Park(ing) Day: Menekan dengan Cara Menduduki

[metaslider id=176]

Karpet hijau seluas tiga kali lima meter membentang di sisi Timur Jalan Cikini Raya. Beberapa orang bercengkerama santai di atasnya, tak hirau kendaraan bermotor yang terus melintas. Sejak pukul 15.00 WIB sampai 18.00 WIB karpet hijau tersebut tergelar di atas “ruang publik” itu. Di salah satu sudut, terpampang banner vertikal bergambar mobil sedan terbalik, dengan  bunga-bunga berwarna hijau di atasnya.

Hari itu, Jumat 20 September 2013, mereka tengah merayakan Park(ing) Day: Reclaim Your City, One Day for Celebrating Public Space, serentak dengan pegiat lainnya, di berbagai negara, di tempat yang kurang lebih sama: lokasi parkir kendaraan pribadi di pinggir jalan umum. Di Indonesia, Parking Day mulai digelar sejak 2011, di Jalan Sabang, lalu tahun 2012 di Jalan Kemang 89. Semua jalan itu terletak di Jakarta

Secara internasional, gerakan Parking Day dimulai sejak 2005 di San Fransisco, Amerika Serikat, oleh sebuah studio seni dan desain bernama Rebar. Negara-negara lain mulai mengikuti pada penyelenggaraan-penyelenggaraan berikutnya, setiap hari Jumat ke tiga di bulan September.

Tahun ini, beberapa aktivis lain turut bergabung yaitu dari Suara Transjakarta, Forum Warga Kota Jakarta, Ruang Publik Jakarta, SIG Architect and Urbandesigner, dan Institute for Transportation and Development Policy. Kegiatan yang dilakukan hanya sebatas bercengkerama, menikmati makanan ringan, dan melayani pertanyaan wartawan.

Kampanye Parking Day bertujuan meningkatkan kualitas ruang publik kota. Bagi mereka, penting untuk mengklaim kembali (reclaim) ruang publik sebagai fasilitas bersama yang dapat digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Mereka menilai, dengan model kampanye demikian merupakan bentuk pergerakan alternatif untuk menunjukkan eksistensi dan hak-haknya.

Dalam penyelenggaraan tersebut, tidak ada pihak pemerintah yang diundang, karena memang tidak berkoordinasi. Namun, mereka yakin, cara “menduduki” tersebut sudah merupakan bentuk “menekan” kepada pemerintah, sebagai yang berkewajiban untuk menyediakan ruang publik yang sesungguhnya.

“Kami adaptasi karena idenya menarik dan sesuai kebutuhan kita,” ucap salah seorang pegiat, Ratna Yunita, dari Komunitas Ruang Publik Jakarta, di sela-sela acara.

Ratna menjelaskan, kegiatan tersebut diketahui oleh Rebar sejak awal, dan mendapat dukungan berupa publikasi internasional. Syaratnya, hanya agar tidak dikomersialisasikan. Adapun, gambar mobil terbalik tersebut sama secara internasional.

“Apa yang diperjuangkan sama,” kata Stevanus, seorang Transport Planner.

Stevanus menjelaskan, meski demikian ada beberapa perbedaan pada kegiatannya yang diberi keleluasaan kepada masing-masing penyelenggara. Misalnya, pertunjukkan musik. Namun, intinya adalah duduki (okupansi) ruang publik, dan berkegiatan bersama-sama.

Sementara strategi penyebarluasannya cukup sederhana, hanya berupa ajakan terbuka melalui media sosial. Stevanus juga menganjurkan di daerah-daerah lain bisa menyelenggarakan kegiatan serupa, pada waktu yang bersamaan.

Koordinasi dengan pihak pemerintah memang tidak ada, namun mereka harus koordinasi dengan “pemilik” lahan setempat yaitu sang juru parkir. Stevanus mengatakan, mereka menyerahkan sejumlah nominal kepada sang juru parkir, dengan nilai yang diperkirakan setara dengan penghasilan yang seharusnya bisa didapat dari dua lapak parkir mobil.

Menurut arsitek dari SIG, Sigit Kusumawijaya, kota yang layak huni adalah kota di mana setiap warganya dapat hidup secara sehat dan nyaman serta mudah melakukan mobilitas dengan moda apapun baik jalan kaki, sepeda, dan juga transportasi umum. Kota layak huni juga harus atraktif, aman untuk anak-anak, dan kaum lanjut usia. “Intinya semua yang memanusiakan manusia,” pungkas Sigit. Heru Lesmana Syafei

More Stories
Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah dan BNI Syariah Dimerger, Ini Tujuannya!