Pendiri Bina Swadaya, Bambang Ismawan (batik coklat) pada konferensi pers di Philanthropy Building, Jakarta, Kamis (14/9). foto:MySharing.

Dua Kutub Usaha Sosial

Usaha sosial menjadi pembuktian bisnis dalam upaya pemberdayaan masyarakat.

Direktur Usaha Sosial Dompet Dhuafa Social Enterprise, Rini Suprihartanti mengatakan, ada dua kutub tradisional yang ditemui, yaitu bisnis dan filantropi. Filantropi fokus pada tujuan sosial dan bisnis terorientasi profit bagi pemilik usaha saja.

“Usaha sosial ada di tengah keduanya, ada misi sosial dan bisnis. Usaha dijalankan seperti bisnis pada umumnya. Hanya saja, profit yang dihasilkan entitas bisnis tidak kembali ke personal tapi ke masyarakat,” jelas Rini, dalam konferensi pers “Mengembangkan Social Enterpise di Indonesia”, di Philanthropy Building, Jakarta, Kamis (14/9).

Dijelaskan dia, dalam konteks usaha sosial, Dompet Dhuafa menguncinya dengan menggunakan lembaga yayasan di mana profit yang dihasilkan akan kembali ke yayasan untuk dikembalikan ke masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan. ”Membangun bisnis itu pasti sulit. Tapi, bagaimana menjadikan mereka yang tergabung mempunyai satu misi

Dompet Dhuafa mengombinasi usaha sosial Islami yang sumber dananya dari dana keuangan sosial Islam. Menurutnya, pengelola dana keungan sosial Islam ini baik statusnya pengelola wakaf (nazhir) atau pengelola zakat (amil) mempunya hak yang sudah ada ketentuannya.

Lebih lanjut dijelaskan, bahwa usaha sosial Dompet Dhuafa mempunyai tiga model yakni lembaga bisnis sosial, usaha sosial, dan usaha komunitas. Lembaga bisnis sosial ini berupa perseroan yang operasionalnya seperti bisnis. Sementara, usaha sosial adalah model pembinaan masyarakat untuk berproduksi dan menangkap produk mereka untuk dipasarkan.

”Dalam usaha sosial, mitra binaan Dompet Dhuafa akan diperhatikan rantai usahanya. Mitra binaan ini jadi pemasok produk untuk dipasarkan kepada para donatur,” ujar Rini.

Sementara, lanjut dia, usaha komunitas adalah basis awal usaha sosial. Sebab dalam model, tim Dompet Usaha memberi pelatihan, modal hibah dari dana sosial Islam, dan pendampingan sampai mitra binaan bisa membentuk organisasi mereka.

”Kalau zakat, maka sasarannya adalah mustahik. Jadi, ada pengukuran dampak karena ini dana dari masyarakat,” ungkapnya.

Pada kesempatan ini, Rini pun mengakui, bahwa sebelumnya Dompet Dhuapa tidak tahu model pemberdayaan yang mereka lakukan merupakan bentuk usaha sosial sampai hal itu diangkat menjadi bahan riset.Menurutnya, dari hasil riset pihak di luar Dompet Dhuafa terhadap program Tebar Hewan Kurban, tujuan pemberdayaan dinilai bisa sinergi dengan pola bisnis. Pengakuan dari berbagai pihak atas hal itu menyakinkan Dompet Dhuafa bahwa mereka berada di jalur yang tepat.

More Stories
Gowes Sehat Bareng Umat Jakarta