Presiden Joko Widodo (tengah)), Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Abdul Razak (ketujuh kiri), Presiden Tajikistan Emomali Rahmon (ketujuh kanan), Presiden Republik Guinea Alpha CondŽ (keenam kiri), Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Shriyan Wickremesinghe (keenam kanan), Wakil Perdana Menteri urusan ekonomi Jordania Jawad Al Anani (kelima kiri) dan sejumlah utusan para kepala negara berfoto bersama saat pertemuan World Islamic Economic Forum (WIEF) Ke-12 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa (2/8). KEMENKEU-WIEF/Prasetyo Utomo/16.

Menggali Potensi Ekonomi Dunia Muslim

Mendesentralisasi pertumbuhan dan Menata masa depan dunia bisnis. WIEF ke-12 sukses dilaksanakan

“Untuk menghadapi tantangan besar ini, kita harus mengerjakan banyak hal dan rumit”, kata Presiden Joko Widodo saat pembukaan World Islamic Economic Forum (WIEF) ke-12 di Balai Sidang Jakarta, Selasa (4/8).

Presiden mengakui, komunitas Muslim saat ini harus menghadapi tantangan besar. Misalnya, angka pengangguran yang tinggi, khususnya di kalangan muda.

Menurutnya, edukasi dan pelatihan berperan penting. “Jika kita tidak mengedukasi komunitas kita, jika tidak kita latih komunitas kita, dunia akan meninggalkan kita”, Presiden Joko Widodo menegaskan.

Di tengah dunia yang bergerak cepat, komunitas Muslim harus dapat mengikutinya. Inovasi kata kuncinya. Namun sekali lagi, tidak ada jalan pintas, tidak ada keajaiban. Untuk melakukan inovasi pun perlu upaya dan pengorbanan yang tidak sedikit.

Pada gelaran WIEF ke-12 di Jakarta, 2-4 Agustus 2016 lalu, Presiden menegaskan, Indonesia harus melakukan perubahan dan memberdayakan usaha kecil dan menengah (UKM) agar UKM dapat berperan lebih besar dalam ekonomi nasional.

Sementara, Perdana Menteri Malaysia, Tun Abdul Razak, dalam sambutannya mengatakan, adalah benar dunia Muslim mengadapi masalah serius. Masalah seperti kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan.  Sulit dipungkiri, mayoritas negara maju di dunia ini, bukanlah negara Muslim. Padahal ngera Muslim, khususnya yang menjadi anggota Konferensi Ekonomi Islam (OKI) secara kolektif menguasai 70% sumber energi dunia dan 40% sumber daya alam.

PM Malaysia: Dunia Muslim menguasai 70% sumber energi dunia! Click To Tweet

Jadi, Tun Abdul Razak, berharap, topik yang dibahas pada gelaran WIEF kali ini, benar bermanfaat dan berkelanjutan. “Kita memang harus menggali lebih banyak dan memberdayakan potensi ekonomi dunia Muslim”, kata Perdana Menteri.

Fokus pada UKM
Nah, ajang WIEF ini dapat menjadi forum yang mempertemukan pemerintah dan UKM.  Hal ini, menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati,  sejalan dengan tiga langkah yang diperlukan untuk meningkatkan peran UKM dalam menstimulasi pertumbuhan ekonomi.

Dikatakannya, saat pembukaan WIEF ke-12, pertama, pentingnya menghubungkan pemerintah dan pemimpin pasar dengan UKM, perusahaan start up dan inventor. “Kami harap desentralisasi pertumbuhan dapat memberikan kesempatan lebih bagi UKM menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Sri Mulyani.

Kedua, pemerintah dan dunia usaha harus dapat mengembangkan inovasi. “Inovasi menciptakan nilai, dan tentu saja menekan biaya,” tambahnya. Salah satu contohnya dalam WIEF ini adalah ajang ideapad, di mana perusahaan pemula bisa bertemu dengan para investor.

