Proses Seleksi Karyawan Secara Syariah, Bagaimana Caranya?

Caranya berbeda. Hal ini didapat dari soft launching buku HRD Syariah edisi terbaru.

Apa bedanya perekrutan karyawan baru secara syariah dan konvensional? Di system konvensional, jika kita melamar pekerjaan hanya perlu mengirim surat lamaran, daftar riwayat hidup, dan beberapa dokumen lain, seperti fotokopi ijazah. Jika kita berhasil masuk tahapan berikutnya dalam perekrutan tersebut, kita biasanya dipanggil untuk diwawancarai atau psikotest.

Nah, di system perekrutan secara syariah, tidak cukup dengan wawancara dan psikotest, juga ada proses assemen yang jauh berbeda. Apa itu? Perekrut bisa saja mencari rekomendasi kepada Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid tempat si pelamar berdomisili. Kepada Ketua DKM setempat, perekrut akan meminta keterangan, apakah si pelamar rajin shalat berjamaah di masjid tersebut?

Tidak hanya kepada Ketua DKM, perekrut juga bisa meminta rekomendasi ke Ketua Rukun Tetangga (RT). Kepada Ketua RT, bisa ditanyakan bagaimana keseharian si pelamar di lingkungannya, dan sebagainya? Inilah yang disebut sebagai rekomendasi syariah.

Menurut buku HRD Syariah, Teori dan Implementasi (Gramedia Pustaka Utama: 2020), proses seleksi karyawan baru seperti ini adalah rekomendasi syariah. Rekomendasi syariah adalah suatu cara yang dilakukan untuk mendapatkan penilaian atas diri pelamar dari orang-orang yang kompeten dalam bisang syariah (halaman 259).

Rekomendasi harus diberikan secara tertulis perihal: (1) akhklak yang bersangkutan; (2) aktivitas sosial dan keagamaan sehari-hari; (3) penilaian terhadap kepribadian yang bersangkutan dan lain-lain.

Rekomendasi syariah bertujuan untuk memperkuat rangkaian tes syariah yang telah dilakukan sebelumnya. Rekomendasi syariah dapat dilakukan oleh ustaz, ulama, kyai atau tokoh masyarakat di sekitar rumah atau lingkungan tempat tinggal pelamar atau kandidat karyawan (halaman 260).

Apakah si pelamar rajin shalat berjamaah di masjid tersebut? Click To Tweet

HRD Syariah Edisi Kedua
Buku HRD Syariah edisi kedua ini ditulis oleh beberapa  praktisi dan akademisi yaitu: Ir. Agus Siswanto, M.E.I, Ir. Muhammad Fahri Farid, M. M, Dr. Abdurrahman Misno BP, M.E.I, Dr. Arijulmanan, M.H.I, Achmad Syarif K dan Abu Fahmi. Soft Lauching Buku HRD Syariah edisi dua ini membedah secara khusus secara teori dan implementasi beserta studi kasus dan solusi terkait penerapan human resources (HR) Syariah. Menariknya peserta diskusi yang hadir tidak semuanya berasal dari industri syariah.

Acara diadakan di WeWork Gama Tower, Kuningan Jakarta pada Kamis (30/1) dan diorganisasi oleh Muhammad Consulting, konsultan bisnis syariah di Jakarta. Acara dihadiri oleh para manajer HRD dan non HRD dari berbagai perusahaan. Di antaranya bank syariah, asuransi syariah, koperasi syariah, lembaga amil zakat, perusahaan teknologi, dan badan pemerintah.

Beragamnya peserta yang hadir adalah untuk menunjukkan bahwa HRD Syariah bersifat universal. Tidak hanya untuk organisasi bisnis berbasis syariah, juga organisasi bisnis dan non bisnis konvensional.

Buku ini terbit untuk membantu perusahaan menghadapi era Revolusi Industri 4.0 dan 5.0 Click To Tweet

Buku ini terbit untuk membantu perusahaan menghadapi era Revolusi Industri 4.0 dan 5.0  perusahaan-perusahaan syariah harus mampu membekali SDM nya dengan hard skill, soft skill dan brain skill yang dibutuhkan oleh setiap masing masing perusahaan. Namun dalam konsep SDM syariah selain tiga keahlian tersebut wajib dimiliki oleh setiap karyawan juga harus dilengkapi dengan keyakinan mendalam terhadap syariah itu sendiri, sikap amanah dan profesional dalam menjalankan setiap aktivitas perusahaannya.

More Stories
Muncul RUU BPIP, Apa Respon Rakyat?