Tazkia Berdayakan Petani Kurma

Memorandum of Understanding (MoU) STEI Tazkia dan koperasi petani kurma lembah Barbate, Aceh sebagai langkah kebangkitan ekonomi pertanian

Pada Rabu, 3 Juni 2018 telah diadakan Peluncuran Gerakan Wakaf Kurma seluas 340 Ha oleh Baitul Mal Barbate dengan tema “Menjaga dan Mengembangkan Wakaf Ummat” yang didukung oleh Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia sebagai pioner dalam pengembangan ekonomi Syariah di Indonesia. Apa yang telah dilakukan oleh baitul mal Barbate sangat berkaitan dengan apa yang akan digagas oleh STEI Tazkia dalam pengembangan konsentrasi ekonomi Syari’ah, sehingga terjadilah kesepakatan untuk melakukan kerjasama.

Memorandum of Understanding (MoU) yang telah dilakukan oleh Rektor STEI Tazkia, Dr. Murniati Mukhlisin M.ACC, selaku rektor dengan  koperasi Petani Kurma Lembah Barbate yang diwakili oleh bapak Azwar Muhammad meliputi pengembangan keilmuan pertanian dan perkebunan shariah.

Semangat menjaga dan mengembangkan lahan kosong nan tandus menjadi lahan yang bermanfaat untuk ummat perlu didorong oleh seluruh stakeholder.

Selain STEI Tazkia lembaga lain yang terlibat dalam pengembangan pertanian kurma ini adalaha ACT dan beberapa bank Syariah yang ada di Indonesia. Dari unsur pemerintah seperti Bank Indonesia cabang Aceh, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) cabang Aceh, dan perwakilan provinsi, kota dan kabupaten.

Dari siaran pers yang diterima MySharing, Jumat (6/7) Pada kesempatan yang sama, Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc mengatakan bahwa saat ini STEI Tazkia tengah menginisiasi konsentrasi ekonomi pertanian syariah. Dengan pehatian besar Tazkia terhadap pengembangan ekonomi pertanian syariah diharapkan dapat memberikan input yang bermanfaat nantinya dalam pengembangan sektor pertanian kurma yang tengah digagas oleh koperasi petani kurma Barbate.

Keutamaan Menanam Kurma
Apa yang menarik dengan Kurma? Ternyata tanaman jenis kurma mempunyai nilai manfaat tinggi, yaitu menghasilkan buah kurma yang bisa dipetik tiap lima tahun sekali dan menghasilkan oksigen yang bisa dihirup oleh manusia. Juga, menyejukkan bumi Aceh yang panas.

“Menanam pohon kurma juga dapat menyuburkan tanah yang mati”, kata Mahdi Muhammad, inisiator perkebunan kurma di Lembah Barbate dalam sambutannya pada acara gerakan wakaf 1.550 pohon kurma. Gerakan ini merujuk pada praktik Sahabat Utsman bin Affan ini akan memancing dan menggerakkan hati para anak bangsa yang cinta terhadap ummat serta mendorongnya dalam pengembangan menjadi wakaf produktif dimana manfaat yang lebih besar ke depannya untuk ummat Islam yang rahmatan lil alamiin.

Seperti dalam sebuah hadist nabi “Jika hari kiamat telah tegak sedang di tangan seorang di antara kalian terdapat bibit kurma: jika ia mampu untuk tidak berdiri sampai ia menanamnya, maka lakukanlah”. Hadits ini disampaikan oleh Ustadz Abdul Somad selaku pembina pertanian kurma ini dalam tausyiahnya di acara tersebut.

Prinsip dalam Wakaf
Beliau berpesan sebuah prinsip pokok dalam wakaf, bahwa pokoknya harus disimpan, lalu hasilnya disedekahkan. Konsep awal tentang wakaf ini terungkap dalam diskusi Rasulullah Saw, dengan sahabatnya Umar bin Khattab. Harta wakaf tidak boleh diwariskan, dihibahkan bahkan dijual menurutnya. Terakhir beliau mengatakan cerdas lah beramal. Nah, selalu satu cara cerdas beramal yaitu melalui wakaf kurma karena amalnya terus mengalir walaupun seorang tersebut sudah meninggal. Tetapi tetap amal-amal ibadah yang lain harus tetap dilaksanakan. Wallahu ‘alaam bissawab!

More Stories
BRI Syariah Luncurkan BRISPay di iB Vaganza Palembang