Masri

Lam Yahsya Illla Corona?

Dr. Masi Sitanggang*

Covid-19 telah menunjukkan ketangguhannya menguasai dunia. Tapi, mengapa masjid yang harus ditutup ? Bersiaplah bila serangan dilanjutkan dalam bentuk lain.

Bala tentara Covid-19 telah membuktikan ketangguhannya. Dalam waktu hanya berbilang pekan –dari Wuhan di China, menyerang hampir semua negara di dunia. Negara-negara besar yang selama ini menyombongkan kekuatan materinya, takluk tak berdaya. Belum satu pun negara yang mampu melakukan perlawanan. Yang bisa dilakukan cuma menghindar : cuci tangan yang bersih dan isolasi diri. Karena itu kata lock down jadi sangat popular. Negara-negara ditutup, tidak membolehkan warganya bepergian ke luar negeri –terutama negeri yang telah terserang, dan membatasi masuknya orang luar negeri. Kota-kota ditutup, orang-orang tak boleh keluar atau masuk kota. Rumah-rumah ditutup, penghuninya tidak keluar kecuali sangat mendesak. Tempat-tempat keramaian ditutup. Hebatnya lagi, masjid pun lock down !

Kita belum tahu persis, apakah Covid-19 berdiri sendiri atau merupakan “pasukan bayaran”. Kecepatan menyebar –yang jauh melebihi pandemi apa pun yang pernah ada di dunia, publikasi detail dan massive dari seluruh pelosok dunia yang terserang –yang menanamkan rasa ketakutan, dan perhatian dunia yang sangat besar terhadap personalan ini memang mengundang kecuriagaan bahwa pasukan Covid-19 memiliki tuan.

Angka kematian yang disebabkan Covid-19 sebenarnya terbilang kecil, Cuma 3-4 persen di dunia. Bandingkan, misalnya, dengan angka kematian akibat TBC –penyakit menular yang juga menyerang saluran pernafasan dan paru. Laporan WHO terbaru menyebutkan, angka kematiani akibat TBC mencapai 23 persen dan Indonesia menempati urutan ke-3 setelah Cina dan India. Tidak kurang dari 301 orang Indonesia meninggal akibat TBC setiap hari dan 842 ribu orang setiap tahun. Tetapi penyaklit menular yang lebih mematikan ini tidak menimbulkan kehebohan seperti sekarang, tidak dipublikasi semassive Covid-19 dan tidak pula sampai me–lock down masjid. Memang, di Indonesia angka kematian akibat Covid-19 terbilang tinggi –angka teratas di dunia, 8 persen. Penyebarannya pun terbilang sangat cepat. Tetapi ini tentu berkaitan dengan kesigapan dan cara pemerintah menghadapinya.

Jikla benar Covid 19 memiliki tuan, berarti ada perang lain yang memiliki tujuan spesifik di balik serangan pasukun tak kasat mata ini. Pasukan Covid-19 akan menyerbu ke arah sasaran utama yang diperintahkan oleh tuannya. Tetapi, boleh jadi pula pasukan Covid-19 kemudian berubah menjadi pasukan tidak terkendali, pasukan dengan bererapa tuan yang saling berlawanan –karena Covid-19 bisa diternak, sehingga arah serangan pun menjadi tak lagi tunggal. Ini artinya, bisa saja senjata telah makan tuan. Lain dari itu, tentu ada juga tuan-tuan gelap yang coba mengambil manfaat dari perang ini. Teka-teki ini akan segera terkuak setelah perang usai : negara mana yang akan meraup keuntungan dari perang biologi ini.

Covid-19 memang tidak meluluhlantakkan bangunan. Ia meluluhlantakkan perekonomian negara. Ia menanamkan rasa ketakutan dan menghilangkan keberanian dan percaya diri suatu bangsa. Ia meluluhlantakkan mental dan moral manusia, termasuk mental sebahagian kaum agamawan, kaum yang selama ini menjadi benteng penjaga moralitas bangsa. Yang terakhir ini –luluhlantaknya mental dan moralitas, adalah kemenangan besar Covid-19. Kemenangan ini akan menjadi pintu masuk yang lebar bagi tuan Covid-19 untuk menguasai bangsa terkalahkan itu lebih jauh.

