Peran SBSN Mendanai Proyek Infrastruktur Semakin Besar

Pembiayaan proyek-proyek infrastruktur dari sumber dana Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) terus meningkat pada setiap tahunnya. Semenjak pembiayaan dari SBSN dimulai tahun 2013, hingga kini di tahun 2018 telah mencapai Rp62,4 triliun.

Capaian pembangunan infrastruktur yang dibiayai SBSN menunjukkan perkembangan peran yang semakin besar setiap tahunnya.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Sub Direktorat Peraturan SBSN dan Pengelolaan Aset SBSN Kementerian Keuangan – Agus Prasetya Laksono saat acara “Pembekalan Teknis Pembiayaan Proyek Infrastruktur Melalui Sukuk Negara Tahun Anggaran 2019”, di Hotel Tentrem Yogyakarta, pekan lalu, sebagaimana dikutip dari situs http://www.djppr.kemenkeu.go.id/

“Proyek yang dibiayai SBSN tidak ditujukan untuk menghasilkan pendapatan, sehingga  pembayaran pokok dan imbalan tidak berasal dari pendapatan proyek tersebut, namun berasal dari penerimaan umum Pemerintah dan dialokasikan tiap tahun pada APBN,” jelas Agus.

Mekanisme pembiayaan proyek SBSN itu sendiri diatur dalam PP No. 56/2011, termasuk kriteria proyek yang dapat dibiayai serta mekanisme pengusulannya. Instrumen SBSN ini, yang dikenal dengan Project Financing Sukuk/Sukuk Proyek, digunakan untuk pembiayaan proyek infrastruktur secara earmarked.

Sukuk Proyek berperan memberikan manfaat dalam pembiayaan pembangunan nasional yang strategis secara lebih mandiri, dan mengoptimalkan pemanfaatan dana pembiayaan untuk belanja modal/investasi yang lebih produkti. Dengan instrumen yang ditawarkan utamanya kepada investor dalam negeri, ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam membiayai pembangunan proyek pemerintah.

Menurut Agus, potensi dan kinerja Sukuk Proyek yang semakin baik ditunjukkan dengan jumlah proyek semakin besar (ratusan proyek) setiap tahunnya dan tersebar di 34 provinsi. Jumlah dan cakupan proyek setiap tahunnya juga terus berkembang. Tercatat pada tahun 2018 terdapat 587 proyek di 9 Sektor dan akan meningkat lagi di tahun 2019 sebanyak 619 proyek di 14 Sektor.

Sektor-sektor proyek yang dibiayai antara lain meliputi perkeretaapian, jalan & jembatan, infrastruktur sumber daya air, asrama haji, gedung perguruan tinggi negeri, balai nikah dan manasik haji, madrasah, infrastruktrur lingkungan hidup & kehutanan, dan laboratorium.

Selain itu, lanjut Agus, Sukuk Proyek juga telah membiayai proyek strategis nasional, antara lain infrastruktur perkeretaapian Trans Sulawesi & double track selatan Jawa, serta membantu penerapan inovasi rekayasa teknologi karya anak bangsa yang mendapat pengakuan dunia, seperti yang sudah dilakukan pada  proses pengerjaan Tunnel Kereta Api yang pertama sejak zaman Belanda di Banyumas.

Inisiatif-inisatif positif juga terus dikembangkan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan proyek SBSN. Penggunaan desain berulang untuk proyek dengan jumlah banyak dengan tipe konstruksi yang sejenis, mengkombinasikan sumber pendanaan untuk tender Pra-DIPA, sebagai misal kontrak perencanaan dengan sumber dana lain di tahun anggaran sebelumnya, merumuskan dokumen tender yang  tepat dengan pendampingan LKPP, memanfaatkan  teknologi untuk percepatan Proyek yang didukung audit kualitas proyek serta mengembangkan skema kombinasi sumber Pembiayaan (blended financing), melalui koordinasi pemanfaatan sumber dana lain misal dengan Pinjaman / KPBU, demikian ungkap Agus.

More Stories
Generali Catat Pertumbuhan Laba Signifikan di 2018