FISIP Merintis Politik Ekonomi Islam di Universitas Jember

Meskipun di Universitas Jember sudah bermunculan penggiat ekonomi Islam di kalangan mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI), namun secara struktural akademis belum ada wadah bagi keilmuan ini di perguruan tinggi tersebut.

Ekonomi Islam
Prof. Muhammad Syukri Salleh dari USM. Foto: Khairunnisa Musari

Menangkap adanya peta dinamika politik perekonomian nasional dan global yang sharia-based, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) berinisiatif untuk menyelenggarakan forum ekonomi Islam dalam rangka mengkolaborasi pemikiran dan praktik ekonomi Islam yang kini menjadi new institutional economic serta menjadi kekuatan ekonomi alternatif di tengah ketidakpastian tata ekonomi dunia.

Ekonomi Islam
Achmad Buchori dari OJK bersama Rektor Universitas Jember dan Bupati Jember Membuka PESPI dan KIPI ke-1. Foto: Khairunnisa Musari

Pada ajang Festival Tegalboto 2014 dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-50, Universitas Jember memberi amanah kepada FISIP untuk merintis sinergi dengan perguruan tinggi di wilayah ASEAN untuk saling bertukar pikiran dan informasi terkait ekonomi Islami secara keilmuan maupun praktek. Dalam Pekan Ekonomi Syariah dan Pembangunan Islami (PESPI) yang merupakan bagian dari kegiatan Festival Tegalboto 2014, FISIP menyelenggarakan Konferensi Internasional dan Pembangunan Islami (KIPI) ke-1.

Debut perdana FISIP dalam PESPI yang membawa tema ‘Akselerasi Kebangkitan Kembali Peradaban Islam (The Acceleration of Islamic Civilization Reawakening)’ adalah bekerjasama dengan Universiti Sains Malaysia (USM) untuk menyelenggarakan KIPI ke-1. Tema yang dibawakan adalah ‘Situasi Terkini Ekonomi Islam (The Current Situation of Islamic Economics)’. KIPI direncanakan untuk diselenggarakan secara reguler dengan satu tema khusus setiap tahunnya dan diharapkan dapat meluas menjadi rangkaian diskusi antar bangsa yang berkesinambungan setiap tahunnya.

Ekonomi Islam
Direktur Pengaturan, Pengembangan, Perizinan dan Pengawasan Bank Syariah OJK Ahmad Buchori. Foto: Khairunnisa Musari

Ya, jika kehadiran forum-forum ekonomi Islam di kampus lain diusung oleh Fakultas Ekonomi, sedikit berbeda dengan Universitas Jember yang motor penggeraknya adalah FISIP. Menurut Himawan Bayu Patriadi, PhD., Pembantu Dekan I FISIP Universitas Jember, pihaknya memiliki keinginan besar untuk mengintegrasikan dan menyebarluaskan pemikiran-pemikiran ilmuwan muslim tentang esensi pendekatan pembangunan alternatif, khususnya berkenaan dengan bidang ekonomi Islam terkini kepada para pemikir dan pelaku pembangunan dalam perspektif Islam. Dorongan untuk berkontribusi pemikiran dan bahkan solusi praktis atas persoalan-persoalan yang muncul dalam sistem ekonomi konvensional menjadi latar belakang FISIP menggaungkan forum ekonomi Islam di Kampus Tegalboto tersebut.

Ekonomi Islam
Dr. Irfan Syauqi Beik & Dr. Aries Muftie Mengisi Sesi Terakhir. Foto: Khairunnisa Musari

Ditambahkan Dr. Budhy Santoso, Ketua Panitia KIPI ke-1, praktek ekonomi Islam yang berlangsung dalam beberapa dekade terakhir ini telah menjadi bagian penting dari dinamika pelaku ekonomi utama, khususnya pada instrumen-instrumen pembangunan ekonomi. Namun demikian, ada sisi lain dari praktek ekonomi Islam yang menampakkan gejala awal terjebaknya praktik ekonomi ini menjadi lebih liberal dibandingkan ekonomi konvensional.

Ekonomi Islam
Rektor Universitas Jember bersama OJK dan Bupati Jember. Foto: Khairunnisa Musari

Dr. Supranoto, dosen FISIP Universitas Jember yang didapuk menjadi moderator dalam KIPI ke-1 mengemukakan bahwa kebijakan ekonomi Islam tidak bisa lepas dari politik Islam. Keduanya saling bertautan dan menjadi bagian dari kelompok muamalah. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam tatanan ekonomi nasional dan dunia perlu disikapi dan menjadi kajian penting bagi ilmu politik maupun ilmu sosial untuk memotret dinamika tersebut dari perspektif Islam.

