Kampanye Demokrasi Harus Masif Guna Tangkal Radikalisme

Lebih dari 80 persen masyarakat masih mendukung Pancasila.

Direktur Eksekutif Wahid Foundation Yenny Wahid mengatakan, peredaran terhadap informasi suatu kampanye menjadi hal yang menentukan cara pandang seseorang terhadap suatu isu, hingga suka atau tidak suka terhadap orang lain. Hal terssebut pun akan tercermin dalam sikap masyarakat.

“Kalau kampanye negatif pasti di masyarakat juga negatif, kalau kampanye posiitf efeknya juga akan terasa. Masyarakat kita sangat rentan terhadap penyebaran informasi yang masif dan sistematis,” katanya dalam Diskusi Ekonomi, Politik dan Keamanan Dalam Negeri dalam rangka Perencanaan Strategi Bisnis 2017, Kamis (15/12).

Berdasar survei yang dilakukan oleh Wahid Foundation bersama dengan Lingkar Survei Nasional, ia mengungkapkan ada sekira 7,7 persen responden yang tak keberatan untuk melakukan gerakan radikal. Kendati demikian, mayoritas muslim tidak menyetujui gerakan tersebut.

“Karakteristik kelompok radikal di Indonesia ini rata-rata yang berusia muda dan lelaki, cenderung memahami agama secara literalis misalnya memahami jihad harus fisik dan hukum potong tangan harus diterapkan di Indonesia, serta cenderung mendukung gerakan radikal,” papar Yenny.

Menurut Yenny, faktor yang berpengaruh signifikan terhadap gerakan radikal adalah adanya perasaan teralienasi dan ketidakadilan. “Perasaan ini tidak hanya terjadi di anak-anak Indonesia tapi juga di seluruh dunia. Faktor lainnya yang berpengaruh signifikan adalah intoleransi terhadap kelompok yang tidak disukai, serta dukungan terhadap organisasi radikal,” tukasnya.

Kendati demikian, lanjutnya, demokrasi masih menjadi tameng dalam menangkal radikalisme. Setidaknya 82,3 persen responden masih mendukung Pancasila dan 71 persen mendukung nilai demokrasi. Pancasila dan demokrasi pun dinilai merupakan modal besar dalam mengatasi intoleransi di Indonesia.

“Ayo buat kampanye secra masif dan sistematis mengenai Pancasila dan demokrasi. Kalau diam saja yang akan terjadi paham yang lain akan dominan, karena masyarakat Indonesia sangat rentan diserang yang masif dan sistematis. Kita harus punya ketahanan nasional dan membangun itu,” tegas Yenny.

More Stories
“Danamon Optimal New Live! Experience”,  Konser Musik Akbar Pertama Di Era Pandemi