sengketa agama di malaysia

Sengketa Kata ‘Allah’ di Malaysia

Majelis Agung (MA) Malaysia melarang tabloid Katolik, The Herald gunakan kata “Allah”. Rabu (21/1).

sengketa agama di malaysiaAlasannya, penggunaan kata ‘Allah’ oleh umat non-Muslim akan membingungkan umat Muslim. Lima hakim MA negeri Jiran yang dipimpin Tan Sri Abdull Hamid Embong secara bulat memutuskan menolak permohonan banding Gereja Katolik Maalaysia terkait penggunaan kata ‘Allah’ pada tabloid Katolik, The Herald. Putusan yang sekaligus mengakhiri sengketa hukum selama lima tahun tentang penggunaan kata ‘Allah’ di surat kabar berbasis agama tertentu.

Awalnya, pada 2007, Kementerian Dalam Negeri Malaysia melarang tabloid mingguan Katolik berbahasa Melayu, The Herald, menggunakan kata ‘Allah’ yang merujuk ‘Tuhan’. Pada 2009, Pengadilan Tinggi memutuskan umat Kristen dan Katolik berhak menggunakan kata “Allah” untuk merujuk ‘Tuhan’.

Ada umat yang tidak setuju, dilaporkan sejumlah kerusuhan terjadi terhadap rumah ibadat umat Nasrani seperti pembakaran dan vandalisme. Misalnya pada 27/01/2014, satu bom molotov meledak di salah satu gereja Katolik. Perdana Menteri (PM) Malaysia Najib Razak mengecam aksi kekerasan ini. Dari Bernama, “Kini waktunya untuk tetap tenang dan tidak bertindak gegabah dalam situasi apa pun karena akan merusak bangsa,” kata Najib Razak seperti diberitakan media Malaysia (28/1/2014).

Menyikapinya, pada 2013, Pengadilan Rendah Malaysia kembali mengubah putusan penggunaan kata “Allah” tersebut yang intinya melarang umat Kristen dan Katolik menggunakan kata ‘Allah’ untuk merujuk ‘Tuhan’. Putusan diperkuat pada 2014, Pengadilan Federal menegaskan bahwa pelarangan itu sudah benar.

“Jika kata ‘Allah’ hanya dimiliki oleh 1,6 miliar Muslim dunia, maka sebenarnya terjadi penurunan kekuatan kata ‘Allah’ sebagai Tuhan dari 7 miliar penduduk dunia”, Imam Shamsi Ali.

Namun begitu, keputusan ini hanya berlaku untuk tabloid The Herald. Sementara, untuk kegiatan keagamaan umat Kristen dan Katolik negeri tersebut, penggunaan kata “Allah” untuk merujuk ‘Tuhan’ masih diperbolehkan. Dari The Malaysian Insider, Pemimpin Redaksi The Herald, Pendeta Lawrence Andrew menyatakan kekecewaannya segera setelah keluar sidang di Kompleks Mahakamah Tinggi, Putrajaya. “Kata Allah, telah lama digunakan oleh kaum Kristen dan Katolik Malaysia yang berbahasa Bahasa Melayu. “Melayu telah menjadi bahasa resmi di berbagai gereja di Malaysia selama berabad-abad dan juga di buku-buku keagamaan Kristen dan Katolik. Dan, selama itu tidak pernah ada masalah, saya tidak pernah melihat ada potensi masalah dengan penggunaan kata “Allah” ini”, kata pendeta ini.

“Saya tak akan terkejut jika selanjutnya mereka akan (memberlakukan larangan lain) dan mengatakan ‘jangan menggunakan kata (Allah) itu dalam kebaktian-kebaktian kalian'”, tambah Lawrence Andrew.

Gereja Katolik menilai keputusan MA ini tidak bermaksud mengekang hak-hak minoritas terkait urusan peribadatannya. Uskup Agung Kuala Lumpur, Julian Leow, meskipun kecewa dengan keputusan tersebut namun tidak juga menolaknya karena sudah menjadi keputusan tertinggi di negeri Malaysia. “Saya yakin, keputusan ini hanya untuk The Herald dan bukan menjadi permulaan untuk mengekang hak minoritas untuk urusan keagamaannya sendiri. Kepada Tuhan kami terus berdoa dan percaya bahwa terdapat cahaya kepada kegelapan ini,” katanya sebagaimana dilansir The Malaysian Insider, Kamis (22/1).

Sementara, Imam Besar Mesjid Al-Hikmah, Astoria, New York, Amerika Serikat, Shamsi Ali menilai, kata ‘Allah’ sebaiknya tidak ekslusif hanya untuk umat Muslim. “Allah adalah Tuhan, dan Tuhan adalah Allah. Ini tidak membuat orang memiliki hak untuk menyetop orang lainnya menggunakan kata ‘Allah’ untuk menrujuk ‘Tuhan’.

“Jika kata ‘Allah’ hanya dimiliki oleh 1,6 miliar Muslim dunia, maka sebenarnya terjadi penurunan kekuatan kata ‘Allah’ sebagai Tuhan dari 7 miliar penduduk dunia,” kata Shamsi menambahkan.

More Stories
Asuransi Generali Bayarkan Klaim COVID-19 Rp 10,9 Milyar