Edukasi dan Pengelolaan Zakat Fitrah

Oleh Nurizal Ismail (Direktur Pusat Studi Kitab Klasik Islami STEI Tazkia dan Peneliti ISEFID)

Bulan Ramadhan hampir berakhir dan kita akan menyambut 1 Syawwal 1439 H, yaitu hari ‘Idul Fitri. Ada satu kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap umat Muslim yaitu zakat. Zakat fitrah adalah zakat pertama yang diwajibkan di bulan Ramadhan pada tahun kedua hijriyah. Secara bahasa fitrah adalah sedekah atas badan atau jiwa dan sehingga secara istilah berarti sedekah wajib atas jiwa di Bulan Ramadhan sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia (al-lagh) dan kata-kata kotor (al-rafast).

Para ‘Amil berperan penting dalam pengelolaan zakat fitrah ini baik melalui lembaga zakat yang resmi ataupun melalui mushallah dan masjid. Salah satu faktor keberhasilan dalam pengelolaan zakat fitrah adalah pemahahaman masyarakat akan zakat fitrah dan pengelolaannya. Karena itu edukasi tentang pemahaman dan pengelolaan zakat fitrah harus menjadi perhatian para ‘amil zakat. Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan oleh para ‘amil tentang zakat fitrah.

Banyak masyarakat yang belum memahami secara benar tentang zakat fitrah, sehingga perlu edukasi secara total oleh para ‘amil. Ketentuan-ketentuan zakat fitrah yang harus menjadi perhatian para ‘amil dan muzakki adalah siapa yang wajib zakat, siapa yang berhak menerima zakat, apa yang dizakatkan dan berapa kadarnya. Mereka yang wajib zakat adalah setiap Muslim yang dalam banyak hadits telah dijelaskan bahwa zakat fitrah adalah wajib atas setiap Muslim baik orang yang bebas atau hamba sahaya, lelaki atau perempuan, dan anak atau dewasa. Ghina (berkecukupan) adalah syarat yang kedua dan belum banyak orang yang memahaminya sehingga perlu penjelasan lebih komprehensif.

Selama seseorang mempunyai lebih makanan lebih dari satu sha’ untuk memenuhi kebutuhan di malam dan hari ‘idul fitri, maka wajib membayar zakat fitrah dan masuk dalam kategori ghȃni (orang yang cukup). Sabda Nabi Muhammad SAW:”Barang siapa meminta-minta, padahal dia memiliki sesuatu yang mencukupinya, maka sesungguhnya dia telah mengumpulkan bara api.” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana ukuran mencukupi tersebut? Rasulullah SAW bersabda, “Seukuran makanan yang mengenyangkan untuk sehari semalam.” (HR: Abu Daud).  Misalnya, Si fulan memiliki 1 istri dan 3 anak pada malam hari raya dengan beras raskin seberat 20 kg dan uang Rp. 50,000.00. kebutuhannya  dalam sehari menghabiskan 4 kg beras plus dengan lauk seharga Rp. 30,000, sehingga memiliki sisanya seberat 16 kg beras. Berdasarkan kasus ini Si Fulan wajib membayar zakat fitrahnya karena masih mempunyai sisa makanan yang cukup untuk dirinya dan keluarganya pada saat hari raya. Mayoritas ulama berpendapat bahwa batasan mampu adalah yang mempunyai kelebihan makanan bagi dirinya dan keluarganya pada malam dan hari ‘Idul fitri.

Permasalahan lain yang perlu menjadi perhatian di masyarakat perkotaan yang mayoritasnya banyak menggunakan tenaga para pembantu yang hidup bersama dengan satu keluarga. Sebaiknya, zakat fitrahnya menjadi tanggung jawab majikan, karena terkadang mereka lupa disibukkan dengan acara rutinan mudik ke kampung. Selain itu juga mereka telah hidup bersama dengan majikan dengan waktu yang lama di suatu daerah tertentu. Syarat ketiga adalah waktu wajibnya zakat  fitrah yaitu mulai terbenamnya matahari di malam Ramadhan. Batasan wajib pembayarannya adalah terbenamnya matahari pada malam hari raya. Implikasinya, mereka yang lahir dan meninggal ketika jatuh waktu wajib zakat fitrah, terkena kewajibannya yang dibebankan  kepada pihak keluarga. Namun, para ‘amil juga diperbolehkan (hukumnya mubah) membuka pembayaran zakat dari permulaan Ramadhan sampai akhir. Diriwayatkan dari Nafi’: bahwa sesungguhnya Abdullah bin Umar menyuruh orang mengeluarkan zakat fitrah kepada petugas yang kepadanya zakat fitrah dikumpulkan dua hari atau tiga hari sebelum hari raya fitri (HR: Malik). Para ‘amil juga tidak boleh menutup pembayaran zakat sampai batas waktu yang telah ditentukan yaitu sebelum ‘dilaksanakannya shalat ‘Ied. Mungkin saja ada orang-orang yang ingin membayarnya pada waktu yang disunnahkan yaitu setelah waktu fajar sampai sebelum datangnya shalat ‘ied. Rasulullah SAW bersabda:”Barang siapa yang membayar zakat fitrah sebelum shalat ‘ied, maka termasuk zakat fitrah, dan barang siapa yang membayarnya sesudah shalat ‘ied, maka termasuk sedekah biasa.” (HR: Bukhari dan Muslim).

