Ilustrasi marah

Kamu Pemarah? Pahami Cara Islami Meredam Amarah Berikut Ini

 Marah adalah manusiawi, namun baiknya bisa diredam. Bagaimana panduan Islam dalam meredam amarah?

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam : (Ya Rasulullah ) nasihatilah saya. Beliau bersabda : Jangan kamu marah. Beliau menanyakan hal itu berkali-kali. Maka beliau bersabda: Jangan engkau marah.  (HR. Bukhari)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ [رواه البخاري]

Pelajaran yang terdapat dalam hadits di atas adalah:

Pertama, Sabda beliau: (لا تغضب ) maknanya adalah: jangan engkau realisasikan kemarahanmu, dan larangan tersebut bukan kembali kepada sifat marah itu sendiri, karena sifat marah adalah tabiat manusia dan tidak mungkin bagi manusia untuk untuk menolak sifat itu.

Dalam hadits yang lain:

seorang laki-laki pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata:’Wahai Rasulullah ajarkan kepadaku suatu ilmu yang mendekatkan aku ke Surga dan menjauhkan aku dari Neraka.’Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:’Jangan marah dan bagimu Surga.

جاء رجل إلى النبى ( صلى الله عليه وسلم ) فقال : يارسول الله : علمنى علماً يقربنى من الجنة ويبعدنى عن النار قال : لا تغضب ولك الجنة

Kedua, Yang dimaksud dengan meninggalkan marah adalah menjauhi segala sebab dan sarananya dan segala perkara yang bisa menjerumuskan ke dalam hal tersebut.

Ketiga, Di dalamnya ada kaidah untuk sadu dzari’ah  (menutup sarana yang menjerumuskan kepada keharaman), dan bahwasanya menjaga lebih baik daripada mengobati.

Keempat, Marah menghalangi seseorang dari berlaku adil dalam perkataan dan perbuatan.

Kelima,  Orang yang tidak marah akan perbuatannya dan perkataannya terkontrol baik dalam kondisi ridha maupun marah.

Keenam, Tidak marah tanda kesempurnaan akal

Ketujuh, Keburukan semuanya ada dalam kemarahan

Kedelapan, Kemarahan dari Syetan

Kesembilan, Orang yang kuat adalah orang yang menguasai hawa nafsunya ketika sedang marah

Kesepuluh, Orang yang bisa mengendalikan marah berhak mendapatkan janjiNya yaitu,”SURGA.”

Menurut Alquran, orang yang menahan amarah adalah sifat orang yang taqwa.

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (Surat Ali ‘Imran 134).

More Stories
BNI Syariah Bersinergi dengan Pemkab Jombang