23 Contoh Model Baju Muslim Artis Masa Kini Kumpulan Model Baju via kumpulanmodelbajumuslim.blogspot.com
23 Contoh Model Baju Muslim Artis Masa Kini Kumpulan Model Baju via kumpulanmodelbajumuslim.blogspot.com

Penjualan Fesyen Muslim Ramadhan 1440 H Menurun

Bisnis fesyen Muslim terganggu selama kerusuhan pasca pemilu, terutama ketika pemerintah memblokir sebagian akses ke media sosial.

Sebagaimana diketahui, dari 22 hingga 24 Mei, pemerintah membatasi akses ke beberapa fitur di platform media sosial seperti WhatsApp, Facebook dan Instagram. Pembatasan yang menyebabkan koneksi yang sangat lambat untuk mengunggah foto, video, dan pesan suara di sisi pengguna.

Menteri Komunikasi dan Informasi, Rudiantara mengatakan pembatasan itu perlu untuk mencegah penyebaran berita hoax. Kerusuhan sendiri, terjadi sebagai eskalasi kekecewaan rakyat atas pemilu yang diduga curang.

Tania Ray Mina, penjual fesyen Muslim merek Zaskia Mecca (ZM) dan BIA, mengatakan dia kehilangan sekitar 60 persen penjualan di media sosial selama kerusuhan. Terjadi karena pelanggan tidak dapat mengirim atau menerima foto karena kesalahan jaringan.

“Kami juga menerima pemberitahuan dari Ramayana (mitra ritel offline) bahwa penjualan turun,” kata Tania sebagaimana dikutip dari Salaam Gateway (30/5).

“Kami mengadakan bazaar di PRJ Kemayoran minggu lalu, dan kami hampir tidak bisa melihat pengunjung karena kerusuhan.”

Selain yang di ZM dan BIA, penjualan untuk ZAM Cosmetics, sebuah perusahaan perawatan kulit dan kosmetik halal yang ia dirikan bersama temannya, juga menurun.

“Penjualan juga turun untuk ZAM Cosmetics karena kami kehilangan momentum minggu lalu dari Selasa hingga Rabu, dan Kamis adalah yang terburuk,” katanya.

Penjualan ZAM Cosmetics biasanya meningkat tiga hingga empat kali selama bulan Ramadhan dibandingkan dengan bulan-bulan biasa, kata Tania. Tania sendiri mendirikan perusahaannya pada 2017 bersama saudara perempuannya, salah satunya adalah aktris terkenal Zaskia Adya Mecca.

Ida Leman, seorang perancang busana Muslim veteran, mengatakan kerusuhan dan pembatasan media sosial memukul pendapatan kotornya hingga  50 persen. Hal ini karena, sulitnya akses mengirim foto dan menjalankan promosi.

“Ramadhan tahun ini berbeda karena kerusuhan,” kata Ida.

“Pembeli tidak dalam keadaan tenang,” tambahnya.

Dia biasanya menerima 20 pesanan di Ramadhan per pekannya, yang mampu membukukan pendapatan hingga sekira Rp40 juta per pekan. Selain secara daring, Ida juga mempromosikan koleksinya secara offline.

Desainer lain, Restu Angraini yang mendirikan fesyen Muslim ETU, mengatakan kerusuhan pekan lalu juga memengaruhi bisnisnya. Hal ini karena platform media sosial masih menjadi saluran penjualan utama perusahaan. Dia berjuang untuk berinteraksi dengan pelanggannya, katanya.

“Masih banyak pelanggan yang lebih nyaman melakukan transaksi melalui obrolan di WhatsApp, Line, dan Instagram,” kata Restu.

Itu adalah kerugian besar, katanya, terutama karena minggu lalu adalah minggu terakhir bagi pelanggan untuk berbelanja sebelum sebagian besar orang Indonesia memulai perjalanan mudik lebaran.

Tidak Semua Terpukul
Tetapi tidak semua perusahaan terpukul. Ria Miranda, brand fesyen Muslim lainnya, mengatakan pendekatan saluran omni membuka jalur mudah bagi pelanggan untuk berinteraksi dengan brand.

“Ini memang memengaruhi obrolan kami (di media sosial), tetapi itu tidak signifikan karena kami juga fokus pada saluran lain seperti situs web dan aplikasi,” kata Arief Tri Satya, Chief Operating Officer di Ria Miranda.

