Media Digital itu Untuk Anak Muda

Selo Ruwandanu (Praktisi Komunikasi Dakwah)

Pandemi COVID 19 membawa perubahan dalam industri media. Bayangkan, dari komposisi primetime 5 jam sehari, yang harusnya diisi dengan tayangan baru, fresh, mendadak hilang. Coba kalikan dengan 10 TV swasta Nasional. Sekitar 50 jam dalam sehari hilang. Berapa ratus produksi itu? Berapa ribu jam itu dalam seminggu?

Apa yang dilakukan manajemen media besar? Sebulan pertama re run. Bulan kedua masih re run. Temen-temen media masih belum boleh syuting. Semua mulai panik. Produksi terhambat.

Di sisi lain, sales juga menurun. Blockingan sepi. Tidak ada lagi gelas sponsor di meja, atau banner produk di belakang presenter. Milyaran belanja iklan dalam sehari, hilang! Dua hantaman besar sekaligus!

Narasumber dan artis potensial yang biasa manggung di TV, mendadak sepi panggilan. Tidak lagi bisa berkarya bersama. Studio mendadak jadi ruang kuburan, sepi, gelap. Semua dirumahkan. Semua terlockdown. Apakah mati? Tidak!

Perlahan satu persatu membangun studio dari rumah dan markas organisasinya. Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) membangun AQL Network, jejaring media yang sejak awal diciptakan untuk pasar umat lebih luas. Semua boleh merelay, semua boleh pakai, gratis. Sementara media mainstream, masih mati suri tidak tahu harus membuat produksi apa,  memilih memanfaatkan konten ini. Di sini,  AQL Network leading!

Menyusul para asatidz satu persatu mulai bangkit: UAS, AA Gym, Babe Haikal, Syeikh Ali Jabber, Fatih Karim, Abim Amir, menyusul Ustaz Fahmi Salim, semua merangsek bergerak. Seadanya, konten apa adanya. Dari konten dakwah Alquran, dakwah hadits, dakwah ke dapur memasak,  sampai gitaran ketika menyambut hari raya. Semua sah sah saja. Bisa gila kalau tidak mengekspresikan diri. Mengisi kegelisahan, saling pantau dan akhirnya ramai-ramai membuat konten bersama. Nge-zoom bareng.

Kolaborasi menjadi narasi trending selama Ramadhan kemarin. Dan, media digital, memungkinkan hal itu.

Kegagapan generasi tua yang memegang kendali media, baik mainstream maupun independen, dijawab oleh generasi milenial dengan kemandirian media digital. Networking. Kolaborasi. Luar biasa. Mereka bergerak di belakang para asatidz. Dan saat ini menguasai market dakwah digital. Bahkan mainstream ikut merelay. Salut!

Saat generasi tua kian gagap, baik mainstream maupun independen, generasi milenial kian mandiri dengan media digital Click To Tweet

Saatnya ke depan, para generasi muda di bawah 50 tahun mengambil alih manajerial media. Lupakan yang sudah tua, karena terbukti gagal dalam bersikap ketika pandemi.

Bangun terus media-media baru. Ramaikan industri. Teruskan kolaborasi. Lanjutkan networking. Sisihkan slot kita untuk teman sesama pejuang media. Media gue, adalah media elu. Konten elu, juga menjadi konten gue.

Kalau ini berjalan sampai akhir 2020, maka kekuatan media dakwah Islam confirmed menjadi kekuatan utuh. Sulit dipisahkan.

Di titik ini, jangan heran kalau industri yang lebih besar akan melirik. Para konglomerat media akan mulai masuk. Nikmati kawan. Dan, langkah selanjutnya adalah yang harus kita siapkan adalah kolaborasi sales marketing.

More Stories
BNI Syariah Gelar Customer Online Gathering Apresiasi Nasabah Milenial