Pasar yang Kian Sadar Syariah

sharialifestyleoutlook-2

Pasarnya kian bagus, Pariwisata Syariah memiliki keuntungan ganda, untuk Muslim dan non Muslim.

Secara demografi, di dunia pariwisata saat ini para turis berusia lebih muda, sehingga membuat peluang jasa dan layanan wisata semakin terbuka lebar. “Khusus untuk turis Muslim secara demografi mereka driven by pride dan ingin sukses, tetapi tetap memegang nilai-nilai Islam saat berwisata makanya ini adalah pangsa pasar yang sangat besar,” kata Direktur Utama Sofyan Hotel Management & Consultant, Boy Arva Hadisantoso dalam Outlook Sharia Lifestyle di Hotel Sofyan, Senin (28/10).

Dilihat dari pengeluarannya, juga menjanjikan. Mengutip data Crescenrating, Hadi mengatakan di 2011 pengeluaran wisatawan Muslim mencapai USD 126 miliar. Jumlah itu di luar aktivitas haji dan umroh. Total pengeluaran wisatawan Muslim ini mengalahkan pengeluaran wisatawan Cina yang sebesar USD 65 miliar dan India yang hanya sepersepuluh dari wisatawan Muslim. Wisatawan Timur Tengah sendiri bisa menghabiskan 30 dolar sehari saat berlibur. “Jadi wisata syariah ini bisnis yang harus dipikirkan,” kata Hadi mengilustrasikan.

Sementara, Presiden Komisaris Hotel Sofyan, Riyanto, mengatakan World Tourism Organization memperkirakan jumlah wisatawan secara global akan meningkat 3,8 persen di tahun 2014. Sedangkan Crescentrating dan Dinar Standard memperkirakan jumlah wisatawan muslim meningkat 4,8 persen di tahun yang sama. “Pertumbuhan wisatawan muslim di atas rata-rata tingkat pertumbuhan global. Sekarang tinggal bagaimana apakah kita siap untuk melayani mereka karena mereka menuntut jenis layanan yang ramah terhadap gaya hidup muslim dengan jaminan makanan halal, kemudahan bersuci, beribadah, kondisi yang kondusif untuk muslim,” kata Riyanto.

Menurut Riyanto, kondisi Indonesia sudah kondusif untuk menerima wisatawan muslim, hanya saja masih mengalami kendala pada pengemasan produk, sosialisasi dan standarisasi produk. “Masih ada yang melihat syariah itu mempersempit pasar padahal tidak. Mereka bisa seperti biasa malahan ada nilai plus bagi konsumen muslim tapi tidak mengganggu pasar lain,” kata Riyanto.

Dari jumlah wisatawan Muslim yang datang ke Indonesia, sekitar 80 ribu di antaranya berasal dari Timur Tengah. Namun, Riyanto mengatakan banyak pula umat Muslim di negara lainnya yang bisa dibidik seperti Muslim di Jerman, Prancis dan Inggris yang berpendapatan 50 ribu-100 ribu dolar AS per tahun. “Stigma yang ada di Muslim kebanyakan menilai Muslim itu daya belinya kecil tapi sekarang sudah beda. Mereka bisa dikatakan masuk sebagai kelas menengah atas,” tukas Riyanto.

Sementara, Untuk wisatawan domestik pasar potensial berada di Meeting Incentive, Conference, Exhibition (MICE). Di tahun 2012 setidaknya terdapat 245 juta perjalanan oleh 125 juta wisatawan domestik untuk kepentingan MICE. Pengeluarannya pun mencapai sekitar Rp 172 triliun setahun.

Di Indonesia Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menargetkan jumlah wisatawan meningkat 8-10 persen secara umum. Dengan perhatian yang diberikan pemerintah terhadap wisata syariah akhir-akhir ini mencetuskan optimisme pelaku industri untuk mengembangkan hal serupa. Riyanto menuturkan saat ini pemerintah juga sudah mengeluarkan pedoman wisata syariah yang nantinya akan diperkuat dalam bentuk peraturan menteri.

Uji lapangan juga sudah mulai dilakukan di Surabaya, Padang, Bandung, Jakarta, dan Semarang. “Ada beberapa hotel yang jadi pilot project untuk segra disertifikasi DSN karena sudah ada pedoman standarisasinya yang sudah dibahas antara Kemenparekraf, industri dan DSN,” jelas Riyanto.

riyantosofyan

“Masih ada yang melihat syariah itu mempersempit pasar padahal tidak. Mereka bisa seperti biasa malahan ada nilai plus bagi konsumen Muslim tapi tidak mengganggu pasar lain,” kata Riyanto.

Riyanto menilai populasi Muslim yang mayoritas di Indonesia disertai dengan kesadaran untuk bersyariah yang mulai meningkat membuat tuntutan pelayanan yang ramah terhadap umat Muslim juga bertambah. Saat ini Sofyan Hotel Management and Consultant mencatat 15 hotel dalam portofolionya. Sembilan diantaranya sudah beroperasi di tahun ini, di mana enam hotel dikelola oleh Sofyan Hotel sedangkan sisanya berperan sebagai konsultan. Sementara sisa enam hotel sedang dalam proses pembangunan yang ditargetkan selesai dalam dua tahun mendatang.

Riyanto mengungkapkan seluruh hotel yang dikelola oleh Hotel Sofyan punya standarisasi yang sama, baik dari segi pemasaran, pengembangan SDM, standar prosedur operasional, hingga teknologi informasinya. Dengan begitu pelaporan, kontrol, pelatihan dan produk bisa saling terintegrasi. “Secara sales targetnya tumbuh sekitar 10-12 persen tapi kalau dilihat jumlah hotel bisa bertambah lebih banyak lagi di tahun depan,” ujar Riyanto.

SofyanBetawi-New-300x300Setelah mengubah manajemen Hotel Sofyan dengan prinsip syariah pun bukan berarti omset bisnisnya menjadi menurun. Yang terjadi malah menunjukkan pertumbuhan yang stabil dari tahun ke tahun antara 15-20 persen per tahun. Hadi mengungkapkan bahkan ada satu unit hotel yang pertumbuhannya naik 60 persen dalam 18 bulan.

Hadi mengatakan standarisasi hotel syariah di Hotel Sofyan pun sama dengan hotel umum lainnya. Pedoman hotel syariah merupakan komplemen dari apa yang sudah ditetapkan di hotel standar. “Ada dua level minimal compliance di hotel syariah yaitu kebutuhan makanan halal yang sudah mendapat sertifikat LPPOM MUI, serta kondisi yang kondusif bagi pengunjung Muslim seperti kemudahan bersuci di kamar mandi dan kemudahan beribadah,” papar Hadi. Operasional hotel secara syariah juga diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah. Bisnis Hotel Sofyan tidak sebatas pada pengelolaan hotel, tetapi juga hingga pengembangan SDM dan teknologi informasi. Hadi menyontohkan untuk pengembangan SDM pelatihan disertai dengan pengajaran akidah dan akhlak. [email protected]

More Stories
Bank Danamon Distribusikan 4.000 APD ke 33 Rumah Sakit