Pasca BBM Turun, Harga Kebutuhan Pokok Belum Signifikan

 Majelis Ulama Indonesia (MUI) berharap pemerintah dalam membuat kebijakan harus melalui kajian yang mendalam. Salah satunya kebijakan menurukan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang tidak berdampak pada kebutuhan pokok.

bensin-pomKetua Bidang Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Anwar Abbas mengatakan, meskipun pemerintah sudah tiga kali menurunkan harga BBM dalam tiga bulan terakhir ini. Namun nampaknya harga pangan belum signifikan.Pasalnya harga kebutuhan pokok dan tarif angkutan masih tinggi, sebagai dampak dari kenaikan BBM pada November lalu.

Menurutnya, penurunya harga BBM yang secara teori akan mengurangi biaya logistik, sehingga akan menurunkan harga jual, ternyata belum sepenuhnya berjalan. Maka itu, untuk menentukan harga-harga kebutuhan pokok butuh penyesuaian lebih lanjut dan membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Pemerintah juga diharapkan tidak menutup mata terhadap kenyataan ini, dan hanya menunggu waktu harga turun sesuai dengan mekanisme pasar. “Pengusaha harus segera menurunkan harga kebutuhan pokok, sebab kalau tidak rakyat akan teriak. Pemerintah juga diharapkan turut andil menekan harga kebutuhan pokok di pasar,” katanya.

Anwar berharap pemerintah dalam membuat kebijakan ke depan harus melalui kajian yang mendalam. Sebab, dalam kondisi seperti ini, masyarakatlah yang paling menderita. Apakah turunya BBM ini permanen atau jangan-jangan satu bulan lagi naik, hal ini tentu membingungkan pengusaha dan masyarakat sebagai konsumen.

Ia juga menghimbau pemerintah mematok harga BBM dalam waktu tertentu dengan kebijakan yang tetap. Sehingga pengusaha dan masyarakat menjadi tenang. Semestinya pemerintah kalau alasannya ingin mengurangi beban anggaran negara untuk subsidi, bisa melakukan cara lain, misalnya menutup kebocoran negara dan menindak mafia migas.

Namun dengan tiga kali menurunkan harga BBM, tentu nagara pasti merugi karena pendapatan negara dari penjualan BBM bersubsidi akan hilang sekitar 10,6 persen untuk per liter premium dan 3,33 persen untuk perliter solar. Artinya pendapatan negara yang dialokasikan untuk membangun infrastruktur akan berkurang karena pendapatan berkurang. Sementara untuk rakyat tidak bermanfaat secara signifikan karena tidak ada penurunan harga komoditi pangan. “Kalau harga minyak dunia terus turun, ya subsidi dengan sendirinya akan hilang. Tapi meski pun ada subsidi tetap penikmatnya adalah orang kaya, rakyat miskin tetap tergilas,” pungkasnya.

More Stories
Dompet Dhuafa dan ITB Ahmad Dahlan Tingkatkan Pendidikan Migran Indonesia