Pembicara dari tim Redaksi Majalah Diffa (ki-ka) Jonna Damanik, FX. Rudi Gunawan, dan Nestor Rico Tambunan, pada hari ke dua workshop, Kamis 27 Februari 2014.

Diffa Minta Media Peduli Isu Disabilitas

Media selama ini dinilai masih meminggirkan isu disabilitas untuk mewarnai pemberitaannya. Secara kuantitas dan kualitas, pemberitaan yang mengusung keberpihakan terhadap isu disabilitas, masih minimal. Demikian terungkap dalam Workshop Guidelines Journalism for Disabilities Issues, di SMK 57, Jakarta Selatan, selama 26-27 Februari 2014.

Pembicara dari tim Redaksi Majalah Diffa (ki-ka) Jonna Damanik, FX. Rudi Gunawan, dan Nestor Rico Tambunan, pada hari ke dua workshop, Kamis 27 Februari 2014.
Pembicara dari tim Redaksi Majalah Diffa (ki-ka) Jonna Damanik, FX. Rudi Gunawan, dan Nestor Rico Tambunan, pada hari ke dua workshop, Kamis 27 Februari 2014.
SHARING/ HERU LESMANA SYAFEI

Pemateri dari Majalah Diffa (Media Disabilitas Indonesia) Jonna Damanik mengatakan, menurut risetnya terhadap sejumlah media massa utama di Indonesia bersama lembaga perburuhan internasional ILO (International Labour Organization) selama Juni 2011 sampai Desember 2012 menyimpulkan kondisi pemberitaan yang kurang menampilkan isu disabilitas.

“Secara kuantitas, minim kavling,” ucap Jonna pria yang mengalami disabilitas untuk penglihatan itu.

Jonna melanjutkan, pemberitaan isu disabilitas cenderung situasional, atau insidental, jika mendapati momentum tertentu. Contohnya, situasional tersebut adalah hanya jika terjadi kasus ketidakadilan, prestasi tertentu yang dilakukan oleh penyandang disabilitas, atau peringatan Hari Disabilitas Internasional, yakni pada 3 Desember.

Jonna memandang, kondisi demikian disebabkan isu disabilitas belum melekat untuk termasuk jadi bagian dari dalam kebijakan redaksional. Yang ditampilkan redaksi cenderung berupa news yang tidak mendalam. Redaksi media massa juga dipandang tidak paham terhadap isu disabilitas sehingga menyebabkan sudut pemberitaan tidak pas.

Pemilihan bahasa dalam pemberitaan isu disabilitas juga juga dinilai oleh Jonna berlebihan, cenderung kontras dikotomis antara normal dan tidak normal, yang mengikuti stigma negatif yang beredar di masyarakat.  Tema liputan isu disabilitas tampak sangat bergantung pada news value, sehingga yang tayang secara redaksional bersifat bombastis, akrobatik, dan tanpa menampilkan kajian yang mendalam dan lebih bermanfaat.

“Langka, interaksi dunia disabilitas dengan media,” tambah Nestor Rico Tambunan, yang juga anggota redaksi Majalah Diffa.

Nestor mencoba melihat di sisi lain. Minimnya media yang menampilkan pemberitaan dari sudut pandang isu disabilitas secara berkualitas itu bisa jadi karena pihak penyandang disabilitas yang berjarak dengan media. Jika penyandang disabilitas melakukan media visit, atau kunjungan ke kantor media massa tertentu, bisa jadi membantu untuk menumbuhkan kesalingmengertian.

Sementara, dari ILO, Yohanis Pakereng, pejabat National Project Coordinator khusus untuk Project Propel (Promoting Rights and Opportunities of People with Disability in Employment Through Legislation) menganggap media punya peran penting terutama dalam membentuk opini masyarakat, mengubah pandangan masyarakat dalam melihat isu disabilitas secara lebih baik.

“Sebelumnya kelihatannya media tidak terlalu tertarik meliput isu disabilitas, mungkin dianggap tidak terlalu seksi isunya,” kata Yohanis.

Yohanis mengatakan, ILO mendukung workshop tersebut, sebagai salah satu cara untuk menumbuhkan kesadaran media agar meningkatkan kualitas dan kuantitas dalam peliputan isu disabilitas. Output dari workshop tersebut berupa buku saku panduan meliput isu disabilitas yang akan diterbitkan dalam tahun ini.

More Stories
MobilDompet Dhuafa yang hancur kaca samping dan depannya. Foto: Dompet Dhuafa
Polisi Serang Tim Kemanusiaan Dompet Dhuafa