Ramadhan: Apa Hubungannya Ketaqwaan dan Kedermawanan?

Oleh: Nurizal Ismail (Direktur Pusat Studi  Kitab Klasik Islam, STEI Tazkia & Peneliti ISEFID)

Ramadhan telah memasuki hari yang ke 15, yang berarti kita telah melewati fase pertama di bulan Ramadhan yaitu keberkahan berdasarkan hadist yang diriwayatkan Hadist Riwayat Abu Hurairah radhiallohu’anhu , ia berkata bahwa “awal bulan Ramadhan adalah rahmah, pertengahannya magfirah, dan akhirnya ‘itqun min annari (pembebasan dari api neraka).”

Masih ada dua fase lagi yang harus dilalui agar mendapatkan hasil ramadhan yang maksimal berupa ketaqwaan. Dalam judul di atas, penulis bertanya apa hubungan antara ketaqwaan dan kedermawanan? Dalam surat al-Layl, 5-7 Allah berfirman: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga). Maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” Dalam ayat ini jelas ada hikmah yang tersembunyi antara hubungan kedermawanan dan ketaqwaan.

Sebab turunnya ayat ini sangat berhubungan dengan ketaqwaan seseorang dengan sifat kedermawanan. Abu Hasan Ali bin Ahmad (1988) dalam kitabnya ‘Asbab Nuzulul Qur’an’ telah menjelaskan beberapa riwayat tentang turunnya Surat al-Layl yang semua isinya bercerita tentang taqwa dan kedermawanan.

Riwayat pertawa dikisahkan oleh Ikrimah dan Ibn Abbas dari Hakam bin Aban bahwa pernah ada seorang lelaki yang memiliki banyak pohon kurma, yang salah satunya bercabang keluar pagar masuk ke rumah seorang lelaki yang saleh, miskin, dan beranak banyak.

Namun pemilik pohon kurma tersebut sangat pelit dengan tidak membiarkan kurma-kurmanya dapat dimiliki oleh tetangganya bahkan ada seorang dari mereka telah memasukkan buah kurma itu ke dalam mulut-nya, maka lelaki itu memasukkan jari tangannya ke mulut anak tersebut dan mencabut buah kurma yang hampir ditelannya dari kerongkongannya.

Maka tetangganya datang kepada Rasulullah Saw dan melaporkan perlakuan tetangganya tersebut. Lalu Nabi Saw. menjumpai lelaki pemilik pohon kurma itu dan bersabda kepadanya: Berikanlah kepadaku pohon kurmamu yang cabangnya berada di pekarangan rumah si Fulan, maka engkau akan mendapatkan gantinya sebuah pohon kurma di surga nanti. Tawaran surga yang Rasulullah berikan tidak dipilihnya karena sifat pelit (bakhil) nya telah menguasainya.

Ketaqwaan seseorang berbanding lurus dengan sifat kedermawanan Click To Tweet

Selanjutnya, seorang yang dermawan menghadap Rasulullah Saw dan bertanya tentang janji surga bagi yang dapat memberikan pohon kurma tersebut dan beliau mengiyakan. Datanglah si dermawan kepada pemilik kurma untuk membelinya. Si pemilik kurma meminta 40 pohon kurma untuk ditukarkan dengan 1 pohon yang disayanginya itu kepada si dermawan. Sebenarnya hal itu sangat lah berat, karena ketaqwaannya ia membelinya dan menyerahkannya ke Rasulullah saw.

Versi yang lain turunnya ayat berdasarkan kedermawan Abu Bakar al-Siddiq yang kisahkan oleh Abu Waddho bahwa Abu membeli Bilal dari Umayyah bin Khalaf dengan 1 burdah dan 10 uqiyah setara dengan 29,75 gram emas. Selanjutnya Abu Quhafa (ayahnya Abu Bakar al-Siddiq):”Hai anakku, kulihat engkau memerdekakan orang-orang yang lemah, maka sekiranya saja engkau memerdekakan laki-laki yang kuat, kelak mereka akan membantumu dan menjaga serta mempertahankan dirimu dari gangguan orang lain.” Maka Abu Bakar menjawab, “Wahai ayahku, sesungguhnya kulakukan ini hanya semata-mata karena mengharap pahala yang ada di sisi Allah.”

Dari beberapa versi kisah turunnya Surat al-Layl membuktikan bahwa ada hubungan signifikan antara taqwa dan kedermawan adalah positif yang artinya adalah semakin bertaqwa seseorang, maka ia semakin dermawan. Ketika taqwa telah hadir dalam hidup manusia, maka hitung-hitungkan dunia (keuntungan materi) menjadi pilihan kedua dibandingkan ganjaran pahala yang Allah Ta’ala. Karena itu taqwa adalah inti dari perilaku dalam ekonomi Islam yang salah satu turunannya adalah kedermawanan.

Taqwa adalah inti dari perilaku dalam ekonomi Islam Click To Tweet

Hasil kesejahteraan masyarakat dalam sejarah Islam dibuktikan dengan perilaku-perilaku sahabat yang dermawan seperti Abu Bakar al-Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Abdurrrahman bin ‘Auf dan lainnya.

Ramadhan adalah bulan yang tiap tahunnya kita laksanakan dan tujuannya menghasilkan orang-orang yang bertaqwa. Bulan ini juga sebagai sarana untuk melatih kita untuk menjadi orang-orang yang bertaqwa, maka optimalkan bulan yang penuh berkah ini. Selain aspek ibadah mahdhoh, ayo kita latih sifat kedermawanan kita di bulan Ramadhan yang mana pahalanya berlipat ganda. Contoh di Indonesia pilihan sarana kedermawanan sangat beragam seperti lembaga ziswaf dan lembaga kemanusiaan lainnya. Wallahu ‘alam bil sawab!

More Stories
Lelang Sukuk Negara Lagi, Pemerintah Himpun Rp 7,120 Triliun