Pemilu Tak Berdampak Besar Pada Perekonomian

Pemilihan umum (pemilu) yang akan berlangsung dalam dua hari ke depan menjadi pesta demokrasi bagi rakyat Indonesia. Secara tak langsung perhelatan tersebut diharapkan memberikan dampak besar bagi perekonomian masyarakat. Sayangnya, kontribusi pemilu periode saat ini terhadap perekonomian diperkirakan tak akan sebesar pemilu-pemilu sebelumnya.

pemilu-diskusi forkem
(ka-ki): Kepala Ekonom Danareksa Research Institute, Purbaya Yudhi Sadewa; Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter BI, Solihin M Juhro; Anggota HIPMI, M Idrus; Pakar Politik LIPI, Siti Zuhro.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter BI, Solihin M Juhro, mengatakan dampak pemilu tidak sekuat perkiraan BI. Sebelumnya BI memproyeksikan pemilu akan dapat berdampak sebesar 0,2 persen pada pertumbuhan ekonomi karena ada peningkatan di sektor transportasi dan komunikasi, serta belanja pemerintah. Namun BI merevisi proyeksi tersebut karena jumlah partai dan calon legislatif di periode ini yang lebih sedikit dibanding 2009, serta adanya sejumlah aturan soal dana kampanye dari Komisi Pemilihan Umum dan Komisi Pemberantasan Korupsi. “Kami melakukan survei ke percetakan memang order sablon dan spanduk berkurang, maka kami revisi yang dulu dampaknya diperkirakan akan naik 0,2-0,3 persen menjadi 0,1 persen,” cetus Solihin dalam Diskusi “Menyongsong Peta Baru Kebijakan Ekonomi Indonesia” di Hotel Borobudur, Senin (7/4).

Secara keseluruhan BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kuartal I 2014 bisa mencapai 5,7-5,9 persen, salah satu faktor pendorongnya adalah pemilu walau tidak akan berkontribusi besar. “Pada 2015 pertumbuhan ekonomi kami targetkan antara 5,8-6,2 persen. Ini mudah-mudahan bisa terlaksana dengan baik, kalau jangka pendek ini terkelola maka di tahun 2015 bisa menapak ke depan,” kata Solihin.

Kepala Ekonom Danareksa Research Institute, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan saat pemilu secara umum rupiah dan kinerja pasar modal malah menanjak ditilik dari pelaksanaan pemilu periode sebelumnya. Purbaya mengungkapkan pada pemilu 2004 rupiah sedikit melemah 0,4 persen pada April 2004, lalu kembali menguat 3,8 persen pada Juli 2004 dan 0,6 persen pada bulan September. Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menanjak masing-masing 6,5 persen pada April 2004, 3,4 persen pada Juli dan 8,7 persen pada September.

Sedangkan pada perhelatan pemilu 2009 rupiah pun terapresiasi 7,5 persen di bulan April 2009 dan 0,9 persen pada Juli 2009, dan IHSG menguat 20,1 persen April 2009 dan 14,6 persen pada Juli 2009. Sementara jika ditilik dari sisi sektor ekonomi yang lebih diuntungkan dan mengalami kenaikan adalah transportasi dan komunikasi. Namun berkebalikan dari dua sektor tersebut, sektor pertambangan masih wait and see menunggu hasil pemilihan.

More Stories
Layanan Syariah LinkAja Partisipasi Di Bulan Inklusi Keuangan OJK 2020