Kasus Dugaan Penghinaan Nabi oleh Sukmawati Dihentikan Tidak Adilnya Hukum di Negeri ini Semakin Jelas

Polisi menghentikan kasus dugaan Penistaan Agama oleh Sukmawati Soekanoputri.

Penghentian itu ditandai dengan terbitnya surat bernomor : B/1638/IV/RES.1.2.4/2020/Ditreskrimum, yang dikeluarkan oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, perihal Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) disebutkan pada intinya bahwa Laporan Dugaan Tindak Pidana yang dilakukan oleh Sukmawati dihentikan karena bukan merupakan tindak pidana.

“Perkara yang saudara laporkan tidak dapat ditingkatkan ke penyidikan dan penyelidikan tindak pidana penistaan agama sebagaimana dimaksud dalam pasal 156 a KUHP,” bunyi surat yang ditandatangani Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Suyudi Arjo Seto, tertanggal 6 April 2020 itu.

Surat tersebut diterima oleh salah satu pelapor, Edy Mulyadi, Sekjen GNPF Ulama yang juga wartawan senior. Edy melaporkan Sukmawati pada 21 November 2019. Dalam paparannya kepada media saat melaporkan, Edy menilai Sukmawati telah melecehkan Marwah Rasulullah Muhammad SAW, membandingkannya dengan Ir. Soekarno.

Saat itu, Sukmawati begitu bangganya menerangkan peran Bapaknya dalam kemerdekaan bangsa Indonesia. Dengan Pertanyaan retorik, Busukma sekaligus merendahkan wibawa Rasulullah Muhammad SAW dengan mempertanyakan apa peran dan sumbangsihnya bagi kemerdekaan Indonesia.

Atas penghentian ini, Edy Mulyadi membuat keterangan dalam bentuk voice notes yang diterima MySharing (29/4). Dalam suaranya tersebut, ia mengaku kecewa, sebab dirinya sangat berharap di era kepemimpinan Polri dibawah Kapolri pak Idham Azis akan berbeda dengan Kapolri sebelumnya. Karena itu, dirinya ikut tergerak untuk turut melaporkan meskipun telah banyak unsur masyarakat lainnya yang telah lebih dahulu melaporkan.

Namun, ternyata tetap terjadi tebang pilih. Ia melihat justeru hanya kepada orang-orang yang mengkritik penguasa, orang-orang yang tidak sebarisan dengan penguasa, hukum ditegakkan secara tegas dan keras.

Debaliknya, hukum tidak berlaku apabila pelakunya dari kalangan istana dan para pendukungnya.

Sukmawati mengaku saat itu bertanya siapa yang berjuang di abad ke-20, Nabi Muhammad atau Insinyur Soekarno, untuk kemerdekaan. Namun pertanyaannya itu dinilai oleh pelapor sebagai pernyataan yang menghina Nabi Muhammad.

“Ibu hanya bertanya, menurut fakta sejarah di abad 20 di mana pastinya kan nabi sudah tidak ada. Selama ini kan saya agak merasa generasi muda tahu sejarah kemerdekaan yang berdarah-darah enggak sih, itu yang saya ingin tahu juga. Saya mau bertanya saja, di awal abad 20,” ucapnya.

Ucapan Sukmawati itu dilontarkan pada saat dia menghadiri diskusi bertajuk “Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme” pada November lalu, dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2019.

 

 

 

 

More Stories
Bank Aceh Syariah, Lokomotif Ekonomi Syariah di Aceh