“Interaksi pelanggan kami melalui WhatsApp mengalami kelambatan, tetapi ada juga opsi lain, seperti menggunakan VPN,” tambahnya.

Ria Miranda mulai memperkenalkan fitur teknologi baru awal tahun ini untuk meningkatkan penjualan. Menyusul peluncuran aplikasi bergeraknya, perusahaan juga memulai fitur robochat di situs resminya pada bulan Maret.

“Kami sangat tertarik untuk melihat bagaimana ini bekerja dan kami percaya fitur ini akan meningkatkan penjualan kami,” kata Arief.

“Kami tahu di era 24/7 pelanggan ingin membuat segalanya cepat dan benar, dan kami berharap robochat dan fitur analitiknya akan menyelesaikan masalah itu.”

Ria Miranda sejauh ini telah meningkatkan penjualan hingga tiga kali lipat menjadi 60.000 selama Ramadhan.

“Penjualan kami dalam beberapa tahun terakhir cenderung meningkat selama bulan Ramadhan,” kata Arief.

Produk fesyen Muslim Ria Miranda berada di kelas menengah, dijual dengan harga sekitar Rp 600.000 hingga Rp 2 juta.

Seperti Ria Miranda, Anggia Handmade juga tidak dihantam keras oleh kerusuhan dan pembatasan media sosial.

Pendiri Anggia Handmade, Anggiasari Mawardi mengaitkan hal ini dengan pelanggan setia, pelanggan tetap, dan penjualan di awal.

Menurutnya, koleksi Ramadhan Anggia Handmade terjual habis sebelum awal bulan puasa. Sehingga ketika Ramadhan, perusahaan tinggal memproduksi dan mendistribusikannya.

“Jujur penjualan telah melebihi harapan saya,” kata Anggiasari.

“Alhamdulillah kerusuhan dan pembatasan media sosial tidak memengaruhi saya karena para pemangku kepentingan atau pelanggan bisnis kami sudah melakukan pemesanan atau pemesanan sejak awal tahun ini,” katanya.

Anggia Handmade menjual 250 hingga 300 buah lebih banyak dari Ramadhan tahun lalu. Fesyen Muslimnya dihargai mulai dari Rp 250.000 hingga Rp 3,5 juta.

Aksi demonstrasi menolak hasil pemilu yang diduga curang oleh masyarakat pada 22 Mei 2019. Foto: MySharing
Aksi demonstrasi menolak hasil pemilu yang diduga curang oleh masyarakat pada 22 Mei 2019. Foto: MySharing

Sarinah Terpukul
Bagi Sarinah, peritel milik Negara tertua di Indonesia, kerusuhan dan pembatasan media sosial berpengaruh terhadap penurunan penjualan. Apalagi, karena pusat demonstrasi adalah di depan gedung Sarinah atau yang biasa disebut, Sarinah Square.

Lies Permana Lestari, Direktur Ritel di Sarinah mengatakan toko kehilangan pendapatan setidaknya Rp 2,8 miliar.

Sarinah menghasilkan sekitar Rp 700 juta hingga Rp 1 miliar rupiah setiap hari selama bulan Ramadhan, biasanya.

Untuk menambal kekurangan penjualan, Ketika penjualan dibuka kembali pada Sabtu, mereka membuka promo seperti penjualan tengah malam yang berlangsung hingga beberapa hari. Harga pun telah dipangkas sekitar 30 hingga 70 persen.

“Ramadhan seperti bulan madu bagi kami, karena sekitar 30 persen dari total pendapatan setahun dapat dihasilkan selama satu bulan saja,” kata Lies.

“Sayangnya kerusuhan merusak bisnis kami. Juga, pembatasan media sosial menyebabkan mitra kami (desainer) kesulitan dan kesulitan untuk menjual atau mempromosikan pada platform media sosial. ”

Penjualan pakaian dari tahun ke tahun tumbuh sebesar 5,7 persen pada April 2019, mengungguli pertumbuhan 4,1 persen pada 2018 dan kenaikan 4,2 persen pada 2017, menurut Survei Penjualan Ritel yang dilakukan oleh Bank Indonesia.

More Stories
perang sejarah islam
Menyikapi Rencana Kemenag Hapus Materi Perang dari Kurikulum Madrasah