Peneliti Institute for Development of Economics and Finance ( INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara

Perang Likuiditas dengan Perbankan

Loan to Deposit Rasio (LDR) 90 persen, bukan berarti kinerja perbankan sangat bagus.Tapi menunjukkan likuiditas sudah sangat hebat.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance ( INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara menyebutkan,  sepanjang tahun 2016 ini adalah masa paceklik bagi industri perbankan. Terlihat pada Agustus 2015, pertumbuhan dana pihak ketika (DPK) masih diatas pertumbuhan kredit.

Demikian pula Agustus 2016, kondisinya DPK terus menunjukkan  penurun drastis dibawah pertumbuhan kredit. “Dalam jangka waktu  2-3 tahun kedepan jika kondisi ini terus terjadi, maka sektor usaha akan mendapatkan likuiditas dari mana?Karena dana-dana di perbankan yang diperoleh dari simpanan itu kondisinya semakin menipis di pasar,” ujar Bhima dalam diskusi akhir tahun INDEF bertajuk “Perkembangan Ekonomi Sepanjang 2016”, di Jakarta, Kamis (29/12).

Menurut Bhima, ada beberapa faktor menipis dana di pasar yakni pada November dan Desember 2016, perusahaan banyak yang membayar pajak dengan mengambil dari dana simpanan di bank.Selain itu, pada natal dan akhir tahun ini, banyak nasabah yang menarik dana dari perbankan.

Namun, tegas Bhima,  yang INDEF kritisi paling signifikan adalah tax amnesty atau pengampunan pajak. Kenapa tax amnesty? Karena lanjut dia,  terlihat banyak sekali nasabah membayar tax amnesty dari hampir seluruh bank yakni Bank BUKU 1, BUKU 2, dan BUKU 3 dan  4.

Yang menjadi  problem ungkap Bhima adalah  ketika semua uang itu ditarik untuk membayar tebusan. Faktanya tidak semua bank itu dipilih untuk jadi bank persepsi, hanya bank BUKU 3 dan BUKU 4, yang punya modal besar. Kondisi inilah yang membahayakan, terutama bank BUKU 1 dan 2 likuiditasnya sangat ketat.Dana repatriasi  yang diharapkan masuk ke Indonesia ternyata  sampai hari ini tidak semunya terealisasi. Karena faktanya dana repatriasi yang tersimpan di luar negeri tidak hanya cash.

“Cash  dibawah 30 persen sisanya adalah properti dan kendaraan. Artinya, butuh waktu lama untuk menjual sebelum di repatriasi ke Indonesia. Nah, inilah salah satu faktor perang likuiditas dengan perbankan  berlanjut,” tegas Bhima.

Faktor berikutnya, kata Bhima, adalah  Loan to Deposit Rasio (LDR). LDR ini antara 90-92 persen, tapi bukan berarti dana simpanan ini digunakan sepenuhnya untuk penyaluran kredit.

“Ini bukan kabar gembira, 90 persen ini bukan berarti kinerja perbankan sangat bagus di tahun 2016. Tapi ini jadi catatan bahwa menunjukkan likuiditas sudah sangat hebat,” pungkasnya.

More Stories
BNI Syariah Donasi Korban Kebakaran Ancol