Mohon Doa untuk Para Da’I di Wamena

Tulisan Ustadz Muallimin (Ketua DPW Hidayatullah Papua)  yang viral di media sosial.

Seiring kerusuhan yang memakan korban di Wamena, Papua, kaum Musim di sana pun mulai bersuara. Salah satunya adalah Ustadz Muallimin, Beliau adalah Ketua DPW Hidayatullah Papua. Melalui tulisan yang disebar di media sosial percakapan, Beliau memohon doa untuk pada Da’I di Wamena.

Kami bukan tak mau pulang? Bukan pula kami tidak ketakutan jauh dalam hati setiap hari hati kami gemetar melihat keadaan yang semakin hari tambah menakutkan.

Bukan kami tidak sayang orang tua ataupun sahabat yang selalu menelpon meminta kami pulang dan beranjak dari tempat ini. Tapi kami memikirkan Islam yang bertahun dibangun dan dijuangkan di tempat ini.

Anak-anak santri yang masih menjadi mutiara emas untuk agama Islam. Jika kami harus pulang maka segala usaha itu kembali ke nol. Masyarakat dan juga anak-anak kembali menjadi manusia awam yang tidak lagi tahu apa itu keharmonisan. Islam yang sudah dibangun dengan darah dan bahkan nyawa tidak mampu kami tinggalkan begitu saja.

Kutahu, semua orang khawatir atas kondisi kami di tempat ini. Kutahu, mereka bilang kami tidak takut mati karena menyangka egois dan naif. Tapi inilah keadaannya kami masih berat meninggalkan Islam di tempat pondok Pesantren Al-Istiqomah Walesi Wamena.

Kami sejujurnya ingin sekali berada di dekat orang tua, hidup tenteram dan damai. Tidak berdesakan dengan ribuan manusia dan juga jauh dari ketakutan karena suara tembakan di mana-mana. Tapi kami juga tidak mampu menahan sakitnya meninggalkan anak-anak polos yang baru mengenal Isam. Mereka selalu bilang,  Ustadzah dan Ustadz jangan pulang, kalau guru-guru pulang kami akan kemana?

Pasti kami akan tinggalkan shalat dan buka aurat. Apa hendak yang akan kami lakukan jika manusia yang tidak berdosa selalu mengambil tangan kami dan memohon agar kami tidak meninggalkan tempat ini. Bahkan masyarakat pun ikut memotivasi kami, Ustadzah jika pulang maka Islam ini akan ikut hilang.

Kami siap menjaga Ustadzah dan Ustad-Ustadz serta guru-guru lainnya asalkan tidak meninggalkan tempat ini. Kami yang akan menjadi manusia terdepan manakala ada serangan dari luar sebelum ke guru-guru.

Ustadzah dan Ustadz jangan pulang, kalau guru-guru pulang kami akan kemana? Click To Tweet

Hatiku hancur dan kata-kata itu menjadi pukulan berat bagiku untk meninggalkan tempat ini. Bukan penguasa dan bahkan tangan-tangan orang besar yang menjamin kami tapi mereka orang-orang kecil yang juga takut kehilangan nyawanya namun rela korban siang dan malam menjaga kami agar tetap bertahan di tempat ini. Lantas, kami harus berbuat apa saat kondisi justeru memaksa kami tetap berjuang mempertahankan agama Islam.

Bendera jihad itu terlalu kuat untuk ditinggalkan dan Mawad yakin ada bala tentara Allah yang akan membantu kami. Yang akan menjadikan kami tenang dan aman. Hanya kenyakinan itu yang membuat kami kuat dan tetap bertahan di tempat ini. Duri sudah biasa kami pijaki namun saat ini malah api yang menguji kami.

Namun tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Hanyalah kepada Allah kami yakinkan diri bahwa kami akan baik-baik saja. Dan bagi keluarga maupun saudara saat ini kami hanya butuh doa dan dukungan agar kami tidak kehilangan harapan dan keyakinan.

More Stories
Dua Pakar Ekonomi Islam Indonesia Jadi Pembicara di Spanyol