Ekonomi Islam
Panitia FISIP untuk KIPI 2014. Foto: Khairunnisa Musari

“Makanya, FISIP berkepentingan dalam forum-forum seperti ini karena pembangunan Islami itu tidak hanya dibangun oleh ilmu ekonomi Islam saja. Kami dari FISIP juga perlu berkontribusi pemikiran dalam kajian-kajian pembangunan Islami untuk melengkapi dari sisi politik dan sosial secara keilmuan maupun praktek,” tuturnya.

Lebih jauh, pembukaan PESPI dan KIPI ke-1 dimulai dengan Kuliah Umum dari Direktur Pengaturan Pengembangan Perizinan dan Pengawasan Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ahmad Buchori di Gedung Rektorat Universitas Jember dengan peserta mahasiswa dan sejumlah undangan. Berikutnya, dilakukan jamuan makan malam oleh Bupati Jember di Pendopo Kabupaten Jember yang membuka dan menyambut secara resmi tamu-tamu dari Centre for Islamic Development Management Studies (ISDEV) USM, OJK, dan para narasumber KIPI ke-1.

Ekonomi Islam
Prof. Muhamad & Dr. Nurul Huda Berfoto Bersama Sekjen DPW IAEI Besuki Raya dan Akademisi dari Universiti Sains Malaysia dan Staf Ahli DPR RI. Foto: Khairunnisa Musari

Pada hari pertama KIPI ke-1, secara berturut-turut yang menjadi pemateri adalah Prof. Muhammad Syukri Salleh dari ISDEV USM dengan materi ‘9 Deficiencies of Mainstream Islamic Economics’, Prof. Iwan Triyuwono dari Universitas Brawijaya dengan materi ‘(Makrifat) Metodologi Penelitian Ilmu Ekonomi (Mikro) Syari’ah berduet dengan Dr. Zakaria Bahari dari ISDEV USM dengan materi ‘Metodologi Penelitian Ekonomi Islam’. Siang hari, konferensi berlanjut dengan menghadirkan Dr. Shukri Hanapi dari ISDEV USM dengan materi ‘Tasawur Ekonomi Islam’ dan Dwi Suslamanto dari Bank Indonesia Jember yang membawa materi ‘Situasi Terkini Ekonomi Islam (Indonesia dan Dunia)’.

Pada hari ke-2, secara berturut-turut yang menjadi pemateri adalah Prof. Suroso Imam Zadjuli dari Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Airlangga dengan materi ‘Perkembangan Pendidikan Tinggi Program Studi Ilmu Ekonomi Islam di Dunia dan Indonesia’, Prof. Muhamad, M.Ag dari Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Yogyakarta dengan materi ‘Pendidikan dan Pengajaran Ekonomi Islam di Era Kekinian’, dan Dr. Nurul Huda dari Universitas YARSI dan Ketua VI DPP Ikatan Ahli EKonomi Islam (IAEI) yang membawa materi ‘Posisi Keuangan Islam di Tengah Krisis Sistem Keuangan Konvensional’.

Ekonomi Islam
Prof. Suroso Imam Zadjuli dari FEB Unair. Foto: Khairunnisa Musari

Sebagai penutup KIPI ke-1, Dr. Irfan Syauqi Beik selaku Ketua Prodi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi Manajemen Institut Pertanian Bogor (FEM IPB) dengan materi ‘Optimalisasi Potensi Zakat dan Wakaf dalam Pembangunan Nasional’ berduet dengan Dr. Aries Muftie selaku Ketua Asosiasi Baitul Mal wat Tamwil se-Indonesia (ABSINDO) membawa materi ‘Strenghtening Zakat & Waqf Institution for Financial Inclusion’.

Di sela-sela acara konferensi, diskusi dengan tetamu dari negeri jiran ini berlanjut dengan hangat di meja makan maupun dalam ruang tunggu. Batik khas Jember, buku KIPI ke-1 yang berisikan kumpulan paper, dan bubuk Cokelat Indonesia (COKI) turut meramaikan stan penjualan. Berkat dukungan Fakultas Kedokteran Universitas Jember yang menyediakan Ruang Auditorium sebagai tempat acara, biidznillah, acara KIPI ke-1 berlangsung dengan lancar. Sampai bertemu kembali dengan KIPI ke-2 tahun depan…

Khairunnisa Musari adalah Panitia KIPI ke-1; Ketua Dharma Wanita Persatuan Fakultas Kedokteran Universitas Jember; Sekjen DPW IAEI Besuki Raya.

More Stories
Mandiri Syariah Dukung Pertamina Trans Kontinental Pembiayaan Investasi Pengadaan Kapal