Gus Sholah: “NU Sebaiknya Tidak Terlibat Politik Praktis”

Pesan terakhr Gus Sholah untuk ormas Islam terbesar di Indonesia yang didirikan kakeknya ini.

Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Dr. Salahuddin Wahid, wafat pada hari Ahad (2/2/2020) pukul 20.55 WIB di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta. Sebelum wafat, tokoh Hak Asasi Manusia (HAM) ini sempat menulis opini terakhirnya.

Opini yang menyoroti organisasi masyarakat (ormas) Nahdlatul Ulama (NU) yang didirikan oleh kakenya, KH Hasyim Asyari. Opini tersebut dimuat di Harian Kompas, yang dimuat pada Senin, 27 Januari 2020, kurang dari seminggu lalu.

Dalam opininya, Gus Sholah menganggap NU sudah terlalu politis. Ia pun menyarankan untuk kembali ke khittahnya. “NU sebaiknya tidak terlibat dalam politik praktis dan tetap berada di wilayah masyarakat madani. Sikap istikamah dan konsisten bergiat membuat NU bermartabat dan efektif menjadi jangkar bangsa Indonesia”, kata Gus Solah di opininya tersebut.

Ia menjelaskan, sebelumnya, Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfudz menyatakan bahwa politik NU adalah politik kebangsaan, politik keumatan, bukan politik kekuasaan atau politik praktis. Selain KH Sahal Mahfudz, KH As’ad Syamsul Arifin juga menyatakan bahwa NU tidak ke mana-mana, tapi ada di mana-mana. Maksudnya organisasi NU tidak ikut partai mana pun, tetapi warga NU ada di banyak partai.

Namun, di kenyataannya, NU sebagai organisasi bergabung ke satu partai, yaitu Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). “Bahkan, sedikit atau banyak ada campur tangan partai terhadap struktur NU. Ternyata warga NU yang memilih PKB hanya 15 persen dan yang memilih PPP hanya 5 persen. Struktur NU mendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin dan 2/3 warga NU memilih pasangan itu”, kata Gus Solah.

Menariknya yang baru-baru ini terjadi, yaitu setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan susunat cabinet di periode keduanya. “Yang kurang elok, saat tidak ada menteri yang dianggap mewakili PBNU, tokoh-tokoh NU seperti ngambek. Tentu tidak ada menteri yang mewakili PBNU karena NU bukan partai politik walaupun berperilaku dan bertindak seperti partai”, kata Gus Solah.

Gus Solah memahami alas an NU struktural bahwa Khitah NU dalam masalah politik bersifat situasional dan kondisional. Mereka mengatakan bahwa NU adalah ashabul qoror, bukan hanya ashabul haq.

Ternyata warga NU yang memilih PKB hanya 15% dan yang memilih PPP hanya 5% Click To Tweet

Benar bahwa NU juga berkepentingan dengan kekuasaan, bukan hanya kebenaran. Namun dari pengalaman sejarah membuktikan bahwa ketika organisasi NU memberi perhatian utama pada masalah politik, justeru kegiatan organisasi dalam amal usaha (kegiatan pendidikan, sosial, kesehatan dan ekonomi) terabaikan.

Oleh karenanya, menurut Gus Solah, “Pendapat dan sikap PBNU bahwa NU adalah ashabul qoror, bukan ashabul haq harus dibahas dalam muktamar. Masalah ini amat mendasar dan menentukan masa depan NU, bahkan masa depan Indonesia”.

More Stories
Dompet Dhuafa Ajak Masyarakat Atasi Kerawanan Pangan dan Stunting