gedung MUI

Penjelasan Fatwa MUI tentang Doa Bersama

Ini adalah penjelasan Fatwa MUI Nomor 3/MUNAS VII/MUI/7/2005 tentang Doa Bersama. Belakangan ramai diperbincangkan tentang pembatalan pembacaan doa oleh perempuan Non Muslim pada penutupan Sidang Paripurna MPR, 27 September 2019.

Bagi umat Islam, Do’a Bersama bukan merupakan sesuatu yang baru. Sejak belasan abad, bahkan sejak agama Islam  disampaikan oleh Nabi Muhammad s.a.w., hingga sekarang, mereka sudah terbiasa melakukannya, baik dilakukan setelah salat berama’ah maupun pada event-event tertentu.

Do’a adalah suatu bentuk kegiatan berupa permohonan manusia kepada  Allah  SWT  semata  (lihat  antara  lain  QS.  al-Naml  [27]:  62). Dalam sejumlah ayat al-Qur’an (lihat antara lain QS. al-Mu’min [40]: 60) Allah memerintahkan agar berdo’a. Oleh karena itu, kedudukan do’a dalam ajaran Islam adalah ibadah. Bahkan Nabi s.a.w. menyebutnya sebagai otak atau intisari ibadah (mukhkh al-‘ibadah). Sebagai sebuah ibadah, pelaksanaan do’a wajib mengikuti ketentuan atau aturan yang telah digariskan oleh ajaran Islam. Di antara ketentuan paling penting dalam berdo’a adalah bahwa do’a hanya dipanjatkan kepada Allah SWT semata. Dengan demikian, di dalam do’a sebenarnya terkandung juga unsur aqidah, yakni hal yang paling fundamental dalam agama (ushul al-din).

Di Indonesia akhir-akhir     ini,     dalam     acara-acara     resmi kemasyarakatan maupun kenegaraan umat Islam terkadang melakukan do’a  bersama  dengan penganut  agama  lain  pada  satu  tempat  yang sama. Do’a dengan bentuk seperti itulah yang dimaksud dengan Do’a Bersama.  Sedangkan  do’a  yang dilakukan  hanya  oleh  umat  Islam sebagaimana disinggung di atas tidak masuk dalam pengertian ini. Do’a Bersama tersebut telah menimbulkan sejumlah pertanyaan di kalangan umat Islam, terutama tentang status hukumnya. Atas dasar itu, Majelis Ulama  Indonesia  dalam  Musyawarah  Nasional  VII  tahun  2005  telah menetapkan fatwa tentang Do’a Bersama.

Bagi sejumlah kalangan, Fatwa tersebut telah cukup dapat menjawab persoalan; akan tetapi bagi sebagian kalangan lain, Fatwa itu masih mengandung persoalan sehingga penjelasan lebih lanjut masih tetap diperlukan.

Berikut adalah Fatwa dimaksud serta penjelasannya.

A.  Bentuk-bentuk Do’a Bersama

  1. Satu orang berdo’a (memanjatkan do’a) sedang yang lain mengamininya (megucapkan AMIN).
  2. Beberapa orang berdo’a sedang yang lain
  3. Setiap orang berdo’a menurut agama masing-masing secara bersama-sama.
  1. Mengamini (megucapkan AMIN kepada) orang yang berdo’a. Hal itu karena arti AMIN adalah istajib du’a`ana (perkenankan atau kabulkan do’a kami, ya Allah).

B.  Bentuk-bentuk Do’a Bersama yang HARAM

Pertama, setiap pemuka agama berdo’a secara bergiliran. Dalam bentuk ini orang Islam HARAM mengikuti dan mengamini do’a yang dipimpin oleh non-muslim.

  1. Mengapa haram mengamini do’a non-muslim? Karena, sebagaimana telah dijelaskan, “mengamini” sama dengan berdo’a; dan ketika yang berdo’a adalah non-muslim, maka orang  Islam  yang  mengamini  tersebut  berarti  ia berdo’a kepada tuhan yang kepadanya non-muslim berdo’a. Padahal konsep dan aqidah mereka tentang tuhan, menurut al-Qur’an, berbeda dengan aqidah orang Islam (lihat antara lain QS. al-Ma’idah [5]: 73). Dengan demikian, orang Islam yang megamini do’a yang dipanjatkan oleh non-muslim dapat dikategorikan kafir atau musyrik.
  2. Orang Islam yang karena alasan tertentu harus mengikuti do’a bersama, maka ketika non-muslim memanjatkan do’a, ia wajib diam dalam arti haram

Kedua, Muslim dan non-muslim berdo’a secara serentak (misalnya mereka membaca teks do’a bersama-sama).

