ilustrasi ekonomi berjamaah
Ilsutrasi: MySharing

Ekonomi Berjamaah, Bagaimana Seharusnya?

Jika umat Muslim sudah tumbuh kesadarannya untuk shalat berjamaah, maka dalam ekonomi juga seharusnya.

Sulit dipungkiri, kesadaran untuk berjamaah itu kian kuat. Makin banyak umat Muslim yang shalat berjamaah di masjid-mesjid. Pun dengan kegiatan keagamaan Muslim lainnya. Namun, sebenarnya, Islam tidak hanya mengatur soal ritual ibadat, juga aspek ekonomi.

Berjamaah juga bisa dilakukan dalam hal berekonomi dan berbisnis. Kita melihat pada pasa pra kemerdekaan, Syarikat Islam (SI) dan Syarikat Dagang Islam (SDI) adalah sebuah model berjamaahnya para pengusaha Muslim dalam bisnis di Nusantara.

Sulit dipungkiri, baik SI maupun SDI kemudian menjadi salah satu tonggak bangkitnya kesadaran bangsa Indonesia, yang sebagian besar Muslim, untuk merebut kembali kedaulatannya. Yang kemudian berbuah proklamasi kemerdekaan.

Saat ini, wacana ekonomi berjamaah juga kembali menyeruak. Seiring tumbuhnya kesadaran ummat Muslim untuk bersatu dan bangkit, baik secara politik maupun ekonomi.

Kepada MySharing pada Jumat (5/7), Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI., Direktur Pasca Sarjana Institut Agama Islam Sahid, Bogor mengatakan, “Bicara tentang jamaah, bicara tentang kebersamaan. Berarti bicara tentang bagaimana kita sebagai seorang Muslim mencoba untuk mengikis dari dalam diri kita itu apa, sifat egois”.

Bagaimana sejatinya ekonomi berjamaah itu? Simak di serial Vlog Ekonomi Islam berikut ini:

Transkrip
Allah Swt berfirman, audzubillahi minasyaitan nirrajim bismillahirrahmanirrohim wa’tashimu bi hablillahi jami’an wala tafarraqu.

Allah Swt berfirman, berpegang teguhlah pada tali Allah Swt dan jangan bercerai berai ayat ini sangat familiar di kalangan umat Islam, tetapi dalam konteks ekonomi sejatinya ayat ini mengajarkan kepada kita.

Umat Islam untuk apa, untuk waktasimu, untuk berpegang teguh, untuk bersama, untuk berjamaah, bi hablillah dengan syariat Allah Swt.

Maka, bicara tentang ekonomi syariah, bicara tentang jamaah, bicara tentang kebersamaan. Berarti bicara tentang bagaimana kita sebagai seorang Muslim mencoba untuk mengikis dari dalam diri kita itu apa, sifat egois.

Berjamaah, berarti bagaimana seorang Muslim mengikis sifat egois Click To Tweet

Sifat yang seolah-olah kita ingin memperkaya diri sendiri memperkaya diri sendiri kemudian apa, tidak peduli dengan orang lain. Padahal jelas, banyak ayat-ayat Alquran dan banyak juga hadits yang berbicara bagaimana, ketika seseorang itu.

Umpamanya dia dalam keadaan kenyang tetapi tetangganya kelaparan ini salah satu yang dilaknat oleh Rasul Saw. Maka bicara tentang ekonomi Islam, sejatinya juga bukan hanya bicara tentang kemapanan atau keberhasilan seseorang. Tetapi juga bicara tentang bagaimana ternyata keberhasilan dia, haruslah ditopang dengan kemanfaatan untuk orang lain.

Sehingga kemudian kita mengenal banyak sekali, syariat Islam yang berkaitan dengan apa, filantropi. Bagaimana kita itu, secara individual itu kita memiliki kekayaan, kita memiliki kemampuan, tetapi kemudian apa, kekayaan kita itu memberi manfaat juga untuk orang lain.

Apalagi dalam konteks sekarang di mana, sifat dari individual itu sangat tinggi, kemudian apa, memunculkan apa yang disebut dengan kapitalisme ya di mana mereka orang kaya itu atau, kekayaan itu hanya ada pada orang-orang tertentu saja.

Yaitu orang kaya, sehingga memunculkan apa, gap antara yang kaya dan yang miskin kemudian kembali kepada ekonomi berjamaah, berarti bicara tentang bagaimana kekuatan kita tadi kalau kita sudah bersatu padu, ya kita berjamaah bersama-sama ummat ini.

al Muslim, ahlul Muslim. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lainnya Click To Tweet

Maka potensi itu luar biasa sekali, seandainya mereka bersatu membuat sebuah lembaga keuangan, kemudian dalam satu ikatan dalam satu barisan, untuk melakukan aktivitas ekonomi dari hulu sampai ke hilir. Maka ini, perlunya apa, perlunya rasa persaudaraan, rasa bahwa, orang lain, Muslim, itu adalah saudara kita. Karena apa, al Muslim, ahlul Muslim. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lainnya.

Ini dari secara individu kita harus bangun dulu, kita bangun bagaimana, Muslim yang lain adalah saudara kita sehingga kalau orang lain kelaparan, kita pun harusnya merasakan. Apa yang bisa kita lakukan?

Apalagi hanya memberikan zakat hanya satu tahun sekali, oh tidak cukup zakat fitrah hanya beras saja, oh tidak.

Itu adalah sebuah kewajiban, tetapi ada banyak Islamic Filanthrophy lain yang bisa kita kembangkan, bermanfaat untuk fakir miskin, dhuafa, yatim, dan sebagainya.

Selain itu di dalam level arsy yang atas juga kita membina bagaimana agar ekonomi itu betul-betul, ekonomi Islam itu dalam artian ummat.

Muslim itu harus bersatu, bersatu padu untuk apa, membuat sebuah sistem ekonomi yang memang memberikan maslahat untuk Muslim itu harus bersatu. Bersatu padu untuk apa, membuat sebuah sistem ekonomi yang memang memberikan maslahat untuk umat Islam dan juga untuk umat yang lainnya. Sehingga ketika berbicara tentang ekonomi berjamaah berarti kita mulai umat Islam dan juga untuk umat yang lainnya.

Sehingga ketika berbicara tentang ekonomi berjamaah berarti kita mulai dari diri kita, ya merasakan Muslim yang lain itu adalah saudara kita. Kemudian juga, saudara-saudara kita yang lain, kita bersama berpegang tangan untuk apa, menegakkan ekonomi syariah. Maka dengan ini InsyaAllahu taala.

Ekonomi syariah akan semakin memberikan manfaatnya, akan semakin memberikan maslahatnya untuk umat Islam dan juga umat yang lainnya, dan juga semesta alam.

More Stories
ACT Gaungkan #SayaPeduliWamena