Halal Hospital (Rumah Sakit Syariah) Berbasis Wakaf dalam Program SDGs

Oleh: Aisyah As-Salafiyah (Mahasiswa Semester 4 Prodi Hukum Ekonomi Syariah STEI Tazkia Bogor)

Salah satu tujuan dari program SDGs yaitu kesehatan yang baik dan kesejahteraan yang berisi beberapa target, di sinilah Islam bisa menjadi solusi.

Aisyah As-Salafiyah (Mahasiswa Semester 4 Prodi Hukum Ekonomi Syariah STEI Tazkia Bogor)
Aisyah As-Salafiyah (Mahasiswa Semester 4 Prodi Hukum Ekonomi Syariah STEI Tazkia Bogor)

Pada tanggal 25 September 2015 bertempat di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), para pemimpin dunia secara resmi mengesahkan Agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) sebagai kesepakatan pembangunan global. Kurang lebih 193 kepala negara hadir, termasuk Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla turut mengesahkan Agenda SDGs.

Salah satu tujuan dari program SDGs yaitu kesehatan yang baik dan kesejahteraan yang berisi beberapa target, di antaranya mencapai cakupan layanan kesehatan universal, termasuk lindungan resiko finansial, akses terhadap layanan kesehatan dasar yang berkualitas dan akses terhadap obat-obatan dan vaksin yang aman, efektif, berkualitas dan terjangkau bagi semua.

Sebagai upaya dalam mewujudkan SDGs di Indonesia, salah satu sektor penting yang dapat digunakan dan memiliki potensi besar adalah filantropi Islam, salah satunya wakaf. Perkembangan wakaf di Indonesia saat ini meningkat secara progresif dengan berbagai inovasinya, salah satunya wakaf uang yang diproyeksikan dapat menjadi solusi bagi permasalahan ekonomi Indonesia jika dikelola sistematis dan profesional.

Sementara itu, Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI telah mengeluarkan fatwa tentang Pedoman Penyelenggaraan Rumah Sakit Berdasarkan Prinsip Syariah. Hal ini menjadi kabar baik bagi kaum Muslimin di Indonesia, dengan adanya sertifikasi halal pada pengobatan dan layanan medis, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap keamanan produk lembaga kesehatan dan medis meningkat.

Sehingga dalam hal ini peran wakaf akan sangat krusial dalam memenuhi kebutuhan layanan medis ummat. Keberadaan dana sosial yang tidak pernah habis potensinya ini jika dikelola secara bijak tentu akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di Indonesia. Angka kematian ibu dan anak karena penyakit dapat diminimalisir dengan memberikan pelayanan kesehatan yang layak. Lingkungan yang terjaga dan sanitasi yang bersih juga dapat diwujudkan bersama.

Hal yang menjadi pendorong utama bagi seseorang untuk menjadi filantropis dalam Islam bukan hanya panggilan jiwa atau mengharumkan nama baik, namun jangkauannya lebih jauh lagi, orientasi ke akhirat yang abadi dengan menanam amal jariyah di dunia dengan menginfakkan hartanya di jalan Allah untuk membantu orang lain melalui instrumen wakaf.

Ilustrasi wakaf. Foto: istimewa
Ilustrasi wakaf. Foto: istimewa

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam sebuha riwayat pernah menyebutkan bahwa Allah akan senantiasa mencukupi orang yang mencukupkan orang lain, dalam artian membantu memenuhi kebutuhan orang lain. Perkara kepercayaan semacam inilah yang perlu ditingkatkan kembali di masyarakat.

Filantropi Islam mampu mengurangi ketimpangan sosial. Click To Tweet

Dengan adanya filantropi Islam, umat memiliki instrumen yang secara kongkrit mampu mengurangi tingkat ketimpangan sosial. Orang kaya bersyukur dengan mencukupkan kebutuhan orang lain dan orang yang cukup (miskin) bersabar dan merasa yakin akan dicukupkan kebutuhannya oleh Allah melalui usahanya.

Masyarakat Indonesia dalam rangka mewujudkan SDGs melalui instrumen wakaf, membutuhkan peningkatan pelayanan kesehatan yang inklusif sehingga dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat dan tersertifikasi halal, salah satunya dengan adanya Rumah Sakit Syariah.

Poster SDGs. Foto: Istimewa
Poster SDGs. Foto: Istimewa

Rumah sakit syariah mungkin belum terlalu familiar di Indonesia, meski sudah ada fatwa DSN yang mengaturnya, namun penerapannya sendiri masih sangat minim dan belum banyak dikenal oleh masyarakat. Di lain sisi, kemampuan masyarakat untuk menerima layanan kesehatan, apalagi membangun suatu usaha dalam sektor medis, seperti rumah sakit, terlebih lagi rumah sakit berstandar syariah, tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Perlu adanya suntikan dana yang berkelanjutan sehingga mampu merealisasikan harapan besar tersebut.

Salah satu solusinya adalah memanfaatkan instrumen wakaf yang telah banyak variannya dalam masa kontemporer ini. Kami yakin bahwa konsep rumah sakit syariah bila diterapkan dan dikelola oleh tenaga ahli yang terpercaya mampu menjadi terobosan baru yang sangat bermanfaat bagi ummat.

Wakaf dapat digunakan untuk mendirikan rumah sakit syariah Click To Tweet

Kebermanfaatan yang berkelanjutan yang kami harapkan sesuai dengan program SDGs, di antaranya pada beberapa poin SDGs berikut:

  • SDGs diharapkan bisa mengakhiri segala bentuk kemiskinan di semua negara negara manapun.
  • SDGs bertujuan segala bentuk kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan meningkatkan gizi dan mendorong pertanian secara berkelanjutan.
  • Target SDGs ialah menjamin adanya kehidupan yang sehat, serta mendorong kesejahteraan untuk semua orang di dunia pada semua usia

Melalui rumah sakit syariah yang dana pengelolaannya berasal dari dana abadi yaitu wakaf dapat terus bertumbuh dan mampu membantu sektor yang menjadi acuan tujuan SDGs, yaitu kesehatan, kelaparan, ketahanan pengan dan peningkatan gizi. Kehidupan yang sehat, sebagaimana yang tercantum dalam poin tujuan SDGs, akan mendorong kesejahteraan masyarakat di dunia pada semua usaha, Insya Allah.

 

More Stories
BRI Syariah Perkuat Layanan Digital Kolaborasi dengan Paytren