IKAMI Akan Laporkan Penyebar Nasi Anjing

Sehubungan dengan viralnya info adanya pembagian nasi bungkus pada minggu, 26 April 2020 kepada Warga sekitar Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara, dilakukan oleh komunitas kristiani (ARK Qahal), Jakbar, sehingga menimbulkan polemik dan kontroversi di masyarakat.

Bertepatan awal bulan ramadhan, warga penerima nasi tersebut sangat terkejut dan merasa dilecehkan, karena pada bungkusnya tertera stempel kepala anjing dan tulisan “Nasi Anjing, Nasi Orang Kecil, Bersahabat dengan Nasi Kucing,#JAKARTATAHANBANTING”.

Pada bungkus nasi tersebut tertera stempel simbol anjing, dan tulisan “nasi anjing”. Warga penenerima makanan tersebut yang mayoritas muslim, berasumsi bahwa isi dari bungkusannya adalah nasi dengan daging anjing.

Pihak Polres Jakarta Utara, yang dilapori warga atas peristiwa tersebut, mengatakan hasil penyelidikan, kelompok pemberi nasi bungkus tersebut memang ada unsur kesengajaan menamai dengan “Nasi Anjing”.

Berbagai alasan dikemukakan pihak pemberi nasi bungkus, mereka mengaku tak berniat untuk melecehkan pihak penerima makanan tersebut.
Mereka menjelaskan melalui (liputan vidio) proses pembuatan nasi bungkus dan lauknya dengan berbahan makanan halal.

Menurut Adv. Djuju Purwantoro, Sekjen Ikatan Advokat Muslim Indonesia (IKAMI), kasus tersebut bukanlah merupakan kesalahpahaman, atau salah persepsi masyarakat. “Karena dari barang bukti pembungkusnya jelas-jelas tertera kalimat “nasi anjing, nasi orang kecil.” Sedangkan jenis lauk dan kehalalannya, menurut kepolisian masih dalam proses pemeriksaan lembaga berwenang”, kata Djudju dalam keterangan tertulisnya kepada MySharing, (28/4).

Pihak ARK Qahal, telah memohon maaf melalui media, dan berusaha mengklarifikasi bahwa makanan tersebut halal. Tentu perbuatan tersebut tidak serta merta menghapus unsur pidananya. Patut diduga mulai awal proses pembuatan nasi bungkus, pembubuhan logo dan stempel “nasi anjing” tersebut dilakukan secara sadar, juga kemungkinan akibat hukum yang akan ditimbulkan. Dijelaskan oleh Djudju, bagi umat Muslim, anjing adalah binatang haram dan dilarang untuk dikonsumsi, sehingga mereka pemberi nasi bungkus tersebut patut diduga dan secara sadar dapat melecehkan pemeluk agama Islam yang merupakan mayoritas penerima makanan tersebut. Atas perbuatannya, mereka bisa dikenakan pasal 156a KUHP, yang klausulnya ;

“Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia”.

Sebagai alternatif pidana, sesuai pasal157 KUHP ;

“Barang siapa menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan tulisan atau lukisan di muka umum, yang isinya mengandung pernyataan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan di antara atau terhadap golongan-golongan rakyat Indonesia, dengan maksud supaya isinya diketahui atau lebih diketahui oleh umum, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun enam bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.”

Sesuai azas
“Dolus Eventualis”, “pelaku bisa dipidana, karena suatu keadaan dimana walau sikap batin pelaku tidak menghendaki suatu tujuan untuk mewujudkan suatu tindak pidana, akan tetapi keadaan menyebabkan ia tidak dapat mengelak dari suatu keadaan tertentu.”

Oleh karena itu, menurut Djudju, “Polisi harus selalu tegas dalam penegakkan hukum kepada semua pihak, dan tidak (conflict interest) condong kepada kepentingan/pihak tertentu, sehingga mencoreng rasa keadilan masyarakat”.

More Stories
BNI Syariah Dukung Layanan Digitalisasi Amphuri