Ini 5 Bubble Krisis Ekonomi, Kalau Tidak Hati-Hati, Sebentar Lagi Terjadi Perubahan Politik di Indonesia

Krisis ekonomi di depan mata. Biasanya, setiap terjadi krisis ekonomi selalu diikuti perubahan politik.

Kejatuhan Soekarno didahului krisis, pun dengan Soeharto. Nah, saat ini, krisis ekonomi di depan mata. Lima bubble (balon) penyebab krisis akan meletus.

Balon itu akan segera meletus. “Tidak perlu kampak, golok, linggis, cukup peniti kebenaran saja dan saya tidak melihat pemerintah punya cara menyelesaikan masalahnya. Cara satu-satunya adalah menambah utang besar-besaran lagi,” kata Dr. Rizal Ramli, ekonomi senior dalam “Oposition Leaders Economic Forum” di Perpusnas, Jakarta, Jumat (13/3).

Bubble ini terjadi pada saat yang bersamaan, Rizal memprediksi akan dimulai saat ini sampai habis lebaran dan terjadi sekaligus.

Menariknya menurutnya, krisis ekonomi selalu diikuti oleh perubahan politik besar. Kejatuhan Bung Karno dan Bung Hatta misalnya. “Kalau tidak hati-hati, sebentar lagi akan terjadi perubahan politik besar di Indonesia”, kata Rizal mengingatkan.

Ia memberi contoh, kejatuhan Soeharto tidak doprediksi sebelumnya. Bahkan menurutnya para elite politik saat itu, sampai akhir April 2020 masih meyakini Soeharto belum akan turun. “Pak Harto terpilih bulan Maret, bulan Mei sudah selesau, tidak butuh butuh waku lama-lama, 1 Mei sampai 22 Mei Pak Harto selesai, bukan karena oposisi hebat, bukan ada tokoh-tokoh hebat, karena krisis itu sendiri, kondisi obyektif itu sendiri, mendorong harus ada perubahan”, Kata Rizal mengisahkan.

Hari ini apa yang terjadi? Menurutnya ada lima bubble (balon) dalam bidang ekonomi yang menyebabkan krisis. Pertama, semua indikator makro ekonomi menunjukkan kemunduran disbanding 10-15 tahun lalu.

Dengan kondisi saat ini menurutnya, harusnya Rupiah merosot lebih dalam. Namun, tidak terjadi karena didoping melalui intervensi pasar. “Pakai Dolar hasil pinjam, akhir tahun dan awal tahun kita pinjam Dolar banyak banget. Dengan bunga tinggi banget, itulah yang digunakan untuk mengintervensi Dolar sehingga (Rupiah) kelihatan menguat”, kata Rizal menjelaskan.

Padahal, seperti doping, intervensi ini tidak akan begitu berpengaruh dan bertahan lama. Ibarat menggarami laut dengan garam.

Juga menurutnya, sebuah metode doping tidak akan bertahan lama. Seperti halnya yang biasa terjadi pada para atlet olahraga.

Bubble kedua adalah gagal bayar. Ia mengibaratkan Indonesia seperti petinju yang sempoyongan, kena pukulan jab. Hari-hari ini gagal bayar itu adalah Asabri, Jiwasraya, Reksadana-Reksadana, dan Dana Pensiun. “Perkiraan konservatif kami Rp 150 T atau USD 10 Miliar. Jadi utangnya jauh di atas yang 1998. BUMN dan Pemerintah kena jab USD 10 Miliar, ya kejadian”, kata Rizal menyimpulkan.

Jadi utangnya jauh di atas yang 1998. BUMN dan Pemerintah kena jab USD 10 Miliar, ya kejadian Click To Tweet

Yang ketiga adalah bubble daya beli. Memang terjadi penurunan daya beli. Dalam analisanya, jika ekonomi Indonesia bertumbuh normal di 6-6,5 persen, maka pertumbuhan kredit ada di 15-18 persen. Tahun lalu, pertumbuhan kredit hanya sepertiganya dari situasi normal, yaitu 6,02 persen.

Tidak aneh, di bawah tidak ada uang, mengapa uang ini tersedot? “Setiap kali, menteri keuangan terbalik meneribtkan surat utang negara atau SUN, tiap kali dia terbitkan ada uang di bank dan lembaga keuangan yang tersedot ke SUN. Karena, bunga lebihmurah tinggi dua persen dari deposito dan dijamin 100 persen oleh negara”, kata Rizal menjelaskan.

Itulah yang menjelaskan, mengapa pertumbuhan kredit hanya enam persen dan tahun ini akan anjlok ke 3-4 persen.

Bubble yang keempat adalah bubble digital, binis digital yang valuasinya over inflated seperti kelompoknya Softbank, maka akan ada koreksi 40-50 persen dan itu terjadi juga di Indonesia.

Bubble kelima adalah menurunnya pendapatan petani. Pertama, karena masalah iklim, mereka terlambat menaman, petani baru akan panen pada Mei dan Juni ini. Begitu petani ini pada panen, ternyata Bulog tidak bisa membeli, karena di gudang Bulog masih banyak beras import.

Selengkapnya bisa disaksikan di video di bawah ini.

More Stories
Zurich Ingin Turut Mengembangkan Industri Keuangan Syariah di Indonesia