Potensi Wakaf Tunai Perlu Diimbangi dengan Sosialisasi

Dari program pengabdian masyarakat di Universitas Indonesia, terlihat besarnya potensi wakaf tunai di Kota Depok. Namun, masyarakat masih susah untuk berwakaf tunai.

Pengajar Universitas Indonesia, Dr. Dodik Siswantoro menemukan masih sulitnya masyarakat ketika mau memberikan harta untuk wakaf. “Masalah yang menjadi perhatian adalah sosialisasi wakaf tunai itu sendiri sehingga masyarakat juga susah ketika mau memberikan harta untuk wakaf. Perlu ada mekanisme yang memudahkan dalam pemberian wakaf sehingga perlu pemasaran yang agresif”, kata Dodik yang juga pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI).

Padahal, potensi wakaf tunai baik di tingkat kota Depok maupun Nasional, sejatinya besar. Mengutip catatan Badan Wakaf Indonesia (BWI), Dodik memaparkan bahwa ada 192 lembaga wakaf tunai di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut, mestinya diimbangi dengan jumlah aset wakaf dan hasil investasi yang besar. Namun demikian, hal yang terjadi adalah belum ada dampak yang signifikan dari keberadaan lembaga wakaf uang atau tunai yang banyak ini.

Beranjak dari situ, diadakan Program Pengabdian Masyarakat (Pengmas) dengan topik “Akuntansi dan Manajemen Investasi Lembaga Wakaf Tunai di Kota Depok dan Sekitarnya”. Program didanai oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Universitas Indonesia (UI) tahun 2018.

Dari antara temuan yang menarik itu adalah, penggunaan media sosial harus menjadi perhatian lembaga wakaf karena dampaknya cukup besar dan menjangkau ke segala aspek. Dalam hal ini diperlukan sumber daya yang khusus dan andal untuk memperbarui berita seperti Facebook, twitter, Instagram, dan Youtube. Masyarakat juga perlu mendapat informasi mengenai kemudahan dalam berwakaf dan mendapat pelaporan, baik berupa keuangan dan aktivitas lembaga wakaf tunai.

Di program ini, Dr. Dodik Siswantoro berperan sebagai narasumber akuntabilitas dan Dr. Umanto sebagai narasumber manajemen investasi lembaga wakaf tunai.

Akuntansi Wakaf
Dalam program ini juga dilakukan pembahasan mengenai Eksposure Draft (ED) 112 Akuntansi Wakaf. Beberapa hal yang mendapat perhatian adalah masalah pelaporan nazhir dan penggabungan laporan keuangan dengan lembaga yang menaungi di atasnya. Hal ini juga terkait dengan laporan konsolidasi yang menjadi perhatian apa perlu digabung atau tidak karena hal ini terkait dengan hukum secara umum yang berlaku mengenai kepemilikan atau unit bagian nazhir.

Isu lain yang menarik adalah wakaf sementara yang dikategorikan sebagai utang sedangkan di akuntansi nirlaba masuk sebagai dana ekuitas sebagai terikat sementara. Untuk pengukuran, diperlukan pengukuran lain untuk aset selain uang karena mempunyai karakteristik yang berbeda dan spesifik.

Jika Standar Akuntansi Wakaf ini selesai dan diterbitkan, Indonesia menjadi negara pertama yang mempunyai standar Akuntansi Wakaf. Momentum ini harus digunakan untuk meningkatkan akuntabilitas dan pelaporan lembaga wakaf sehingga masyarakat pun menjadi tertarik dan ikut serta dalam program wakaf ini.

Akuntabilitas Lembaga Wakaf Tunai
Sosialisasi juga dinilai akan lebih efektif jika akuntabilitas lembaga wakaf tunai dalam kondisi baik. Selama program, didapatkan, lembaga wakaf tunai terkesan kurang memperhatikan akuntabilitas. Kurangnya sumber daya yang andal untuk membuat pelaporan keuangan lembaga wakaf tunai menjadi salah satu kendala yang penting. Pelaporan yang massif atas kegiatan dan keuangan sehingga masyarakat tertarik dan merasa perlu ikut berpartisipasi dalam program wakaf.

Program diadakan dalam dua tahapan, Lokakarya pada 28 Juni 2018 dan Pendampingan 17-18 juli 2018 ini. Tahapan program ini dimulai dari pendataan ulang lembaga wakaf tunai, workshop, pendampingan dan Focus Group Discussion (FGD). Adapun keluaran dari program ini adalah buku pedoman akuntabilitas dan manajemen investasi lembaga wakaf tunai, video kegiatan dengan hak cipta dan sosialisasi di media massa.

Dalam hal ini, tujuan program pengabdian masyarakat ini dapat membeikan pedoman teknis yang membantu lembaga wakaf tunai agar lebih baik dalam akuntabilitas dan manajemen investasi sehingga berkembang memberikan solusi masalah sosial.

Lembaga wakaf tunai merupakan lembaga yang mempunyai potensi besar dalam pengembangan ekonomi dan pengentasan masalah sosial di masyarakat. Di berbagai negara, lembaga wakaf dapat memberikan kontribusi yang besar dalam kegiatan sosial di masyarakat, misalnya di Singapura. Lembaga wakaf di Singapura yang disebut dengan Warees Investments Pte. Ltd mempunyai aset yang cukup besar hingga Rp6,5 triliun pada tahun 2014.

Aset wakaf terdiri dari mall, hotel, apartemen, rumah toko dan properti lainnya. Dari hasil investasi tersebut dapat digunakan untuk membiayai sekolah, masjid dan kegiatan sosial lainnya. Tidak semua dana yang dihasilkan untuk kegiatan, sisanya diputar untuk diinvestasikan kembali. Di sana pelaporan dana wakaf dilaporkan oleh Majelis Ugama Islam Singapore (MUIS) dan manajemen investasi ditangani secara andal oleh profesional.

Berangkat dari kisah sukses di Singapura dan negara lainnya seperti Qatar, maka perlu dibuat program Pengabdian masyarakat (Pengmas) dengan topik akuntansi dan manajemen investasi lembaga wakaf tunai di kota Depok dan sekitarnya. Menurut catatan Badan Wakaf Indonesia, saat ini terdapat 192 lembaga wakaf uang atau tunai. Jumlah lembaga yang banyak ini seharusnya didukung juga dengan jumlah aset wakaf dan hasil investasi yang besar. Namun demikian, hal yang terjadi adalah belum ada dampak yang signifikan dari keberadaan lembaga wakaf uang atau tunai yang banyak ini. Nah, di sinilah tujuan dilakukan program ini yang fokus pada lembaga wakaf tunai di kota Depok dan sekitarnya agar lebih fokus.

More Stories
Ketua Tim Hukum BPN Bambang Widjojanto menyerahkan berkas pendaftaran gugatan perselisihan hasil Pemilu 2019 ke Panitera MK. Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Jokowi-Maruf Amin Dinilai Abuse of Power dalam Pemilu 2019