Kehancuran di bidang ekonomi telah dikonfirmasi oleh Direktur Pelaksana IMF ( International Monetary Fund ), Kristalina Georgieva, dan Ketua Komite Moneter dan Keuangan Internasional, Lesetja Kganyago. Dikatakan, pandemi Covid-19 telah berubah menjadi krisis ekonomi dan keuangan. Tentu ini mudah dimengerti. Dalam perang apa pun, perekonomian dipastikan mengalami dampak negative.

Takluknya benteng moral agama (Islam) ditandai dengan ditutupnya sejumlah masjid di dunia dan adanya seruan Ulama (lembaga Ulama) untuk meniadakan shalat berjemaah termasuk shalat Jumat. Tetapi kekalahan di bidang ini sulit dipahami, menimbulkan banyak pertanyaan dan oleh karenanya menjadi kontroversi.

Selama ini masjid menjadi tempat yang paling istimewa di hati umat Islam. Tempat yang diimani paling suci (bukan saja dalam arti fisik) yang dipenuhi rahmat Allah. Tempat orang-orang beriman menumpahkan segala keluh dan doanya kepada Allah. Tempat paling mulia yang ada di muka bumi, yang menjadi simbol eksistensi Islam. Pendek kata, untuk menggambarkan itu semua, Umat Islam menyebut masjid sebagai “Rumah Allah”.

Demikian agung dan mulianya masjid, sehingga umat Islam tidak saja berlomba untuk mendirikannya, tetapi juga berlomba membelanya. Itu pula sebab mengapa setiap upaya pengosongan masjid akan menghadapi perlawanan dahsat dari Umat Islam. Tidak mudah bagi musuh-musuh Islam untuk mengosongkan masjid di sepanjang sejarah konflik di muka bumi ini. Masjid adalah benteng terakhir Umat Islam. Ia akan kosong setelah umat Islam kalah dalam pertarungan sengit. Tapi kali unik, yang menutup masjid justeru umat Islam sendiri dan menimbulkan perdebatan internal umat Islam.

Ketakutan aakan menjangkitnya wabah Covid-19 menjadi alasan penutupan masjid.. Beberapa Hadits riwayat Buhari-Muslim di jadikan rujukan. Misalanya, pesan Rasulullah bila ada Tha’un (wabah menular) berjangkit di suatu negeri, maka “janganlah kamu masuk ke negeri itu dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari dari padanya”. Amirul Mukminin, Umar Bin Khattab, memeraktikkan pesan Rasullulah itu dengan membatalkan kunjungannya ke Syam setelah mendengar di daerah itu sedang mewabah penyakit menular. Rujukan lainnya adalah hadits Sahih Riwayat yang sama tentang anjuran sholat di rumah ketika hujan pada siang hari Jum’at; dan nasehat Rasullulah agar tidak mencampur-baurkan yang sakit dengan yang sehat.

Sulit dihindari, penutupan masjid dengan alasan takut terserang Covid-19 memunculkan perasaan “tertuduh” seolah masjid menjadi salah satu sumber penularan wabah. Keistimewaan dan kemuliaan masjid menjadi tidak bermakna karena telah disamakan dengan tempat kerumunan lainnya. Padahal, tidak ada orang yang masuk ke masjid untuk shalat yang tidak membersihkan ke dua telapak tangan dan mulut serta hidung, membasuh muka dan lengan dan seterusnya karena kewajiban berwuduk –yang sebenarnya merupakan jurus jitu menangkal Covid-19. Bahkan sandal dan sepatu pun tidak boleh masuk. Dipastikan tidak ada tempat “kerumunan” sesuci masjid –meski pun sebatas makna fisik.

Secara tekstual, hadits-hadits yang berkaitan dengan wabah menular, yang dijadikan lansdasan untuk menutup masjid di atas, tidak pula menyebut “hindari shalat di masjid” atau semacamnya. Pesan Rasulullah “Janganlah kamu masuk ke negeri itu dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya”, lebih tepat diartikan sebagai lock down daerah wabah. Apakah ketika nabi berpesan “lock down daerah wabah” berarti juga lock down masjid ? Apakah Umat Islam di Syam –saat Umar bin Khattab membatalkan kunjungannya ke daerah itu karena berjangkit wabah, tidak menunaikan shalat berjemaah di Masjid ? Tidak ada penjelasan soal ini, tetapi tampaknya sangat kecil kemungkinannya. Maka, seharusnyalah para ulama justeru mendorong dengan keras agar pemerintah melakukan penutupan negara dari kemungkinan masuknya orang-orang yang berasal dari sumber wabah, lock down provinsi-provinsi yang terjangkit wabah. Bukannya lock down masjid. Adalah sangat mengherankan, bila justeru masjid lock down sementara negara atau daerah wabah tidak.

