Masri

Dakwah Ilallah

Dr. Masri Sitanggang (Penggagas #MasyumiReborn)

Nasehatku pada diriku sendri dan kepada Engkau yang meneguhkan hati tegak melangkah di jalan Dakwah

Dakwah itu, mengajak. `Maka, orang yang mengajak dan yang diajak berjalan bersama-sama menuju tempat yang diajak. Biasanya, orang yang mengajak berada di depan menuntun orang yang diajak; tapi boleh juga bergandengan tangan sejajar berjalan ke arah yang sama. Jadi, bila Engkau bermaksud berdakwah, maka lakukanlah apa yang ingin Engkau ajak orang untuk melakukannya terlebih dahulu, atau lakukanlah bersama-sama dengan orang yang Engkau ajak. Jangan Engkau berpangku tangan, menonton orang yang Engkau “ajak” melakukannya sendirian tanpa dirimu.

Dakwah itu, ilallah, kepada (jalan) Allah. Mengajak ke pada Allah berarti mengajak orang untuk hanya menghambakan diri kepad Allah. Al-QUR’AN dan sunnah Rasullul-Nya adalah jalan menuju Allah. Karena itu, janganlah sekali-kali berpikir untuk mengajak orang mengabdi pada dirimu, mengabdi kepada kelompok atau organisasimu. Engkau, kelompok dan orgasisamu itu cuma satu sarana dari banyak sarana dalam mengajak orang ke Jalan Allah. Maka, kalau orang memilih sarana lain, selain dari kelompokmu atau organisasimu, jangalah Engkau berkecil hati. Apalagi sakit hati. Sakit hatimu itu jadi pertanda bahwa Engkau sedang tidak Dakwah ilallah, melainkan berdakwah untuk mengajak orang mengabdi pada dirimu. Engkau tidak sedang mengajak kepada Jalan Allah, melainkan kepada jalanmu. Itu artinya, Engkau dan orang yang Engkau ajak tidak akan pernah sampai kepada Allah.

Yakinlah, bila Engkau benar-benar berdakwah Ilallah, orang yang mendapat petunjuk Allah akan mengikutimu. Kalau pun tidak masuk ke dalam organisasimu, mereka bersamamu di Jalan Allah.

Dan, ingat-ingatlah selalu, sarana dakwah yang Engkau gunakan itu –organisasi atau apa pun itu, adalah alat belaka. Alat itu bisa rusak, usang dan ketingggalan zaman. Setiap zaman ada tantangannya sendiri dan setiap persoalan memerlukan alat yang tepat untuk mengurainya. Maka, perbaharuilah senantiasa alatmu, sesuaikan dengan persoalan yang ada. Janganlah Engkau, karena cintamu pada alat yang Engkau punya, enggan menggunakan alat baru yang lebih sesuai untuk mengatasi persoalan yang ada. Beginilah perumpaannya. Pisau silet, sangat bagus untuk memotong dan mengiris benda halus dan tipis karena tajamnya.

Tapi tinggalkan pisau silet, betapa pun kau sayang padanya, ketika yang hendak dipotong adalah sebatang kayu. Berikanlah pekerjaan memotong kayu itu kepada mereka yang memegang parang atau kapak ! Bila Engkau tetap memaksa ingin memotong sendiri kayu itu dengan pisau siletmu, berarti Engkau sedang menambah masalah, bukan menyelesaikan masalah. Persoalan Dakwah akan kian bertambah, berkembang kian rumit dan sulit. Begitu juga, karena organisasi atau apa pun namnanya itu adalah alat belaka, jangan pula Engkau jadikan tujuan. Ingat, tujuan adalah ilallah- Alat boleh berganti kapan saja, tetapi tujuan harus tetap. Jangan korbankan tujuan demi menjaga eksistensi organisasi yang sesungguhnya cuma alat yang bisa diganti atau diperbaharui.

Dakwah itu, amar ma’ruf nahi munkar: mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Maka hendaklah Engkau selalu mendorong, mendukung dan membela siapa saja yang berbuat ma’ruf. Siapa saja : apakah ia orang miskin atau orang kaya, berpendidikan tinggi atau rendah, pejabat atau rakyat jelata. Janganlah karena kebencianmu kepada seseorang, atau kepada sekelompok orang tertentu membut Engkau enggan mendukungnya ketika ia berbuat ma’ruf atau bahkan Engkau menafikan perbuatan ma’rufnya. Waspada memang perlu dan harus, tapi kalau orang sudah berbuat baik kemudian Engkau tetap membencinya atau mencurigainya sebagai musuh yang bersiasat belaka, maka akan kemanakah Engkau bawa Dakwahmu itu ?

