Siapa Paling Pas Memiliki Bank Muamalat?

Muslim, jika umat Muslim merasa memilikinya. Meskipun, bisa juga bersama Non Muslim memiliki bank syariah pionir itu. Menggambarkan Islamyang rahmatan lil alamin.

Wacana kepemilikan Bank Muamalat Indonesia (BMI), terus menjadi topik yang menarik hingga kini. Setelah ada rencananya akan dibeli oleh Mina Padi Sekuritas, pionir bank syariah ini dikatakan akan dibeli oleh Konsorsium BUMN yang dipimpin oleh Bahana Sekuritas. Konsorsium ini  juga akan menggandeng Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) untuk masuk BMI.

Menurut Direktur Eksekutif Center for Islamic Studies for Finance, Economics, and Development (CISFED), Dr. Intan Syach Ichsan, wacana pembelian BMI oleh BPKH dengan menggunakan dana haji itu berisiko. Harusnya dana haji diinvestasikan pada instrumen yang tidak atau minim risiko. Usaha perbankan, menurutnya tetap saja mengandung risiko.

“Kalau menolong BMI menciptakan risiko bagi dana haji, saya sih tidak sepakat, kecuali tidak berisiko, tapi tapi bagi saya bmi sendiri memiliki risiko,” kata Ichsan. Iapun menambahkna, “Saya khawatir kalau membailout BMI hanya karena ini bank Muslim dan ada dana haji in milik Muslim, malah akan menciptakan permasalahan baru. Seharusnya siapapun yang masuk ke BMI sudah tahu risikonya. Ada saat bank itu beroperasi dia bisa untung ,dia bisa rugi”, kata Icshsan kepada MySharing, Jumat (19/1).

Haruskah Dimiliki 100% Muslim?
Sebagaimana diberitakan Kontan, 18 Januari lalu, ikhtiar Bahana-BPKH bahkan sudah mendapat lampu hijau DPR. Achmad Mustaqim, anggota Komisi VIII DPR menyatakan, rencana ini mencuat dan jadi salah satu poin rapat antara Komisi VIII DPR dengan BPKH yang membahas rencana strategis (renstra) badan pengelola dana haji itu, pertengahan Oktober 2017.

Rencana pembelian BMI oleh Mina Padi pada paruh akhir 2017, kontan membuat komunitas Muslim angkat bicara. Berkembang wacana, Muslim membeli BMI. Salah satu opini cukup panjang ditulis oleh Asih Subagyo, Ketua Ketua Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah menulis di situs resmi Hidayatullah pada Oktober 2017, mengajak umat Muslim untuk membeli BMI.

Asih menawarkan beberapa solusi yang bisa ditawarkan, dengan satu semangat untuk mengembalikan kepemilikan BMI ke pelukan umat Islam Indonesia. Di antaranya adalah pendanaan melalui Koperasi Syariah 212dan BPKH. Intinya, jangan sampai BMI jatuh ke tangan yang bukan perwakilan umat Muslim.

Waktu berdiri pada 1992, BMI memang dimiliki 100% oleh umat Muslim Indonesia, namun setelah 25 tahun sejak berdirinya BMI, komposisi kepemilikan saham saat ini, sekitar 65% lebih dimiliki oleh pemegang saham asing. Meskipun semuanya masih mewakili institusi Islam. Baik oleh Islamic Development Bank, Bank Boubyan, Atwill Holding Limited, National Bank of Kuwait dan lain sebagainya.

Dengan dimiliki oleh Muslim, diharapkan keberpihakannya untuk menyalurkan pembiayaan ke umat Muslim lebih tinggi.

Rahmatan lil Alamin
Menurut Dr. Intan Syach Ichsan, tidak ada jawaban tepat apakah harus Muslim atau bukan Muslim yang memiliki BMI. Karena, kalau dilihat sekarang pun, komposisi kepemilikan juga termasuk Non Muslim

Nah, jika umat Muslim merasa memiliki BMI, sudah seharusnya yang paling dulu turun untuk menyelamatkan BMI ketika bank itu terkena masalah misalnya. Kalaupun masalahnyatak terobati, tidka usah khawatir, akan memperburuk citra ekonomi syariahnya. “Karena BMI hanyalah institusi, sedangkan ekonomi syariah adalah sistem yang terbukti tangguh dan dapat diandalkan,” tegas Ichsan yang juga Chief Operation Officer di Samuel Asset Management ini.

Jika ada permasalahan yang dihadapi BMI, itu mestinya menjadi pembelajaran bagi keseluruhan, “Kalau kita merasa BMI harus diselamatkan, ya kita selamatkan bareng-bareng,” kata Ichsan. Ya salah satunya dengan menggalang dana bersama.

Dana haji untuk membeli Bank Muamalat dinilai berisiko! Click To Tweet

Mengenai kepemilikannya kemudian, menurutnya bisa saja Non Muslim ikut memiliki BMI. Mestinya, BMI ini dimiliki oleh siapa saja, jika merujuk pada Islam sebagai rahmatan lil alamin.

More Stories
Prinsip Asuransi Syariah Adalah Sistem Ekonomi Yang Paling Cocok Di Indonesia