ekonomi syariah
Salah satu aksi sosialisasi FoSSEI di Jakarta untuk menyosialisasikan ekonomi syariah. Foto: fossei.org

Dibutuhkan, Lebih Banyak Penggiat Ekonomi Syariah

Forum Silaturrahim Studi Ekonomi Islam (Fossei) Indonesia mengakui meski pertumbuhan ekonomi syariah saat ini semakin pesat, namun dalam perjalanannya banyak kendala yang dihadapi.

ekonomi syariah
Salah satu aksi sosialisasi FoSSEI di Jakarta untuk menyosialisasikan ekonomi syariah. Foto: fossei.org

Fossei merinci, rintangan yang dihadapi di antaranya belum meratanya perkembangan Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) dan Regional baik secara keilmuan maupun keorganisasian di Indonesia, belum optimalnya dalam penggunaan dan penerapan perangkat pendukung organisasi yang merujuk khususnya pada buku Manajamen KSEI dan Kaderisasi, dan belum maksimalnya kemampuan dan kemandirian KSEI dalam mengelola keuangan.

“Tantangan inilah yang menjadi fokus utama para Presidium Nasional masa amanah 2014/2015, yang harus segera diselesaikan bersama,” kata Khoirul Zadid Taqwa, koordinator Fossei Jawa Timur ketika ditemui MySharing di kampus Unair baru-baru ini.

Zadid mengatakan upaya yang dilakukan Fossei memang hanya dalam tataran keilmuan. Sementara dalam penerapan ekonomi syariah secara teknis di lapangan, tergantung pada KSEI. Itu sebabnya, Zadid bilang, setelah mengikuti Munas Fossei dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke- XII yang berlangsung pada 28-31 Agustus 2014 lalu bertempat di Aula Wisma PU Binamarga, Bandung, Fossei Jatim akan fokus untuk memperkuat jaringan KSEI di tingkat regional.

Sekadar diketahui FoSSEI adalah organisasi yang mengkader mahasiswa menjadi insan yang paham akan Islam di bidang ekonomi hingga mengakar di setiap aktivitasnya. Pada tahap ini yang paling ditekankan pada mahasiswa adalah kekuatan keilmuan ekonomi Islam dan kebersamaan (ukhuwah). Baca juga: Ayo, Gairahkan Penelitian Ekonomi Syariah.

Hal ini sangat penting dalam menyosialisasikan ekonomi syariah karena tipe perkembangan ekonomi syariah Indonesia adalah bottom-up. Usaha FoSSEI dalam membumikan ekonomi Islam di masyarakat diwujudkan melalui social project yang dilakukan oleh setiap KSEI.

“Belum lama ini misalnya, KSEI menggelar olimpiade ekonomi Islam tingkat SMA, KSEI road to school (mengajar), KSEI road to village (abdi desa), donor darah, dan lain-lain. Adapun bentuk kontribusi secara politik adalah dengan melakukan advokasi ke lembaga-lembaga birokrasi dan membangun kerja sama dengan pihak-pihak terkait seperti OJK, MES, IAEI, PKES, dan lain-lain,” urai Zadid lagi.

Jika  KSEI-KSEI ini kuat, sambung Zadid, maka pertumbuhan dan perkembangan ekonomi syariah di Indonesia akan lebih kuat lagi.

“Saat ini kami tengah fokus untuk menggerakkan KSEI-KSEI di daerah agar mereka memberdayakan masyarakat desa binaannya untuk diarahkan bisa memiliki koperasi,” imbuhnya.

Zadid membenarkan bahwa pencapaian KSEI di masing-masing daerah untuk mengembangkan ekonomi syariah tidaklah sama. Selain tergantung pada peran aktif KSEI sendiri, faktor lain yang pengaruhnya cukup besar adalah ‘gesekan budaya’ di tempat KSEI itu berada.

“Di Bali misalnya, di mana mayoritas penduduknya beragama Hindu, dengan sendirinya kecepatan pertumbuhan ekonomi syariah tidak bisa diharapkan sama dengan daerah lain,” ujar mahasiswa semester V Prodi Ekonomi Syariah Universitas Airlangga ini memberi contoh.

Ke depan, untuk memperkuat jaringan KSEI di berbagai daerah di Jawa Timur, Fossei memberikan ‘rambu-rambu’ kepada kelompok studi ekonomi Islam sebagai salah satu ‘kaki’ untuk penyebaran ekonomi Islami tersebut. Di antaranya, mendisiplinkan sumber daya manusia yang ada di dalamnya, memperbanyak partner atau mitra dalam rangka memperluas jaringan ekonomi syariah, dan menggiatkan kegiatan-kegiatan untuk sosialisasi ekonomi syariah.

More Stories
BNI Syariah Bagikan Tips Investasi di Surat Berharga Syariah