Alasan lebih fundamental mempertanyakan lock down masjid disebabkan ketakutan Covid-19 adalah Surah At Taubah 18. Terjemahan Departemen Agama sebagai berikut

”Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Ayat ini di mulai dengan kata innama, yang berarti memberi batasan tegas, bahwa orang yang memakmurkan masjid itu adalah orang-orang tertentu, terbatas, yakni orang-orang pilihan, bukan sembarang orang. Salah satu karekter yang dimiliki orang pilihan itu adalah lam yahsya illallah, tidak takut (kepada siapa pun) kecuali kepada Allah.

Predikat “tidak takut” diberikan kepada seseorang yang melakukan sesuatu di saat orang-orang lain tidak berani melakukan hal itu. Atau, seseorang yang tidak melakukan sesuatu di saat orang-orang lain tidak berani untuk tidak malakukannya. Jadi, orang-orang yang tidak takut hanya ada ketika ada suasana yang menakutkan. Tidak akan ada orang yang bisa disebut “tidak takut” kalau memang suasananya tidak menakutkan. Suasana menakutkan itulah alat uji, apakah seseorang hanyut terbawa arus takut atau tidak. Maka, orang-orang takut akan berkata : “sebaiknya tidak pergi ke Masjid untuk menghindari Corona; tetapi orang-orang yang tidak takut mengatakan “Aku hanya takut kepada Allah”.

Bila masjid ditutup, atau shalat berjemaah ditiadakan sebab takut wabah Corona, akankah bunyi ayat itu 18 surat At Taubah itu boleh berganti ?“ Lam yahsya illallah” berganti dengan “Lam yahsya illla corona ?” –tidak takut selain kepada Allah berganti dengan “tidak takut selain kepada corona ?”

Adalah menarik juga untuk mengkaji : mengapa ketika bicara wabah menular Rasulullah tidak mengaitkannya dengan kebolehan meninggalkan shalat di masjid, sementara ketika bicara hujan Beliau tegas membolehkan untuk tidak shalat di Masjid. Jika hadits membolehkan tidak shalat jumat karena hujan ini dijadikan argument untuk Covid-19, pertanyaannya adalah : apakah kesulitan (semua orang) menuju masjid disebabkan hujan bisa diidentikkan dengan kekhawatiran (yang belum tentu) akan tertular covid-19 di masjid ?

Serangan Covid-19 tidak semestinya mengguncang orang-orang beriman. Petunjuk Rasulullah tentang pencegahan wabah menular mestinya mendorong pemerintah melakukan lock down negara dan daerah terpapar, bukan masjid. Dunia telah menyadari bahwa pola hidup bersih dengan cuci tangan adalah cara ampuh menghindari serangan covid-19. Maka, inilah saatnya umat Islam menunjukkan bahwa Syariat Islam (wudu’, bersin dan batuk tutup mulut) itu adalah untuk kemaslahatan umat manusia. Inilah saatnya Umat Islam membuktikan kepada yang ragu, bahwa Islam itu benar. Oleh karena itu, umat Islam, harus berani menunjukkan pula bahwa kerumanan shalat di Masjid aman dari serangan Covid-19. Tentu, Jemaah yang sakit “diharamkan”, tidak ikut shalat berjemaah di masjid mengikuti anjuran Rasulullah : “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat”. Artinya, masjid harus memiliki detector untuk itu. Biarkanlah lam yahsya illallah dalam At Taubah 18 itu sebagaimana adanya, jangan diganti atau dimaknai menjadi lam yahsya illa Corona. Umat Islam harus siap bila serangan Covid-19 akan dilanjutkan dengan perang dalam bentuk lainnya.

Wallahu a’lam bisshawab.

*)
Penulis adalah Ketua Komisi di MUI Kota Medan
Ketua Gerakan Islam Pengawal NKRI (GIP-NKRI)
Wakil Ketua Bidang Ideologi Majelis Permusyawaratan Pribumi Indonesia (MPPII)
#MasyumiReborn

More Stories
kebal corona
Luar Biasa, Indonesia itu Kebal!