Begitu juga, Engkau harus mencegah siapa saja yang berbuat mungkar. Engkau harus tegak untuk mengatakan tidak terhadap kemungkaran yang dilakukan siapa saja. Siapa saja : apakah ia orang miskin atau orang kaya, berpendidikan tinggi atau rendah, pejabat atau rakyat jelata. Janganlah karena kecintaanmu terhadap sesorang –karena kedekatanmu, karena kekerabatan, karena satu organisasi dls—Engkau tutup mata terhadap kemungkaran yang dilakukannya. Kalau Engkau membiarkan kemungkaran itu, maka ketahuilah bahwa Dakwah ilallah telah kehilangan makna. Apalagi bila kedua-duanya Engkau lakukan sekaligus –mereka yang telah berbuat baik tetap Engkau benci atau curigai dan kawan setiamu berbuat maksiat tetap Engkau biarkan, maka sesungguhnya Engkau sedang merusak Dakwah ilallah.

Dakwah itu, bil hikmah. Ajaklah orang-orang ke jalan Allah dengan cara yang bijak. Bicarakanlah sesuatu itu kepada orang yang tepat, orang yang ada kaitan dengan persoalan yang akan Engkau bicarakan dan orang yang punya kemampuan memahami persoalan itu. Artinya, jangan kau tebar persoalan itu kepada khalayak ramai yang tidak ada sangkut pautnya dan tak pula mampu mencerna persoalan tersebut. Kalau itu kalau lakukan, maka sesungguhnya Engkau sedang menabur benih-benih persoalan dakwah yang baru. Benih-benih itu mungkin akan tumbuh menjadi perpecahan, fitnah dan saling curiga, atau tumbuh menjadi rasa kebencian antar sesama.

Dakwah itu tidak mesti kepada kerumunan ramai, tapi juga kepada orang-per orang. Karena itu, adalah juga bijaksana kalau engkau tidak membicarakan persoalan pribadi seseorang di depan umum atau di khalayak ramai. Itu akan sangat buruk dampaknya untuk dakwah. Bicarakan pula pada orang itu di waktu yang tepat dengan cara yang tepat pula. Jadi, dakwah itu boleh disebut bijaksana kalau persoalan dakwah disampaikan kepada orang yang tepat, di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat dengan cara yang tepat. Begitulah…

Dakwah itu, menyemaikan benih-benih iman. Tempat persemaiannya adalah hati. Maka, persiapkanlah lebih dahulu hatimu agar Engkau bisa menerima dakwah dan bisa pula memancarkan cahaya dakwah. Ingatlah selalu bahwa Engkau, di samping sebagai subjek dakwah, adalah juga objek dakwah. Engkau akan menerima pesan-pesan dakwah ketika Engkau sedang melaksanakan misi dakwah.

Oleh sebab itu, sekali lagi, siapkan hatimu bahwa Engkau akan mendapat pelajaran dari orang yang engkau dakwahi. Jika Engkau tidak terlebih dahulu menyiapkan hatimu sebagai tempat persemaian dakwah, niscaya Engkau akan gagal mendakwahi dirimu sendiri, gagal pula menerima dakwah dari orang yang Engka Dakwahi. Engkau gagal menerima kebeneran dari orang yang Engkau dakwahi, bahkan Engkau gagal melihat ada kebeneran pada orang yang sedang Engkau dakwahi. Engkau merasa bahwa hanya Engkau yang pantas berdakwah dan orang lain hanya layak menerima dakwah.

Pada saat itu, setan menguasai dirimu. Engkau merasa paling pintar dan paling benar sementara orang yang Engkau dakwahi adalah rendah dan bodoh. Saat itu, akalmu akan mati. Engkau mudah tersinggung bila dikritik, karena keritiik akan kau rasakan sebagai merendahkan diri dan wibawamu. Pandangan-pandangannya yang bebeda dengan pandanganmu akan segera Engkau nilai sebagai telah keluar dari dakwah ilallah. Bantahan dan hujjahnya akan Engkau rasakan sebagai serangan terhadap dirimu.

