Nasibmu Tak Seindah Namamu

Ahmad Sastra (Universitas Ibnu Khaldun, Bogor)

Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam (QS Al An’am : 162). Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Al Majadilah : 11).

Masih maraknya kasus-kasus kriminalitas, tawuran, seks bebas dan penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar menambah buramnya dunia pendidikan di negeri ini. Lembaga pendidikan seolah telah kehilangan nilai dan esensi. Sekolah mestinya bukan hanya berfungsi sebagai transfer of knowladge, namun harus melakukan transfer of values.

Guru dalam filsafat jawa adalah orang yang digugu dan ditiru. Bahkan lebih dari itu, secara filosofis, makna guru jauh lebih luas dari sekedar merujuk kepada manusia. Sejarah bisa kita jadikan guru, dimana bisa diambil pelajarannya. Setiap peristiwa adalah guru untuk diambil hikmahnya. Lingkungan adalah bisa dijadikan sebagai guru bagi kehidupan manusia.

Adab dan peradaban suatu bangsa dibangun oleh banyak aspek, baik manusianya maupun sistem aturan yang melingkupinya. Negara utama yang digagas oleh Al Farabi adalah negara yang mampu mengantarkan rakyatnya menjadi manusia yang sukses di dunia dan selamat di akherat. Karena itu negara bertugas menyiapkan segala hal baik bagi rakyatnya dan menghilangkan segala hal buruk yang akan merusak rakyatnya.

Secara esensi (ontologis), setiap orang pada hakekatnya adalah guru yang harus memiliki kepribadian mulia dan menjadi teladan bagi yang lain. Orang tua dalah guru bagi anak-anaknya. Pemimpin adalah guru bagi rakyatnya. Kakak adalah guru bagi adiknya. Bahkan setiap diri adalah guru bagi dirinya sendiri. Secara epistemologi, guru adalah sebuah profesi pedagogis yang harus memenuhi berbagai persyaratan khusus. Sementara secara aksiologis, guru adalah orang yang sarat nilai kebajikan.

Salah satu nilai kebaikan yang harus melekat dalam diri seorang guru adalah nilai keikhlasan. Ikhlas adalah persoalan hati. Keikhlasan adalah refleksi kemuliaan seseorang. Orang yang ikhlas tidak pernah bekerja dengan ukuran imbalan materi yang diterima. Dia akan tetap bersungguh-sungguh bekerja sekalipun dia mendapatkan imbalan yang sedikit.

Orang yang ikhlas akan tetap bersungguh-sungguh sekalipun hanya sebagai bawahan apalagi sebagai atasan. Bekerja dengan penuh ikhlas tidak pernah mendasarkan kesungguhannya karena jabatan, materi, pujian orang lain, atau karena faktor-faktor lain. Sebab nilai keikhlasan adalah transaksi manusia dengan penciptanya, bukan antarmanusia.

Ikhlas termasuk amal hati yang tidak dapat diketahui kecuali oleh orang yang bersangkutan dan Tuhannya. Menjadi guru yang ikhlas itu tidak mudah. Menjadi ikhlas membutuhkan waktu dan kesungguhan. Jika seseorang telah sampai pada martabat dan kemampuan untuk menyembunyikan segala kebaikan, maka dirinya telah memiliki sikap ikhlas.

Al Qurtubi berkata, “Al-Hasan pernah ditanya tentang ikhlas dan riya, kemudian ia menjawab, ” Di antara tanda keikhlasan adalah jika engkau suka menyembunyikan kebaikanmu dan tidak suka menyembunyikan kesalahanmu”. Abu Yusuf berkata, “Mas’ar telah memberitahukan kepadaku dari Saad ibn Ibrahim, ia berkata, “Mereka (para sahabat) menghampiri seorang laki-laki pada perang al Qadisiyah.

Laki-laki itu kaki dan tanganya putus, ia sedang memeriksa pasukan seraya membacakan firman Allah : “Mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah. Yaitu nabi-nabi, para shiddiqien, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman-teman yang terbaik” (QS. Annisa : 69).

Seseorang itu bertanya kepada laki-laki itu, “Siapa engkau wahai hamba Allah. Dia menjawab, “Aku adalah salah satu dari kaum Anshor”. Laki-laki itu tidak mau menyebutkan namanya. Inilah fragmen tentang nilai keikhlasan.

Kerja ikhlas adalah bentuk usaha terarah dalam mendapatkan sebuah hasil dengan menggunakan kesucian hatinya sebagai manifestasi kemuliaan dirinya dihadapan Allah semata. Kesucian hati seorang guru sebagai energi diri dalam melaksanakan tugas-tugas pendidikan. Seorang guru yang ikhlas akan selalu membuang energi negatif dalam hatinya. Dari sinilah akan muncul hubungan baik dengan para anak didiknya.