Terakhir, pentingnya menjadikan hal-hal tersebut di atas menjadi langkah konkret, di mana kebijakan dan diskusi dapat menguntungkan semua pihak, sehingga UKM dapat menjadi perusahaan yang menguntungkan. “Misalnya dari seminar masterclass dan networking, orang-orang dapat bertemu, berbisnis dan saling tukar pengalaman, sehingga mereka dapat memperkuat diri dan berkontribusi pada aktivitas ekonomi yang sebenarnya,” kata Menkeu.

Sri Mulyani: diperkirakan hanya 500-an, yang daftar #12thWIEF 4000-an! Click To Tweet

Alhasil, WIEF ke-12 dinilai sukses. Hal ini ditunjukkan dengan diikutinya acara ini oleh 4.000 partisipan yang berasal dari 73 negara.“Padahal, sebelumnya penyelenggara memperkirakan jumlahnya tidak lebih dari 500-an saja,” kata Sri Mulyani dalam pidato penutupan WIEF ke-12 di Plenary Hall, Jakarta Kamis (04/8).

Ia berharap, para peserta, khususnya yang berasal dari kalangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UKM) dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membuka jaringan lebih luas, menemukan ide usaha yang baru, serta akses yang lebih terbuka kepada industri dan keuangan syariah.

“Forum ini juga telah berhasil menciptakan higher platform bagi para pemimpin global, pembuat kebijakan serta pelaku bisnis untuk merumuskan berbagai kebijakan dan kerja sama baru dengan komunitas Muslim,” tambahnya.

Seremoni Penutupan WIEF ke-12. (Ki-ka) Sekjen WIEF Tan Sri Fuzi Abdul Raza, Menkeu Sri Mulyani, Ketua WIEF Tun Musa Hitam. Foto: WIEF Foundation
Seremoni Penutupan WIEF ke-12. (Ki-ka) Sekjen WIEF Tan Sri Fuzi Abdul Razak, Menkeu Sri Mulyani, Ketua WIEF Tun Musa Hitam. Foto: WIEF Foundation

Tun Musa Mengapresiasi
Ketua WIEF, Tun Musa Hitam mengapresiasi kesuksesan WIEF ke-12 ini.  Bahkan, mantan Deputi Perdana Menteri Malaysia ini mengungkapkannya dengan sedikit bercerita.  “Ketika kami pertama kali menggelar WIEF sebagai pisahan (spin-off ) dari Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada 2005, yang datang hanya 400 partisipan.  Angka terakhir di WIEF 2016 ini adalah 4000 delegasi terdaftar,”  kata Tun Musa saat konferensi pers penutupan WIEF ke-12, Kamis (4/8).

Tun Musa menambahkan, kesuksesan forum ini tidak diukur oleh jumlah transaksi dari koporasi besar yang terjadi, melainkan dari kenyataan bahwa forum ini mendorong perdagangan dan peluang bisnis antarpartisipan dari berbagai negara dan latar belakang.

“Bukan memorandum  of understanding (MoU) dan semacamnya yang menjadi key performance indicator (KPI) . Tapi, menghubunkgan orang.  Tahun ini, kami fokus lebih kepada startup dan UKM,” kata tokoh nasional Malaysia ini menambahkan.

Mengambil tema  “Decentralising Growth, Empowering Future Business”, WIEF ke-12 kali ini mengidentifikasi lima sektor prioritas yang dapat dpromosikan via WIEF, yaitu pembangunan infrastruktur, keuangan Islam,  turisme halal, fesyen Islami, dan UKM.

Tun Musa: WIEF pertama di 2005 hanya dihadiri 400 partisipan #12thWIEF Click To Tweet

Sebelas kesepakatan dibuat selama WIEF, yaitu di bidang properti, fasilitas medis,  industri halal, industri waralaba, pasar modal syariah. Totalnya, nilai kerjasama terjadi adalah USD 900 Juta.

 

More Stories
Dompet Dhuafa dan ITB Ahmad Dahlan Tingkatkan Pendidikan Migran Indonesia