  1. Do’a Bersama dalam bentuk ini hukumnya HARAM. Artinya, orang Islam tidak boleh melakukannya. Sebab do’a seperti itu dipandang  telah  mencampuradukkan  antara  ibadah  (dalam hal  do’a)  yang  haq  (sah,  benar)  dengan  ibadah  yang  bathil (batal); dan hal ini dilarang oleh agama (lihat antara lain QS. al-Baqarah [2]: 42).
  2. Do’a Bersama dalam bentuk kedua ini pun sangat berpotensi mengancam aqidah orang Islam yang awam. Cepat atau lambat, mereka akan menisbikan status do’a yang dalam ajaran Islam merupakan ibadah, serta dapat pula menimbulkan anggapan bagi mereka bahwa aqidah ketuhanan non-muslim sama dengan aqidah ketuhanan orang Islam. Di sini berlakulah kaidah; “sadd al-zari’ah” dan “daf’u al-dharar”.

Ketiga, Seorang non-Islam memimpin do’a.

  1. Dalam Do’a Bersama bentuk ketiga ini orang Islam HARAM mengikuti dan mengamininya; dengan alasan sebagaimana pada bentuk pertama.

C.  Bentuk-bentuk  Do’a Bersama yang MUBAH (Dibolehkan)

  1. Seorang tokoh Islam memimpin do’a.
  2. Setiap orang berdo’a menurut agama masing-masing.

D.  Penutup

  1. Do’a Bersama sebagaimana dimaksudkan dalam fatwa pada dasarnya tidak dikenal dalam Islam; dan karenanya termasuk bid’ah (bagian kedua angka 1). Akan tetapi, tidak berarti semua bentuk Do’a Bersama hukumnya haram. Mengenai status hukumnya dijelaskan pada angka 2 s-d 6).
  2. Ada tiga bentuk Do’a Bersama yang bagi orang Islam haram Dua bentuk (lihat B angka 1 dan 3) disebabkan orang Islam mengamini do’a non-muslim, dan satu bentuk (lihat B angka 2) disebabkan mencam-puradukkan ibadah dan aqidah dengan ibadah Islam dan aqidah non-muslim.
  3. Ada dua bentuk Do’a Bersama yang hukumnya mubah (boleh dilakukan) oleh umat Islam (lihat C) hal ini karena yang berdo’a adalah orang Islam sendiri dan tidak mengamini do’a non muslim.
  4. Larangan Do’a Bersama dalam tiga bentuk di atas (huruf B) tidak dapat dipandang sebagai pemberangusan terhadap kebebasan untuk menjalankan ibadah menurut keyakinan masing-masing, melainkan untuk melindungi kemurnian aqidah dan ibadah umat Islam, serta merupakan penghormatan terhadap keyakinan setiap pemeluk
  5. Menghadiri Do’a Bersama yang dipimpin oleh non-muslim tidak diharamkan dengan syarat tidak mengamininya. Namun demikian, sebaiknya orang Islam tidak Jika terpaksa harus menghadirinya, ia wajib bersikap pasif (berdiam diri, tidak mengamini) ketika non-muslim berdo’a.
  6. Maksud kata “Mengikuti” dalam Fatwa, bagian kedua, angka 2 dan 4 adalah mengikuti do’a yang dipimpin oleh non-muslim yang disertai mengamininya atau mengikuti gerakan-gerakan dan tata cara berdo’a yang dilakukan oleh non-muslim walaupun tanpa disertai mengamininya. Oleh karena itu, bagi orang muslim mengikuti do’a non-muslim haram hukumnya, karena hal itu sama dengan mengikuti gerakan atau tata cara beribadah yang dilakukan oleh non- muslim. Sedangkan menghadiri semata do’a non-muslim, tanpa mengikuti gerakan-gerakan dan tata caranya dan tanpa mengamininya, tidak diharamkan sebagaimana dijelaskan pada angka 5 di atas.
Muslim mengikuti do’a non-muslim haram hukumnya Click To Tweet

More Stories
Indonesia Menuju Sekularisme Garis Keras