Guru ikhlas tidak pernah mengeluh, baginya tidak ada waktu yang sia-sia dan mubazir bagi seorang guru ikhlas. Pada saat mengajar, dia mencurahkan fisik, pikiran dan hatinya seratus persen agar dia bisa memberikan kontribusi yang terbaik bagi anak didiknya. Ketulusan orang tua mendidik anak-anaknya adalah cermin keikhlasan dalam pendidikan.

Seorang guru yang ikhlas akan secara sungguh-sungguh mengajar dan memberikan bimbingan kepada para siswanya dengan cara mencurahkan semua energi positif yang dia miliki hingga mengantarkan para siswanya menjadi anak yang berprestasi dan berkualitas serta berguna bagi orang lain.

Seorang guru yang ikhlas tidak pernah mengeluh kepada manusia, sebab dia hanya berharap kepada ridha Allah. Kesungguhan dalam mengajar sebagai refleksi jiwa keikhlasan akan membuahkan hasil yang optimal. Keikhlasan akan mendapat apresiasi dari Allah sebagai amal sholeh.

Guru yang ikhlas kelak akan dipercaya oleh orang lain untuk mendapatkan amanah yang lebih tinggi. Guru yang ikhlas adalah guru yang melaksanakan tugas tanpa beban, berprestasi tinggi, penuh dedikasi, selalu menjadi yang terbaik, dan selalu memberikan energi positif kepada orang lain. Sebaliknya kemalasan, mengajar penuh beban hingga stress, tidak pernah berprestasi, penuh tekanan batin adalah refleksi ketidakikhlasan.

Keikhlasan akan diapresiasi oleh Allah apalagi oleh manusia, hal ini akan berjalan mengikuti. Keikhlasan dalam beramal akan diikuti oleh rejeki yang berkah. Sebab keikhlasan akan mendatangkan pertolongan dan kemudahan dari Allah SWT. Jika Allah telah memberikan kemudahan dan ridho-Nya, maka siapapun tidak akan pernah bisa menghalanginya.

Guru yang ikhlas akan mendapatkan keberkahan hidup dari Allah SWT. Keberkahan adalah limpahan rejeki yang membawa kepada kebahagiaan hidup dunia akherat. Rejeki adalah semua kebaikan yang dilimpahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Keberkahan adalah limpahan rejeki yang membawa kepada kebahagiaan hidup dunia akherat Click To Tweet

Jika Allah saja mengapresiasi amal yang dilakukan dengan ikhlas, apalagi manusia. Maka sudah selayaknya dalam hal ini pemerintah mengapresiasi kerja-kerja pendidikan. Guru adalah tiang bagi masa depan generasi bangsa ini. Keikhlasan tidaklah mampu diukur dengan materi.

Andai guru sekolah dasar di Indonesia digaji 100 juta perbulanpun belum bisa menggantikan nilai keikhlasan tersebut. Jika guru SMP dan SMA diapresiasi pemerintah dengan 200 juta perbulan, maka tidak akan mampu menjadi pengganti nilai keikhlasan hatinya. Jika dosen diapresiasi 300 juta perbulan, maka tak akan mampu juga menggantikan jiwa ikhlasnya.

Maka jika negara ini masih menyepelekan peran guru dengan tidak memberikan apresiasi maksimal atas kerja pendidikan dan masa depan bangsa ini, berarti negara telah berbuat zolim kepada para guru dan dosen. Apakah pantas jika sebuah negara, guru diapreasi sangat minim, padahal ditugaskan untuk memperbaiki bangsa, sementara pekerja hiburan yang merusak moral bangsa justru mendapat ratusan juta. Pantaskah ?

Bahkan andai guru di negeri ini diberi penghargaan ratusan juta perbulan, apakah cukup bisa menggantikan perannya bagi suatu bangsa dan masa depan peradabannya ?. Idealnya negara memberikan penghargaan seorang guru melebihi penghargaan kepada seorang presiden, wapres, staf khusus presiden, menteri, kapolri, gubernur, bupati dan direktur BUMN. Sebab tanpa guru, mereka tak akan pernah ada. Itu idealnya, tapi tidak dengan realitanya.

Selamat hari guru : nasibmu tak seindah namamu

(AhmadSastra,KotaHujan,25/11/19 : 10.30 WIB)

More Stories
BNI Syariah Gandeng Kuwais International Terkait Layanan PPOB Hasanah