Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis.

Komisi Dakwah MUI Komentari Puisi Sukmawati

Jualan kecap jangan sampai merendahkan kecap lain. Puisi Sukmawati berpotensi mengancam kebhinekaan.

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia, KH Cholil Nafis, Phd, akhirnya berkomentar tentang polemik puisi Sukmawati Sukarnoeputri yang sedang viral. Komentar kyai ini dibuat di laman resmi Facebooknya. Berikut komentarnya sebagaimana dimuat di https://www.facebook.com/cholil.nafis.1/posts/10215764690893038:

Keindahan

  1. Tak mengerti syariat Islam bagi pemula itu keniscayan tapi bangga dengan tidak paham syariah bagi Muslimah adalah “kecelakan”. Syariah itu sumber ajaranIslam yang wajib diketahui oleh pemeluknya. Syariah itu original dari Allah SWT. #puisiituaja
  2. Cadar itu produk fikih dari ijtihad ulama yang meyakini sebagai syariah berdasarkan dalil Alquran surat an-Nur: 31, khususnya menurut pendapat Ibnu Mas’d. Walaupun ulama yang didak mewajibkan cadar, Namun tak soal keindahan semata karena juga soal kepatuhan kepada Allah SWT. #puisiituaja
  3. Adzan itu syiar Islam untuk memberi tahu dan memangil mendirikan shalat. Adzan bukan sekadar soal merdu suara muadzdzinnya di kuping, tapi bagi Muslim Adzan itu menembus hati karena berisi keaguangan Allah, syahadat, dan ajakan untuk meraih kebahagiaan. #puisiituaja
  4. Cadar dan adzan menyangkut keyakinan bukan soal keindahan, meskipun keduanya itu tak saling bertentangan. Tak layak membandingkan sesuatu yang memang tidak untuk dibandingkan apalagi wilayah subjektif individu dan pelantunnya. Mana kebhinekaannya itu yang didengungkan. #puisiituaja
  5. Adzan berasal dari mimpi Abdullah bin Zaid bin Abdi rabbih yang sama dengan mimpi Sayyidina Umar bin Khaththab tentang memberi tahu waktu shalat yang kemudian dibenarkan oleh Nabi Saw dan langsung dipraktikkan oleh Bilal bin Rabah. Ini mimpi yang benar sebagai hadits taqriri. #puisiituaja
  6. Nabi Saw bersabda: “Mimpi orang shaleh itu bagian dari 46 jalannya kenabian”. Bahwa mimpi bisa berperan sebagai wahyu sebagaimana mimpi model adzan yang dialami oleh Abdullah bin Zaid dan Sayyidina Umar bin Khaththab yang kemudian ditetapkan oleh Nabi Saw sebagai hadits Nabi Saw. #puisiituaja
  7. Nusantara ini kaya dengan budaya dan nilai. Menilai keindahan tidak boleh merendahkan yang lain. Klaim merek kecap nomor satu boleh saja asalkan tidak dibandingkan, apalagi merendahkan kecap yang lain. Tak elok menyinggung yang lain untuk membangun kerukunan dalam kebhinekaan. #puisiituaja

More Stories
BNI Syariah Partisipasi Hari Santri di Empat Pesantren