Ilustrasi Muslim berdaya
Ilustrasi Muslim berdaya. Foto: Getty Images

Menjadi Muslim Berdaya Ekonomi

Oleh: Aisyah As-Salafiyah (Mahasiswa Semester 4 Prodi Hukum Ekonomi Syariah STEI Tazkia Bogor)

Maka mulai sekarang, mari menjadi bagian dari mekanisme pasar.

Aisyah As-Salafiyah (Mahasiswa Semester 4 Prodi Hukum Ekonomi Syariah STEI Tazkia Bogor)
Aisyah As-Salafiyah (Mahasiswa Semester 4 Prodi Hukum Ekonomi Syariah STEI Tazkia Bogor)

Salah satu tolak ukur atau indikator kemajuan suatu bangsa dan negara dapat dilihat dari sisi perekonomian, di antaranya pendapatan per kapita, jumlah penduduk miskin dan pengangguran. Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan keaneka-ragaman sumber dayanya baik alam maupun manusia layak menjadi salah satu negara berkategori maju.

Namun kenyataannya, perekonomian Indonesia semakin lama semakin terpuruk. Inilah yang menjadi tanda tanya besar, mengapa masyarakat Indonesia yang bahkan jumlahnya lebih dari cukup tidak bisa memberdayakan negerinya sendiri?

Selain itu sebagai seorang Muslim, memajukan Islam dan mendakwahkan Islam melalui berbagai aspek (salah satunya ekonomi) merupakan kewajiban bagi masing-masing individu. Terlebih lagi Allah dalam Al-Quran menyebutkan banyak sekali konsep perekonomian dan pengelolaan uang demi tercapainya kemaslahatan manusia.

Dengan segala prinsip dan sumber daya yang berlimpah ruah, Islam dan Indonesia masih dipandang sebelah mata dalam hal ekonomi. Permasalahan ekonomi Makro di Indonesia secara khusus memperhatikan tentang pengangguran yang pada tahun 2017 ini jumlahnya mencapai 7.005.262 jiwa menurut data Badan Pusat Statistik, yang lebih disesalkan lagi, mayoritasnya adalah kaum Muslimin.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk setidaknya memiliki peran dalam memajukan perekonomian Indonesia yang berdasar pada syariat Islam (Al-Quran dan Sunnah)? Salah satunya adalah dengan memotivasi masyarakat Muslim untuk terlibat langsung dalam lika-liku dunia perekonomian. Insya Allah dengan mengharap ridha Allah, sekecil apapun niat dan usaha kita akan dinilai sebagai perjuangan jihad yang membuahkan pahala.

Ilustrasi Muslim berdaya. Sekelompok profesional di Jakarta mengadakan santunan anak yatim pada Ramadhan 1440 H. Foto: MySharing
Ilustrasi Muslim berdaya. Sekelompok profesional di Jakarta mengadakan santunan anak yatim pada Ramadhan 1440 H. Foto: MySharing

Sudut Pandang Tentang Harta
Harta atau kita ilustrasikan di sini sebagai uang, adalah hal yang paling banyak dicari oleh manusia, hal yang tidak memiliki batas utility (kepuasan) karena hawa nafsu keserakahan manusia yang tidak akan pernah habis kecuali bagi orang-orang yang diberikan taufiq oleh Allah.

Namun apakah uang itu buruk secara umum? Tidak bolehkah kita memiliki banyak harta? Dilarangkah kita menjadi kaya? Tidak. Pada asalnya tidak. Karena seperti perumpamaan pisau, ia merupakan benda normal yang bisa jadi positif atau negatif tergantung bagaimana kebijakan pemakai dalam menggunakannya.

Sebagai seorang Muslim, ada banyak perintah dan larangan Allah yang membutuhkan sarana keduniaan. Menutup aurat misalnya, hukumnya wajib. Begitu juga menuntut ilmu. Kemudian kita tahu sebuah kaidah:

ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب

Suatu perkara yang menyempurnakan sebuah kewajiban, hukum keberadaannya adalah wajib (pula).

Sejatinya ada beberapa ibadah yang membutuhkan sarana finansial, seperti shadaqah, zakat, infaq, dll. Demikian juga menutup aurat membutuhkan bahan dan pakaian, menuntut ilmu membutuhkan bekal dan dana. Keduanya tentu membutuhkan uang untuk mendapatkannya, maka kedudukan uang disini dengan tujuan melaksanakan kewajiban hukumnya wajib.

Dalam ilmu perekonomian, manusia adalah pasar. Setiap orang berbelanja, mengeluarkan uang dan melakukan transaksi. Anggaplah di suatu komplek ada 100 keluarga dengan rata-rata pengeluaran 2 juta per bulan, maka setiap bulan ada transaksi senilai 200 juta dari komplek tersebut. Masalahnya, kemana uang itu tersalur? Siapa yang menangkapnya?

Sayangnya, fakta menunjukkan bahwa kebanyakan uang itu jatuh ke perusahaan-perusahaan milik luar negeri, ini berarti kita telah mendukung perekonomian negara lain dengan uang kita di negeri kita sendiri.

Manusia adalah pasar. Setiap orang berbelanja, mengeluarkan uang dan bertransaksi Click To Tweet

Menjadi Muslim Berdaya
Solusinya adalah, tangkap uang itu. Berjualan. Jadi bagian dari mekanisme pasar. Olah uang ummat dengan bijak, sedekahkan, investasikan untuk akhirat, karena sebaik-baik harta adalah yang berada di tangan seorang Muslim.

Ilustrasi Muslim berdaya
Ilustrasi Muslim berdaya. Sekelompok profesional di Jakarta mengadakan buka puasa bersama. Foto: MySharing

Harta, uang dan dana dalam dunia dakwah tentu amat sangat diperlukan dalam kemajuan dan mempertahankan eksistensinya dalam masyarakat. Karena memang kefakiran dekat dengan kekufuran, seseorang yang sangat fakir tidak mustahil mengorbankan keimanannya demi sebungkus makanan.

Kekurangan dari segi finansial seringkali justru menyusahkan orang lain, dan bukan demikian akhlak seorang Muslim. Bila melihat kisah tauladan terbaik di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, para sahabat tidak meninggalkan harta secara total, mereka tetap melakukan perdagangan untuk menjaga kehormatan diri untuk tidak meminta-minta, bahkan dengan hartanya, banyak sahabat yang memiliki lebih banyak peran dalam perjuangan Islam.

Kita lebih menikmati menjadi konsumen daripada produsen Click To Tweet

Tahukah Anda bahwa kebanyakan merk produk yang kita gunakan sehari-hari dari mulai sabun mandi sampai deterjen adalah produk dari asing? Lalu dari sekian lama kita gunakan, sudah berapa banyak uang kita habis jatuh ke sana? Inilah salah satu penyebab mundurnya kaum Muslimin. Kita tidak mau jualan. Kita lebih suka menikmati dan menjadi konsumen daripada berinovasi menjadi produsen. This is the problem.

Maka mulai sekarang, mari menjadi bagian dari mekanisme pasar. Bukan hanya menjadi pribadi yang konsumtif, tapi juga produktif, bukan hanya memanfaatkan tapi juga bermanfaat bagi orang lain, Insya Allah.

More Stories
BRI Syariah Tawarkan Kemudahan Investasi Sukuk Tabungan ST005