Islam dari  teori ke praktik. Dalam pemaparannya Islam mengatur semua aspek kehidupan Muslim baik dalam hal peribadatan maupun sosial, termasuk juga bisnis. Terdapat minimal tujuh prinsip dasar dalam etika bisnis Islam yaitu tauhid, tanggungjawab, keadilan, ihsan (berlaku baik), hurriyah (kebebasan), orientasi halal dan haram, dan berlaku ma’ruf.  Ketujuh prinsip tersebut harus diterapkan dalam transaksi Islam baik sebagai pebisnis, penjual, pembeli, pemasok dan pihak lainnya.

Seminar ditutup dengan pembicaraan kerjasama double degree antara dua kampus dan makan malam dijamu oleh Presiden Universitas Reitaku, Osamu Nakayama dan para pejabat kampus lainnya.

 

More Stories
Tim Bank Infaq sedang sosialisasi Bank Infaq di Masjid Raya Bintaro Jaya, Jumat (6/9). Foto: FB Bank Infaq
Ingin Tahu Tentang Bank Infaq? Begini Caranya!