Dalam situasi seperti ini, Engkau akan sulit mengendalikan diri karena setan telah mengambiil alih kendali atas dirimu. Maka, pada puncak yang paling ekstrim, Enggkau akan mengeluarkan sumpah serapah dan caci maki terhadap mereka yang berbeda pandangan denganmu. Engkau akan mudah menuduh orang yang berseberangan pandangan denganmu sebagai bodoh, tolol, anti dakwah atau bahkan munafik dan kafir. Berhati-hatilah, sesungguhnya Engkau sedang menghancurkan dakwah ilallah.

Ketahuilah olehmu, bahwa kafir dan iman adalah dua hal yang bertolak belakang. Keduanya berada di tempat yang berbeda dan berseberangan. Oleh karena itu, seseorang tidak mungkin menjadi orang beriman sekaligus kafir pada saat yang sama, atau sebaliknya kafir sekaligus beriman pada waktu bersamaan. Oleh sebab itu pula, jika Engkau menilai seorang muslim yang berbeda pandangan denganmu sebagai kafir atau munafiq, itu berarti Engkau sedang menilai dirimu sebagai orag beriman.

Tetapi awas, bila penilaanmu itu ternyata salah, muslim yang Engkau tuduh itu ternyata tidaklah tergolong kafir atau munafiq, maka berarti yang kafir atau munafik itu adalah Engkau sendiri. Maka, berhati-hatilah menuduh seorang muslim sebagai kafir atau munafk karena itu akan menjerumuskan dirimu sendiri.

Tapi, jika sudah terang dan jelas kekafiran seseorang, janganlah pula Engkau ragu menyatakan ia kafir. Karena bila kau katakan ia beriman padahal sesungguhnya ia telah kafir, maka Engkaulah yang kafir itu. Begitulah peringatan Rasulullah…

Dakwah itu, membangun ukhuwah. Ukhuwah itu, terbina dengan adanya pertautan hati yang berisi kasih sayang dan rasa mencinta. Oleh karena itu, pandai-pandailah Engkau menjaga hati saudaramu. Jaga sikap laku dan tutur lisanmu jangan sampai menyakiti. Hindarilah olehmu ghibah, menceritakan keburukan saudaramu. Jauhi olehmu mencari-cari kesalahan saudaramu itu. Tutup semua cela dan aibnya, jangan sampai keluar dari mulutmu. Jangan sekali-kali memfitnah ! Maukah Engkau memakan bangkai saudaramu sendiri ? tentulah Engkau merasa jijik. Itulah perumpamaan orang-orang yang suka ber- ghibah dan mencari-cari kesalahan saudaranya.

Ingatlah sekali lagi, bahwa dakwah itu membangun ukhuwah dan ukhuwah itu membina jembatan hati. Kalau hati tersakiti, entah kemana obat akan dicari; kalau hati yang terluka, tidak mudah mengobatinya, perlu waktu lama. Runtuhlah jembatan hati. Engkau sedang merusak Dakwah…

Dalam menempuh jalan Dakwah ilallah ini, Engkau akan menghadapi suasana yang menyenangkan tapi juga di ketika lain menghadapi kesusahan dan rasa putus asa. Ingatlah, bahwa senang dan susah itu adalah ujian : apakah Engkau tegak berdiri menapaki jalan mencapai tujuan.

”Maka, marilah kita melihat tiap-tiap persoalan yang kita hadapi dari masa ke masa, sekarang atau masa yang akan datang, sebagai ujian, sebagai Ibtila’ yang silih berganti; dan tidak usah kita menyembunyikan diri dari padanya, tetapi kita harus hadapi dengan iman, dengan warisan Rasulullah saw : Kitabullah wa sunnatun Nabiyih. Begitu pesan Bapak Mohammad Natsir yang ditanyang lewat video, ketika acara Tasyakkur 24 tahun Dewan Dakwah di 24 Mei 1991.

Demikianlah nasehatku pada diriku sendiri dan kepada Engkau yang telah meneguhkan hati melangkah di jalan Dakwah ilallah

More Stories
Investasi Emas Di Masa Covid-19, Bisa Juga Via On Line