Banyak masyarakat yang belum memahami secara benar tentang zakat fitrah Click To Tweet

Selanjutnya, apa yang harus kita bayarkan untuk zakat fitrah. Mayoritas  mazhab fikih (Syafi’iiyah, Maliki dan Hanbali) berpendapat bahwa zakat fitrah harus dengan makan pokok yang biasa dimakan, bukan uang. Hanya Mazhab Hanafiyyah dan beberapa ulama lainnya seperti Umar bin Abdul Aziz, Ibnu Umar, yang membolehkannya dengan qimah atau uang. Pendapat pertengahan mengatakan perlu melihat kondisi mana yang lebih maslahat. Masalah khilafiyyah ini tidak perlu diperdebatkan, karena masing-masing mempunyai keyakinan untuk memilihnya. Sebenarnya yang diperlukan adalah solusi yang diberikan oleh para ‘amil.

Bagi masjid-masjid atau lembaga zakat resmi yang berpegangan pada pendapat pertama, para ‘amil tidak harus menolak para muzakki dengan uang karena niatnya sudah baik, karena itu perlunya persediaan beras baik dengan cara membeli atau kerjasama dengan toko-toko penjual beras, sehingga memudahkan para muzakki. Mereka cukup membeli beras yang telah disediakan oleh para ‘amil dan setelah itu baru membayarkan zakatnya dalam bentuk beras sesuai dengan yang dimakan. Sedangkan pendapat kedua dan ketiga tidak terlalu menjadi masalah karena mengakomodir zakat dengan makanan pokok dan uang. Adapun untuk takaran zakat fitrah tidak pernah berubah yaitu satu sha’ sebagaimana yang telah ditentukan oleh Rasulullah SAW. Saat ini, ukuran yang biasa digunakan adalah kilogram atau liter dalam pembayaran zakat fitrah. Ukuran yang amana adalah 1 Sha’ beras kurang lebih setara dengan 3 kg beras dan 3,5 liter. Sedangkan zakat fitrah setara dengan uang, setiap daerah memiliki ketentuan yang berbeda disesuaikan dengan harga beras di pasaran.

Para amil tidak harus menolak muzakki yang berzakat fitrah dengan uang karena niatnya sudah baik Click To Tweet

Untuk distribusi zakat ke penerimanya, beberapa daerah di Indonesia melakukannya dengan cara yang berbeda seperti petugas ‘amil membagikan secara merata kepada seluruh warga desa (tanpa melihat orang tersebut kaya atau miskin) karena menurut pada kebiasaan yang berlaku. Padahal ada dua pendapat yaitu mengatakan bahwa zakat hanya untuk fakir miskin dan yang membutuhkan dan yang mengatakan alokasinya untuk semua asnaf zakat yang delapan. Pembagian secara merata tidak ada dalilnya dan menyalahi syariat, oleh karena itu praktek-praktek seperti ini perlu dihilangkan. Sedangkan untuk tempat distribusinya yang paling baik adalah tempat dimana mereka berada untuk membayar zakatnya dan dikembalikan kepada para fakir dan miskinnya. Sebenarnya ini memudahkan para ‘amil untuk melakukan pendataan terkait warga fakir dan miskin yang ada disekitarnya. Jika tidak didapatkan warga fakir dan miskin di daerah tertentu, maka para ‘amil boleh mengirimkannya ke daerah-daerah lain yang masih ada orang-orang yang fakir dan miskin.

Terakhir, para ‘amil harus mendoakan mereka pembayar zakat fitrah sebagaimana perintah Allah Ta’ala dalam Surat  al-Taubah: 103:”…dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya do’amu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Diriwayatkan oleh al-Nasai dari Wa-il bin Hujr Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:”Rasulullah SAW pernah berdo’a untuk seseorang yang memberikan unta yang bagus sebagai pembayaran zakat. Lalu Rasulullah mendoakannya:”Ya Allah, berikanlah keberkahan untuk dirinya dan unta-untanya. Semoga kita semua mendapatkan hidup yang berkah di dunia dan akhirat! Wallahu’alam bisswab

More Stories
Ijtima ulama 4
Ijtima Ulama 4 Tidak Ada Kaitannya dengan Rekonsiliasi