Keutamaan Mencari Ridha ALLAH SWT

Ridha Allah mengandung arti ridha mencintaiNya semata, takut dan berharap kepadanya.

Merendahkan diri kepadanya, beriman kepada pengaturan dan menyukainya, bertawakkal dan meminta pertolongan kepadaNya serta ridha kepada apa yang telah diperbuatnya, maka inilah yang dimaksud dengan ridha kepada Allah.

Allah dan Rasul-Nya, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah”, (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka). (QS At Taubah : 59)

Kelak di surga nanti, orang-orang mukmin akan merasa iri kepada orang-orang yang ketika di dunia diberikan cobaan dan musibah yang berat, karena derajatnya nanti berbeda. Bahkan, kalau boleh mengulang hidup, mereka minta dihidupkan di dunia lagi dan diberikan cobaan dan musibah yang kelak akan dirasakan hasil manisnya di surga, hal mana tidak dirasakan oleh penghuni surga yang lain yang lebih diberikan kemudahan dan kenikmatan hidup.

Perkataan “ridha” sangat melekat pada diri setiap muslim baik dalam lisan maupun dalam pengamalan. Begitu melekatnya perkataan ridha tidak dapat ditinggalkan dalam pidato bahkan dalam berbagai macam naskah tertulis termasuk di dalam surat undangan yang biasa-ya dimulai. Dengan memohon rahmat dan mengharap ridho Allah Swt, kami bermaksud mengharap ridha Allah adalah desah dzikir setiap orang muslim. Ridha Allah adalah pakaian seorang mukmin yang melekat pada tubuhnya dalam kondisi apapun yang menimpa pada dirinya.

Sehingga Rasulullah Saw pernah mengajarkan satu doa pendek kepada sahabatnya.

Allahumma inni a’uudzubika biridhooka min sakhatik. (Ya Alllah, sesungguhnya aku berlindung kepada Ridha-Mu dari murkaMu).

Para alim ulama banyak membahas tentang ridha, apakah masuk katagori sunnah atau wajib. Syaikhul Islam Ibnu Taimuyah rahimullah mengambil kesimpulan, bahwa hukum pokok ridha kepada taqdir adalah wajib, sebab orang yang tidak punya rasa ridha kepada Allah, agama dan syariat, dan hukum-hukumnya, maka dia sudah jelas dia bukan seorang muslim. Sedangkan kedudukannya yang tinggi adalah sunnah, yaitu termasuk amalan orang–orang didekatkan kepada Allah.

Setelah kita ridha dengan cobaan hidup itu, pertama kita merasakan lebih ringan dalam menjalaninya. Kedua, kita mendapatkan kenaikan derajat, bisa diistilahkan naik kelas setelah dapat melalui ujian tersebut.

Berbahagialah bagi siapa saja yang senantiasa hidup didunia ini untuk mengharapkan ridha ilahi Robbi. Pastilah ketika kita bisa hidup dalam ridhanya maka kenikmatan hiduplah yang akan selalu kita rasakan.

Allah Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti itu niscayalah dalam syurga Na’im – penuh kenikmatan – dan sesungguhnya orang-orang yang menyeleweng itu niscayalah dalam neraka Jahim – penuh kenistaan.” (al- lnfithar: 13-14)

Pelajaran kedua adalah, Saat kematian datang sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan atau pertanyaan, mengenai apakah amal kebaikkan di dunia kita telah lebih berat timbangannya daripada perbuatan buruk kita didunia. Karena itulah, sebagai manusia yang cerdas, kita perlu senantiasa menjaga perilaku kita di dunia karena sesungguhnya balasan di akhirat itu sangatlah pedih bagi orang-orang yang zholim.

Allah Ta’ala berfirman:

“Maka barangsiapa yang berat timbangan amal kebaikannya, maka ia adalah dalam kehidupan yang menyenangkan. Tetapi barangsiapa yang ringan timbangan amal kebaikannya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” (al-Qari’ah: 6-9)

Hendaklah kita menjadi orang yang cerdas, yang mempersiapkan kehidupan kita agar berakhir dengan kehidupan yang baik–husnul khotimah. Bagaimana itu dapat dicapai?

Tetaplah berfokus pada tujuan, tidak mudah terpesona dengan keindahan dunia. Dan cukuplah dunia diletakkan di tangan kita, tidak di hati kita.

Perbanyaklah berkawan dengan orang-orang shalih, yang senantiasa mengingatkan kita kepada Allah, mengajak kita berbuat baik, mencegah kita dari keterpurukan karena hendak melakukan hal-hal yang akan membuat kita makin binasa.

Apakah standar teman-teman yang shalih itu? Yaitu teman yang ketika kita melihatnya, kita ingat kepada Allah.

Teman seperti itulah yang akan mendorong kita mendapatkan akhir yang husnul khotimah.

Akhir yang baik. Kelak di surga nanti, ketika kita bergaul dengan teman yang shalih dan dia tak mendapatkan kita di surga, maka dialah yang akan memohon kepada Allah SWT agar mengajak kita masuk bersamanya ke surga.

More Stories
Kinerja Allianz Syariah Tumbuh Positif Tahun 2018