Manajemen Wakaf Perlu Berbenah, Baru 0,3 Persen Dana Wakaf Bisa Dikelola

Baru 0,3% atau sekitar Rp255 miliar dana wakaf yang berhasil dikelola dari potensi dana wakaf di Indonesia sebesar Rp77 trilyun.

Hal ini menjadi fakta yang menggelitik untuk mengelola dana wakaf dengan manajemen wakaf yang lebih baik. Demikian disampaikan Ir. Iwan Agustiawan Fuad, M.Si., anggota Divisi Kelembagaan, Tata Kelola, dan Advokasi, Badan Wakaf Indonesia (BWI) di Jakarta, akhir pekan ini (21/12).

Iwan memberikan ilustrasi bahwa pertemuan antara dua hal yang berbeda itu menghasilkan sesuatu yang baik. Cahaya atau listrik misalnya, terjadi karena pertemuan antara kutub positif dan negatif.

“Nah, pertemuan antara bisnis dan sosial itulah wakaf. Itu sebabnya perlu ada manajemen yang baik, begitu juga dengan orangnya yang baik, yang dekat dengan Tuhan,” jelasnya.

Pernyataan Iwan disampaikan dalam rangkaian Milad ke-5 Fusi Foundation (FF) yang bertempat di Auditorium MRPQ Plaza Quantum FTUI Kampus Depok, dan kali ini mengambil tema Fusing Power and Wakafpreneur terkait potensi besar Indonesia sebagai negeri dengan Muslim terbesar di dunia.

Selaras dengan semangat pemberdayaan ekonomi Umat melalui wakaf, Prof. Dr. Sukree Langputeh selaku pimpinan Fatoni University, Thailand memaparkan kisah suksesnya mengelola serta mengoptimalkan potensi wakaf/endowment fund yang secara akseleratif telah memberi high impact dalam pengembangan SDM Unggul melalui institusi pendidikan tinggi di kawasan Thailand Selatan yang sebelumnya dikenal sebagai kawasan rawan konflik.

“Hal yang jarang terjadi, kala para para Muhsinin Timur Tengah berkenan duduk bersama mengelola kolaborasi guna membangun kawasan minoritas muslim menjadi pusat pendidikan kelas dunia,” kata Sukree.

Sukree berpesan untuk pegiat wakaf di Indonesia maupun dunia untuk terus bekerja secara professional dan penuh optimism guna menjadikan wakaf sebagai salah satu cara agar umat Muslim dapat mencapai kemandirian ekonomi.

Sementara itu, Andre Rahadian, selaku ketua ILUNI UI 2019-2023 juga mengapresiasi dan mendorong pentingnya inisiatif gerakan wakaf ini.
“Potensi ekonomi umat dan kesadaran wakaf masih sangat bisa ditingkatkan. Pengembangan wakaf, terutama wakaf produktif sangat tepat dijadikan fokus pemberdayaan. Fusi Foundation sebagai organisasi alumni di lingkungan UI diyakini mampu untuk menjadi motor penggeraknya.

“ILUNI UI siap berkolaborasi dalam berbagai upaya guna implementasinya. Kami juga siap bekerjasama dalam penyiapan aturan dan mekanisme, termasuk pembentukan FGD yang melibatkan lebih banyak lagi stakeholder,” pungkas Andre.

Wakaf adalah salah satu cara agar umat Muslim dapat mencapai kemandirian ekonomi. Click To Tweet

Lebih lanjut Sukree menceritakan perjalanan Fatoni University, dimana pada mulanya institusi pendidikan ini bernama Yala Islamic College (YIC) yang letaknya di Provinsi Yala. Kampus ini kemudian mendapatkan bantuan wakaf dari Timur Tengah, berupa dana pembangunan gedung baru dan fasilitas lainnya. Didirikanlah bangunan baru di daerah Provinsi Pattani. Niat awal kampus ini akan berganti nama menjadi Patani Islamic University. Namun, kondisi politik di Thailand Selatan saat itu tidak memungkinkan memakai nama Patani maupun Pattani. Akhirnya, diubah menjadi Yala Islamic University (YIU). Meskipun berada di wilayah Pattani, tetap digunakan nama Yala.

Fatoni University saat ini sudah mampu mengembangkan kampusnya dari kampus kecil dengan jumlah mahasiswa 100 orang menjadi 4000 mahasiswa yang berasal dari 30 negara berbeda. Ia juga berhasil menarik perhatian nadzir dari Arab Saudi, Qatar, dan Kuwait untuk turut berwakaf untuk pembangunan kampusnya yang ketiga yaitu kampus Madinatussalam yang merupakan kawasan integrasi berisi Islamic Center, desa-desa, juga rumah sakit. Semua ini dengan semangat membuat landmark kebanggaan bagi kaum Muslimin di Thailand saat ini.

More Stories
Bank Aceh Syariah Raih Anugerah Syariah Republika 2019